Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)
SPANYOL telah mengukuhkan diri untuk menjadi juara bumi kedua kalinya. Gaya permainan tiki-taka para pemain muda 'La Furia Roja' membikin mahabintang sekelas Lionel Messi pun tidak bisa membendung mereka. Messi pun kudu melepas gelar juara dengan air mata.
Kesuksesan nan diraih Spanyol bukanlah sebuah perjalanan nan mudah. Itu buah konsistensi untuk menanamkan kolektivitas sebuah permainan sepak bola.
Tiki-taka nan mengalir dari kaki ke kaki merupakan keseharian dari latihan nan dilakukan pesepak bola Spanyol. Sejak usia 8 tahun hingga 23 tahun para pemain diajarkan gimana semestinya permainan sepak bola style Spanyol itu dijalankan. Tidak sekadar memainkan pola 4-3-3, tetapi gimana langkah bergerak dan ke mana lari kudu mengarah baik ketika berbareng bola maupun tanpa bola.
Secara telaten semua pembimbing di Spanyol mengajarkan kepada para pemain di semua tingkatan untuk tahu apa nan kudu dilakukan ketika kehilangan bola. Bagaimana secepat mungkin merebut bola agar kendali permainan bisa dipertahankan.
Practice makes perfect. Latihan rutin nan dilakukan secara terus-menerus membikin para pemain sepak bola Spanyol menjadi master dalam memanfaatkan ruang dan waktu. Semua itu dipadukan dengan keelokan sehingga lezat untuk ditonton.
Kesabaran mereka untuk membongkar pertahanan musuh layak dikagumi. Bahkan ketika 90 menit pertandingan berlalu, tim didikan Luis de la Fuente tetap konsisten dengan kebersamaan membongkar pertahanan lawan. Mereka tidak takut kehabisan waktu dan terus berupaya untuk menjebol gawang lawan.
Filosofi untuk selama mungkin menguasai bola dan jangan biarkan musuh mengendalikan permainan membikin ancaman ke gawang Spanyol menjadi kecil. Bayangkan, tim sekelas Argentina, nan tiga kali menjadi juara dunia, tidak bisa sekali pun menakut-nakuti gawang Unai Simon sepanjang 120 menit pertandingan.
Spanyol tidak sekadar menjadi juara dunia. Mereka tidak terkalahkan sepanjang kejuaraan dan paling sedikit kebobolan. Dari delapan pertandingan Piala Dunia 2026, Rodrigo Hernandez dan kawan-kawan hanya kebobolan satu kali.
TIDAK BISA DICONTOH
Gaya permainan nan diperlihatkan Spanyol tidak bisa ditiru negara lain. Itu bukan sekadar sebuah permainan. Itu sebuah kultur nan dibangun dan kemudian menjadi karakter Spanyol. Kunci utamanya adalah kolektivitas bermain.
Kapten Jerman di Piala Dunia 2014, Philipp Lahm, dalam artikelnya di The Guardian secara tegas menyebut itu. Jerman nan kandas total di tiga Piala Dunia terakhir tidak bisa meniru style Spanyol jika mau membangun kembali kebesaran mereka nan sudah 12 tahun terpuruk.
Karena sepak bola berangkaian dengan kultur dan karakter bangsanya, Jerman pun kudu berbasis kepada itu. Karakter Jerman nan membikin mereka bisa empat kaki juara bumi adalah mentalitas Turniermannschaft.
SebagaiI tim turnamen, Jerman selalu telaten mempersiapkan diri menjelang kejuaraan. Fisik pemain betul-betul ditempa untuk bisa bermain secara konsisten selama 90 menit. Dengan kondisi bentuk nan tangguh, para pemain selalu jeli saat bermain dengan bola, termasuk saat melakukan tendangan penalti.
Pilihan pemain untuk menjadi 'Die Mannschaft' dilakukan secara saksama dan posisi pemain terpilih di dalam klub sama ketika dia tampil untuk tim nasional. Formasi terbaik sudah terbentuk sebelum kejuaraan dimulai dan dimatangkan ketika Piala Dunia bergulir.
Semua kebiasaan itu dilanggar pembimbing Julian Nagelsmann. Ia selalu mengubah susunan tim setiap kali tampil. Penempatan pemain juga tidak sesuai dengan kebiasaan nan dilakukan di klub. Kapten kesebelasan Joshua Kimmich nan biasa bermain sebagai gelandang di Bayern Muenchen, misalnya, digeser menjadi bek kanan di tim nasional.
Akibatnya Jerman kehilangan karakter mereka, karakter untuk membangun serangan dari bawah dengan memainkan tempo nan baru meningkat ketika memandang kesempatan terbuka untuk bisa ditembus.
Apabila di Piala Dunia 1954 ada Firtz Walter, Piala Dunia 1974 ada Franz Beckenbauer, Piala Dunia 1990 ada Lothar Matthaeus, dan Piala Dunia 2014 ada Bastian Schweinsteiger, kali ini Jerman tidak mempunyai jenderal lapangan nan disegani. Kekuatan serangan sayap seperti Juergen Grabowski, Pierre Littbarski, alias Mesut Oezil, juga tidak tampak di Piala Dunia 2026.
Lerroy Sane lebih seperti penari balet daripada pemain sepak bola. Ia terlalu lembut dalam bermain dan tidak menunjukkan karakter 'panser' nan menjadi karakter pemain Jerman.
KARAKTER INDONESIA
Kalau sepak bola tidak bisa dipisahkan dari akar bangsanya, menjadi pertanyaan apa karakter sepak bola Indonesia? Di sinilah tantangan nan sebenarnya kudu digali pengurus PSSI.
Tidak bisa kita ikut-ikutan style dari negara nan menjadi juara dunia. Apalagi kita tidak telaten untuk melakukan pembinaan sejak usia dini. Kita lebih suka memilih jalan pintas.
Tony Pogacnik dan Wiel Coerver merupakan dua pembimbing nan pernah membangun sepak bola dari akar budaya Indonesia. Ia jalan ke banyak wilayah untuk menemukan talenta-talenta sepak bola dan mengasahnya.
Dari ketelatenan dua pembimbing besar Indonesia itu lahir pemain-pemain seperti Ramang, Wahyu Tanoto, Kwee Kiat Sek, Soetjipto Soentoro, Iswadi Idris, Abdul Kadir, dan Ronny Pattinasarany. Kemampuan dribbling dan sprint pendek nan kuat membawa sepak bola Indonesia disegani di Asia.
Setelah itu, kita tidak pernah mau membangun sepak bola nan berakar dari kultur bangsa ini. Ambisi untuk segera tampil di putaran final Piala Dunia membikin kita tiba-tiba mengambil kiblat Belanda. Bahkan bukan hanya kiblatnya, melainkan juga mengambil pemain Belanda nan mempunyai darah Indonesia. Tidak peduli jikalau mau disebut 'Londo Ireng'.
Padahal, karakter sepak bola Belanda sejak 1974 adalah total football. Mereka mensyaratkan pemain untuk mempunyai teknik dasar sepak bola nan sempurna sehingga bisa memainkan peran di posisi apa saja.
Setelah era Wesley Sneijder, Arjen Robben, dan Robin van Persie di Piala Dunia 2010, Belanda pun tetap berjuang untuk menemukan tim nan bisa memainkan total football. Begitu banyak negara sepak bola seperti Brasil, Uruguai, dan Italia nan belum bisa menemukan lagi karakter dan kolektivitas mereka. Mereka pun tidak bisa menjadi nan terbaik.
Siapakah ahli filsafat sepak bola Indonesia nan mau bekerja dalam diam, melakukan riset tentang sepak bola Indonesia? Tanpa pernah pekerjaan pertama itu kita lakukan, mustahil kita bakal mempunyai tim sepak bola nan membawa Indonesia tampil di Piala Dunia.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·