Institut Teknologi Bandung (ITB) menerima 8.945 mahasiswa baru pada Tahun Akademik 2026/2027.(Dok.ITB)
INSTITUT Teknologi Bandung (ITB) menerima 8.945 mahasiswa baru pada Tahun Akademik 2026/2027. Mahasiswa tersebut terdiri atas 5.468 mahasiswa program sarjana, 1.947 mahasiswa program magister, 563 mahasiswa program doktor, dan 967 mahasiswa program profesi.
Penerimaan mahasiswa baru tersebut diumumkan dalam Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB, Rabu (5/8).
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof. Dr. Irwan Meilano, mengatakan mahasiswa baru program sarjana berasal dari seluruh 38 provinsi di Indonesia. ITB juga menerima mahasiswa dari beragam program afirmasi untuk memperluas akses pendidikan tinggi.
"Mahasiswa baru program sarjana ITB tahun ini berasal dari seluruh 38 provinsi di Indonesia. Kami juga menerima 97 mahasiswa dari wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), 10 mahasiswa melalui program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik), serta 28 penerima Beasiswa Garuda," ujar Irwan.
Selain itu, kata Irwan, sebanyak 446 mahasiswa tercatat sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), dengan 198 mahasiswa berasal dari golongan desil 1 hingga 4.
ITB juga menerima mahasiswa asing pada jenjang sarjana maupun pascasarjana. Untuk program sarjana, mahasiswa internasional berasal dari 21 negara, di antaranya Amerika Serikat, China, India, Bangladesh, Pakistan, Nigeria, Kenya, Papua Nugini, Timor-Leste, Yaman, Afghanistan, Angola, Myanmar, Somalia, Sudan, Tanzania, Tajikistan, Sierra Leone, Malawi, Madagaskar, dan Sudan Selatan.
MAHASISWA ASING
Sementara itu, mahasiswa asing program pascasarjana berasal dari 20 negara, antara lain Singapura, Korea Selatan, Vietnam, Filipina, Mesir, Chile, Ghana, Zimbabwe, Kepulauan Solomon, serta sejumlah negara Asia dan Afrika lainnya. Sebagian dari mereka diterima melalui program Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang dan The Indonesian Aid Scholarship.
Irwan menjelaskan, berasas komposisi gender, mahasiswa laki-laki tetap mendominasi pada jenjang sarjana, magister, dan doktor. Pada program sarjana, mahasiswa laki-laki mencapai 57,7 persen, sedangkan wanita 42,3 persen. Komposisi serupa juga terlihat pada program magister dan doktor.
Rektor ITB Prof. Dr. Tatacipta Dirgantara mengucapkan selamat datang kepada seluruh mahasiswa baru nan berasal dari beragam daerah, budaya, dan latar belakang. Menurutnya, diterima di ITB merupakan awal perjalanan untuk mengembangkan keahlian akademik sekaligus membangun karakter.
"Saya membujuk mahasiswa baru untuk memikirkan perihal nan kelak dapat mereka tinggalkan setelah menyelesaikan pendidikan di ITB. Hal tersebut tidak sebatas piagam alias nilai akademik, tetapi dapat berupa gagasan, penemuan, karya, maupun pengabdian nan membikin kehidupan orang lain menjadi lebih baik," kata Tatacipta.
MELAHIRKAN TOKOH
Ia menambahkan, sejak berdiri sebagai Technische Hoogeschool te Bandoeng pada 1920, ITB tidak hanya bermaksud mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan tokoh nan bisa memberikan kontribusi nyata bagi bangsa. Semangat itu, menurutnya, tercermin dari perjalanan sejumlah alumni seperti Ir. Soekarno, Ir. Djuanda Kartawidjaja, Prof. Roosseno Soerjohadikoesoemo, Prof. Iskandar Alisyahbana, Prof. Subagyo, dan Nyoman Nuarta.
"Saya juga membujuk mahasiswa baru untuk berani belajar, bertanya, mencoba, menghadapi kegagalan, dan bermimpi besar. Setiap sejarah besar selalu diawali oleh seseorang nan memutuskan bahwa hidupnya kudu berfaedah bagi orang lain sepanjang zaman," ujarnya.
Sidang terbuka penerimaan mahasiswa baru juga diisi orasi ilmiah dari pengajar Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB Muhammad Yorga Permana berjudul Teknologi Berganti, Manusia Harus Terus Bertumbuh serta pengajar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB Dr. Eng. Kamarisima nan membawakan orasi berjudul Fermentasi Kakao: Rahasia di Balik Kenikmatan Cokelat. (E-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·