Iran Hadapi Tekanan AS, Pezeshkian Klaim Rakyat Tetap Solid

1 jam yang lalu 3
Iran Hadapi Tekanan AS, Pezeshkian Klaim Rakyat Tetap Solid Rakyat Iran.(AFP)

PRESIDEN Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya sekarang menghadapi perang skala penuh nan mencakup bagian ekonomi, militer, dan keamanan. Ia mengatakan pemerintah Iran tengah berupaya mengatasi beragam tekanan nan muncul akibat bentrok tersebut.

"Kita sedang berada dalam perang ekonomi, militer, dan keamanan skala penuh," kata Pezeshkian dalam pidato nan disiarkan televisi oleh instansi buletin pemerintah Iran, IRNA, pada Minggu (23/8).

Pezeshkian mengakui pemerintah merasa malu lantaran tetap terdapat beragam persoalan dalam perekonomian Iran. Namun, dia menegaskan Teheran tetap berupaya memenuhi kebutuhan rakyat di tengah tekanan nan dihadapi.

"(Presiden AS) Trump dengan mudah mengatakan bahwa mereka bakal menjatuhkan hukuman nan paling berat alias paling mengerikan terhadap Iran," sebut Pezeshkian.

Ia menambahkan bahwa Teheran berdiri teguh dan terus berupaya melayani masyarakat Iran di tengah apa nan disebutnya sebagai perang nan tidak seimbang. Pezeshkian juga menyinggung prediksi pihak-pihak nan memperkirakan Iran bakal mengalami kondisi serupa Venezuela jika pemerintahannya jatuh akibat tekanan dari musuh.

"Musuh telah memperkirakan bahwa jika Iran jatuh, dia bakal menjadi Venezuela. Bukan hanya itu tidak terjadi, tetapi Iran menjadi kekuatan nan membikin bumi kagum dengan perlawanan, solidaritas, dan kohesinya," tegas presiden.

Menurut Pezeshkian, pemerintah Iran sekarang berupaya mempertahankan persatuan nasional dan mencegah bentrok internal di tengah tekanan eksternal. "Teheran bekerja dengan segenap kekuatan kami untuk menghindari perpecahan, konflik, dan ego," lanjutnya.

Iran dan Amerika Serikat sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar.

Kesepakatan tersebut mengakhiri permusuhan nan dimulai pada Februari dan membuka jalan bagi kedua negara untuk melanjutkan perundingan menuju kesepakatan final. Namun, proses negosiasi kemudian terhenti akibat perselisihan mengenai penyelenggaraan nota kesepahaman tersebut.

Persoalan lain nan turut menghalang pembicaraan adalah pengaturan navigasi melalui Selat Hormuz, jalur strategis nan menjadi salah satu rute utama bagi ekspor minyak dan gas dunia. Ketegangan mengenai Selat Hormuz menjadi persoalan krusial lantaran jalur tersebut mempunyai peran besar dalam pengedaran daya global.

Perselisihan mengenai akses dan navigasi di area itu berpotensi berakibat lebih luas terhadap perdagangan serta pasokan daya internasional. Pernyataan Pezeshkian menunjukkan bahwa meski sebelumnya terdapat upaya diplomatik untuk mengakhiri permusuhan, Teheran tetap memandang dirinya berada di bawah tekanan besar dari Washington, baik melalui ancaman militer maupun kebijakan ekonomi dan sanksi. (Anadolu/Fer/P-3)

Selengkapnya