Iran Emosi Digempur dari Dalam: Luncurkan Drone-Dalangnya Terungkap

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Rezim Iran meluncurkan serangan udara menggunakan dua unit pesawat nirawak (drone) nan menyasar langsung pangkalan militer milik Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI) di sub-distrik Degala, Erbil, pada Rabu malam. Serangan udara garang ini menjadi rentetan tindakan militer Teheran nan sengit guna membombardir markas besar hingga kamp-kamp pengungsian faksi oposisi Kurdi di wilayah otonomi Irak.

Mengutip laporan Jerusalem Post, Kamis (02/07/2026), perwakilan KDPI mengonfirmasi bahwa kedua drone tempur tersebut meledak tepat di area pedoman pertahanan mereka. Beruntung, kejadian ledakan tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa lantaran tidak ada personel milisi Peshmerga nan tengah berjaga di letak sasaran pada saat serangan berlangsung.

Kendati demikian, di wilayah barat Iran, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan sukses membantai lima pejuang Kurdi dari faksi KDPI melalui sebuah operasi jebakan (ambush) dan kontak senjata nan pecah di area Ghezqapan, dekat kota Piranshahr.

"Serangan itu terjadi ketika Iran terus menargetkan markas besar dan kamp-kamp pengungsian partai-partai oposisi Kurdi Iran di Wilayah Kurdistan, apalagi setelah permusuhan dengan AS dan Israel mereda," tulis media lokal Rudaw mengenai eskalasi tersebut.

Langkah militer Teheran nan sengaja memperluas serangan ke pedoman KDPI ini dinilai sebagai strategi taktis untuk mencegah golongan berpatokan sentris-nasionalis tersebut ikut berasosiasi mengangkat senjata berbareng Partai Kehidupan Bebas Kurdistan (PJAK) nan telah terlibat bentoran dahsyat dengan IRGC selama beberapa hari terakhir.

PJAK sendiri diakui sebagai faksi bersenjata Kurdi berskala besar nan mempunyai kamp logistik tersembunyi di pedalaman rural nan sangat susah dilacak oleh intelijen Iran. Berdasarkan info resmi, wilayah Kurdistan tercatat telah dihantam oleh sedikitnya 865 rudal dan drone sejak akhir Februari lalu, di mana nyaris 20 drone di antaranya murni menyasar kamp pengungsi sipil Kurdi dalam satu bulan terakhir saja.

Kontroversi Rencana Gulingkan Rezim Teheran

Di sisi lain, meluasnya pertempuran di tanah Kurdi ini sekaligus membongkar arsip rahasia mengenai kegagalan rencana badan intelijen Israel (Mossad) nan sempat mau memanfaatkan kekuatan militer etnis Kurdi Iran dan Irak untuk melakukan kudeta alias pergantian rezim di Teheran. Rencana kudeta bersenjata tersebut dipastikan kandas total setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara absolut menggunakan kewenangan veto politiknya untuk mematikan operasi intelijen itu.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz nan berbincang dalam pengarahan berbareng wartawan militer pada hari Senin menunjukkan sikap skeptis dan enggan memberikan support terbuka terhadap draf rencana tersebut, berbeda dengan para petinggi Mossad nan meyakini operasi pelumpuhan Iran itu bisa saja sukses besar umpama tidak dijegal oleh veto Trump.

"Sesuai rancangan arsip operasi, pihak Israel sejatinya sudah berkomitmen penuh untuk menyediakan area larangan terbang (no-fly zone) bagi golongan Kurdi, serta menjanjikan payung perlindungan tembakan udara (aerial firepower envelope) nan kontinu guna menghalau pergerakan infantri militer Iran," ujar Jerusalem Post mengutip arsip rencana penggulingan itu.

Bahkan, pasukan milisi Kurdi dilaporkan telah selesai menerima pasokan persenjataan canggih hasil rampasan militer IDF dari tangan Hamas di Gaza serta Hezbollah di Lebanon, komplit dengan program training taktis komando nan diberikan langsung oleh pembimbing militer Israel.

Hingga saat ini, perdebatan politik tetap terus bergulir mengenai siapa tokoh utama nan sukses menghasut Trump untuk menolak operasi berdarah tersebut, di mana beberapa pihak menuduh keterlibatan intervensi dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Sementara itu, laporan lain menyebut Direktur CIA John Ratcliffe sempat menyatakan penolakan keras meski lembaga CIA kedapatan sempat ikut memasok senjata kepada faksi Kurdi, di mana pertempuran sengit dilaporkan tetap terus berkecamuk dahsyat di wilayah Sardasht dan Piranshahr mempertemukan Pasukan Hamza Sayyid Al Shuhada milik IRGC melawan para gerilyawan Kurdi.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya