Israel Terang-terangan Mau Caplok 3 Negara Ini, Warning Keras Iran

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Israel resmi mengumumkan keputusan militer terbaru mereka. Mereka bakal mempertahankan pasukan tempurnya di wilayah pendudukan Gaza, Lebanon, dan Suriah secara permanen.

Kebijakan pendudukan tanpa pemisah waktu ini diklaim sebagai langkah krusial. Hal ini diperlukan demi mempertahankan garis perbatasan luar negara tersebut.

Mengutip laporan Russia Today, Kamis (2/07/2026), kebijakan ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Israel Israel Katz. Katz menegaskan tidak bakal ada penarikan mundur militer dari wilayah Lebanon selatan sebelum golongan milisi Hezbollah dilucuti sepenuhnya.

"Kebijakan kami untuk memihak perbatasan Negara Israel ... sudah jelas," tegas Menhan Israel Katz seperti dikutip dari Jerusalem Post. "IDF (Militer Israel) tidak bakal mundur dan bakal tetap berada di area keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza untuk jangka waktu nan tidak terbatas."

Katz juga melayangkan ancaman baru kepada pemerintah Iran. Ia menyebut bahwa Teheran bakal dihantam dengan serangan militer dari Negeri Yahudi itu jika mengambil manuver nan bertentangan dengan niatan Israel

"Kami bakal melakukan serangan dengan kekuatan penuh jika (Iran) nekat melakukan tindakan pembalasan militer," tuturnya.

Peringatan keras ini senada dengan janji Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu baru-baru ini. Ia menyatakan bahwa ambisi Israel untuk meraih kemenangan total atas Iran dan golongan sekutunya tidak bakal pernah berakhir.

Di sisi lain, Iran memasukkan poin krusial dalam diplomasi dunia mereka. Teheran menjadikan penghentian operasi militer Israel di Lebanon sebagai salah satu syarat utama dalam negosiasi tenteram dengan Amerika Serikat.

Pernyataan keras Katz ini muncul hanya berselang beberapa hari setelah pemerintah Lebanon mengambil langkah diplomasi. Beirut menandatangani perjanjian kerangka kerja nan didukung oleh Washington untuk mengakhiri pertempuran perbatasan.

Namun, kesepakatan tenteram tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh golongan Hizbullah. Pihak nan disokong Iran itu berdasar bahwa perjanjian itu hanya bakal memberikan kebebasan bagi Israel untuk beraksi di dalam wilayah Lebanon.

Penolakan dari golongan milisi tersebut langsung memicu gejolak domestik baru. Gelombang tindakan demonstrasi massa berskala besar spontan pecah di jalanan kota Beirut.

Israel sendiri tercatat mulai memperluas ofensif militernya di Lebanon sejak awal Maret lalu. Langkah ini diambil setelah Hezbollah menembakkan roket ke wilayah Israel selama perang antara AS-Israel melawan Iran berkecamuk.

Agresi militer tersebut telah memicu krisis kemanusiaan nan sangat hebat. Serangan udara Israel sejauh ini telah menewaskan nyaris 4.300 orang di Lebanon.

Selain korban jiwa, serangan tersebut juga menghancurkan kehidupan penduduk sipil. Sekitar satu juta orang sekarang terpaksa mengungsi menurut info Kementerian Kesehatan Lebanon dan PBB.

Dalam beberapa bulan terakhir, Pasukan Israel terus merangsek jauh ke wilayah selatan. Mereka mulai mendirikan apa nan disebut pejabat Israel sebagai area penyangga keamanan.

Berdasarkan laporan media setempat, pergerakan infanteri Israel di lapangan sangat masif. Hingga bulan Juni, pasukan Israel dilaporkan telah menguasai sekitar 2.000 kilometer persegi wilayah darat Lebanon. Luas wilayah nan sukses diduduki tersebut bukan nomor nan kecil. Jumlah itu setara dengan nyaris seperlima dari total luas wilayah negara Lebanon.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya