Jakarta Akan Punya 'Kota' Bawah Tanah Sedalam 18 Meter, Ini Lokasinya

2 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Pembangunan terowongan bawah tanah di pusat Jakarta bukan pekerjaan mudah. Proyek Extended Concourse alias ruang multi kegunaan di area Bundaran Hotel Indonesia (HI) kudu berhadapan dengan beragam utilitas nan berada di bawah tanah, termasuk kabel nan posisinya tidak sesuai dengan gambar teknis. Apalagi kedalaman untuk mengebor bagian perut bumi tengah kota Jakarta ini mencapai belasan meter.

"18 meter di bawah grade ya. Posisinya ada di atas platform kereta. Jadi ini posisinya ada di tengah. Dari permukaan atas posisinya 18 meter ke bawah, mamun ada di atas rel keretanya MRT saat ini," kata Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta Ferdiansyah Roestam kepada CNBC Indonesia dikutip Selasa (25/8/2026).

Proyek senilai Rp200 miliar dan bakal ditargetkan selesai tahun depan itu mempunyai tantangan terbesar, ialah tidak adanya proyek sejenis nan bisa dijadikan preseden. Di sisi lain, kondisi utilitas bawah tanah di lapangan juga berbeda dengan as-built drawing.

As-built drawing merupakan gambar nan menunjukkan kondisi aktual alias posisi utilitas nan semestinya berada di dalam tanah. Namun, saat proses bangunan dilakukan, tim justru menemukan kondisi nan berbeda.

"Kemudian kita ketemu deviasi terhadap as-built drawing. Ini bahasa agak teknis. As-built drawing itu adalah utilitas, kabel, dan lain-lain sebetulnya di tanahnya ya," kata Ferdiansyah.

Perbedaan posisi tersebut membikin tim proyek kudu ekstra hati-hati ketika melakukan pengeboran dan pekerjaan bangunan di bawah permukaan tanah.

"Kemudian kita drill, kita buka, hopefully satu meter rupanya 30 cm-40 senti ada kabel. Lumayan puter otak kita secara engineering gitu ya," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, pekerjaan tidak bisa hanya mengandalkan gambar teknis nan tersedia. Tim bangunan kudu menyesuaikan pekerjaan berasas kondisi aktual nan ditemukan di lapangan agar tidak mengganggu jaringan utilitas nan telah ada. Kondisi itu menjadi salah satu tantangan terbesar dalam mewujudkan Extended Concourse. Apalagi proyek berada di area pusat Jakarta nan mempunyai tingkat aktivitas sangat tinggi.

"Jadi sebagai kuli proyek, saya kuli proyeknya sebetulnya dengan teman-teman di TJ gitu ya. Kita ketemu tantangan nan luar biasa," katanya.

Suasana aktivitas pekerja saat pengerjaan proyek MRT Fase 2A di Jakarta, Rabu (22/7/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)Suasana aktivitas pekerja saat pengerjaan proyek MRT Fase 2A di Jakarta, Rabu (22/7/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) Foto: Suasana aktivitas pekerja saat pengerjaan proyek MRT Fase 2A di Jakarta, Rabu (22/7/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)

Menurutnya, tantangan pertama apalagi sudah muncul sejak tahap perencanaan. Extended Concourse disebut belum mempunyai preseden proyek sejenis nan bisa dijadikan referensi secara langsung.

"Salah satu tantangan nan paling berat adalah there's no evidence proyek sebelumnya sejenis," kata Ferdiansyah.

Selain berhadapan dengan kondisi bawah tanah, pembangunan juga kudu tetap menjaga mobilitas masyarakat di sekitar Bundaran HI. Area kerja bangunan berada di tengah area nan dikelilingi gedung, pusat bisnis, jalan raya, serta beragam aktivitas masyarakat. Karena itu, koordinasi dilakukan dengan beragam pihak, mulai dari manajemen bangunan dan kontraktor hingga kelurahan serta kecamatan di sekitar proyek.

"Dan kita kudu menyeimbangkan itu agar tidak ada tantangan-tantangan di lapangan gitu. Sampai sejauh ini syukur alhamdulillah koordinasinya melangkah dengan baik tapi saya kudu akui masif sekali lantaran di area ini banyak sekali nan kudu kita jaga komunikasinya," ujarnya.

Ferdiansyah mengatakan tantangan tersebut kudu dihadapi agar proyek bisa betul-betul terwujud. Menurut dia, konsentrasi utama tim saat ini adalah membikin konsep konektivitas bawah tanah tersebut menjadi prasarana nan bisa digunakan masyarakat.

"Memang nan paling berat adalah mewujudkan ini, make it happen jadi peralatan dulu gitu ya," katanya.

(fys/wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya