Kabut asap di Kalimantan Barat.(Dok. Antara)
DINAS Kesehatan Kota Pontianak, Kalimantan Barat, melaporkan adanya peningkatan kasus jangkitan saluran pernapasan akut (ISPA) sebesar 5 hingga 10 persen dalam sepekan terakhir. Kenaikan ini terjadi seiring dengan munculnya kabut asap nan dipicu oleh kebakaran rimba dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, mengonfirmasi bahwa tren kenaikan kasus mulai terlihat sejak minggu lampau hingga pekan ini akibat karhutla Kalbar dan kabut asap nan pekat. "Berdasarkan data, memang mulai minggu kemarin sampai minggu ini ada peningkatan kasus ISPA, kira-kira 5-10 persen peningkatannya dari kasus harian," ujar Saptiko di Pontianak, Selasa (25/8/2026).
Imbauan untuk Kelompok Rentan
Menyikapi kondisi udara nan memburuk, Saptiko mengingatkan masyarakat, khususnya golongan rentan, untuk membatasi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap menebal. Kelompok rentan nan dimaksud meliputi lanjut usia (lansia), ibu hamil, bayi, balita, serta perseorangan nan mempunyai riwayat penyakit asma dan jantung.
Bagi penduduk nan terpaksa beraktivitas di luar rumah, Dinkes mewajibkan penggunaan masker guna meminimalisasi paparan partikel rawan dari udara nan tercemar asap. Selain ISPA, Saptiko menyoroti potensi serangan asma nan meningkat akibat kualitas udara nan buruk.
"Biasanya asma. Kasus asma meningkat lantaran pada orang nan punya asma, asap mencetuskan timbulnya serangan pada mereka," tambahnya.
Meski demikian, Saptiko menjelaskan bahwa ISPA dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga susah untuk memisahkan secara pasti mana kasus nan murni disebabkan oleh asap dan mana nan dipicu aspek lain. Namun, dia menegaskan adanya indikasi kuat bahwa kemunculan asap berkontribusi pada lonjakan kasus tersebut.
Kualitas Air Selama Kemarau
Di sisi lain, Dinas Kesehatan juga memantau akibat musim tandus terhadap kualitas air konsumsi masyarakat. Hingga saat ini, belum ditemukan adanya peningkatan penyakit nan berangkaian dengan kualitas air.
Saptiko menyebut bahwa kebanyakan penduduk Pontianak menggunakan air galon untuk kebutuhan minum, nan kebersihan dan kesehatannya dipantau secara rutin melalui pengawasan upaya pengisian ulang air galon.
Peringatan Penggunaan Air Hujan:
Masyarakat nan tetap mengandalkan air hujan diminta waspada. Saptiko menyarankan agar air hujan pertama saat musim tandus tidak digunakan lantaran berpotensi membawa kotoran dari udara maupun permukaan penampungan nan tercemar.
Terkait penggunaan air payau alias asin nan sering terjadi saat musim tandus di Pontianak, Dinkes menyatakan bahwa kondisi tersebut sejauh ini tidak menimbulkan masalah kesehatan kulit secara langsung pada masyarakat.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·