Kampung Nelayan Merah Putih Dongkrak Kesejahteraan Nelayan

1 jam yang lalu 3
Kampung Nelayan Merah Putih Dongkrak Kesejahteraan Nelayan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat meninjau Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Warloka Pesisir, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.(MI/Marianus Marselus)

PEMERINTAH memperkuat transformasi sektor perikanan melalui pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih nan terintegrasi dengan Koperasi Nelayan Merah Putih. Program ini menjadi bagian dari strategi besar mewujudkan swasembada pangan nasional, sekaligus mengakhiri persoalan klasik nan selama puluhan tahun membelenggu nelayan, ialah lemahnya posisi tawar dalam menjual hasil tangkapan.

Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan saat meninjau Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Warloka Pesisir, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (30/7) petang.

Menurut Zulkifli Hasan, swasembada pangan bukan sekadar sasaran produksi, tetapi menyangkut kedaulatan dan kehormatan bangsa. Ketergantungan terhadap impor hanya bakal menguntungkan petani dan nelayan negara lain, sementara produsen pangan dalam negeri tidak memperoleh faedah nan maksimal.

"Kalau kita impor terus, nan senang petani negara lain. Kalau kita impor garam, impor ikan, impor macam-macam, nan diuntungkan juga orang lain. Oleh lantaran itu, kebijakan Presiden nan pertama, kita kudu swasembada dulu, apakah karbohidrat maupun protein," katanya.

Dalam konteks penyediaan protein, pemerintah menilai sektor perikanan mempunyai peran strategis. Namun, kesejahteraan nelayan tetap tertinggal dibandingkan subsektor pertanian lainnya. Nilai Tukar Nelayan (NTN) saat ini berada di kisaran 103, sedangkan Nilai Tukar Petani (NTP) padi telah mencapai sekitar 127. Pemerintah menargetkan NTN meningkat menjadi 120 pada 2027 melalui penguatan ekosistem ekonomi pesisir.

Menurut Zulkifli Hasan, rendahnya kesejahteraan nelayan bukan disebabkan rendahnya produktivitas. Sebaliknya, nelayan Indonesia dikenal sebagai pekerja keras nan bisa menghasilkan tangkapan melimpah. Persoalan muncul ketika hasil tangkapan tiba di darat. Karena ikan merupakan komoditas nan mudah rusak, nelayan berada dalam posisi nan lemah saat berhadapan dengan pembeli maupun tengkulak.

"Nelayan kita rajin-rajin. Tapi begitu dapat ikan, saat dijual di darat ditawar murah. Kalau tidak dijual, ikannya busuk. Akhirnya terpaksa dijual lantaran tidak punya daya tawar," ujarnya.

Ia mencontohkan kondisi nan ditemuinya di Kupang, ketika satu ember ikan dijual hanya sekitar Rp20 ribu meski berisi tiga hingga empat kilogram ikan. Kondisi tersebut menunjukkan nelayan sering kali tidak mempunyai pilihan selain menerima nilai rendah agar hasil tangkapannya tidak terbuang.

Karena itu, pemerintah membangun Kampung Nelayan Merah Putih sebagai solusi menyeluruh, bukan sekadar membangun permukiman nelayan. Kawasan tersebut dilengkapi balai lelang ikan, pabrik es berbahan air laut, ruang pendingin (chilling room), serta cold storage nan memungkinkan hasil tangkapan disimpan dalam jangka waktu lebih lama tanpa kehilangan kualitas.

Melalui akomodasi tersebut, nelayan tidak lagi dipaksa menjual ikan pada hari nan sama ketika nilai sedang rendah. Hasil tangkapan dapat disimpan hingga nilai pasar membaik alias disalurkan melalui koperasi nan berfaedah sebagai penyerap hasil produksi masyarakat.

"Kalau ikannya ditawar murah, nelayan tidak usah jual. Bisa disimpan di cold storage. Besok alias lusa baru dipasarkan lagi. Kalau perlu koperasi nan membeli hasil tangkapan nelayan," kata Zulkifli Hasan.

PUSAT AKTIVITAS EKONOMI
Selain menyediakan prasarana rantai dingin (cold chain), pemerintah juga menempatkan Koperasi Nelayan Merah Putih sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Koperasi diharapkan tidak hanya membeli hasil tangkapan, tetapi juga membuka akses terhadap pembiayaan, logistik, penyediaan sarana produksi, hingga pemasaran sehingga nilai tambah hasil perikanan lebih banyak dinikmati nelayan.

Model tersebut diyakini bisa memutus ketergantungan nelayan terhadap tengkulak nan selama ini menguasai rantai distribusi. Dengan sistem pelelangan nan lebih terbuka dan support akomodasi penyimpanan, pembentukan nilai diharapkan menjadi lebih setara serta mencerminkan kualitas hasil tangkapan.

Pemerintah juga menilai penguatan ekonomi pesisir menjadi fondasi krusial dalam membangun ketahanan pangan nasional. Jika selama ini swasembada lebih banyak dikaitkan dengan beras, pemerintah sekarang memperluas pendekatan tersebut dengan menjadikan sektor perikanan sebagai penopang utama pemenuhan kebutuhan protein masyarakat.

Melalui pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, pemerintah berambisi kesejahteraan nelayan meningkat, Nilai Tukar Nelayan terus membaik, dan aktivitas ekonomi di area pesisir tumbuh lebih kuat. Di saat nan sama, kesiapan ikan berbobot tetap terjaga, pengedaran hasil perikanan menjadi lebih efisien, dan Indonesia semakin kokoh menuju swasembada pangan nan bertumpu pada kekuatan produksi dalam negeri.(E-2) 

Selengkapnya