ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz mulai mengganggu lampau lintas kapal tanker minyak dan gas dunia. Setidaknya empat kapal tanker memutuskan berbalik arah dan membatalkan pelayaran melintasi jalur strategis tersebut setelah serangan di area itu memicu kekhawatiran serius terhadap keselamatan pelayaran.
Melansir Reuters, keputusan itu diambil setelah sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) asal Qatar dan sebuah kapal tanker minyak mentah berbendera Arab Saudi dilaporkan mengalami kerusakan di dekat Selat Hormuz pada Selasa.
Insiden tersebut terjadi setelah muncul laporan Iran menembakkan rudal ke kapal-kapal nan melintas, sehingga otoritas maritim meningkatkan tingkat ancaman bagi kapal di area itu menjadi "parah."
Data pencarian kapal dari Kpler dan LSEG menunjukkan tiga kapal tanker LNG milik QatarEnergy, ialah Al Ghariya, Duhail, dan Al Ruwais, sempat bergerak menuju Selat Hormuz sebelum akhirnya memutar kembali pada Selasa malam. Ketiga kapal itu diketahui tetap kosong dan sedang menuju akomodasi ekspor Ras Laffan, Qatar, untuk mengambil muatan LNG.
Selain itu, sebuah kapal tanker berbendera India nan mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah Kuwait juga berbalik arah di dekat perairan Oman pada Rabu. Kapal tersebut sebelumnya memuat minyak pada akhir pekan lampau dan dijadwalkan melintasi Selat Hormuz.
Di tengah meningkatnya akibat keamanan, kapal milik Indonesia justru sukses melewati jalur tersebut. Kapal tanker VLCC Pertamina Pride nan dioperasikan PT Pertamina tercatat keluar dari Selat Hormuz pada Selasa, meski transponder alias sistem identifikasi otomatis (AIS)-nya dimatikan, menurut info pelayaran.
Kapal itu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak mentah Arab Saudi nan dimuat pada awal Maret.
Selain kapal Pertamina, kapal tanker VLCC Tenjun nan dikelola Nippon Yusen KK juga sukses keluar dari Selat Hormuz pada Selasa malam. Kapal tersebut membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah Qatar nan dimuat pada akhir Februari.
Di sisi lain, arus ekspor daya dari area Teluk tetap terus berjalan meski mulai melambat. Sejak bentrok pecah pada akhir Februari, sedikitnya 16 kargo LNG dari Ras Laffan dan 10 kargo dari terminal Pulau Das milik ADNOC di Uni Emirat Arab telah sukses melewati Selat Hormuz. Namun, volume tersebut tetap jauh di bawah rata-rata pengiriman campuran kedua terminal nan biasanya mencapai sekitar 7 juta metrik ton LNG per bulan.
Analis Vortexa juga mencatat antrean kapal tanker kosong nan menunggu giliran memuat LNG di Ras Laffan sekarang terus bertambah hingga lebih dari 10 kapal pada awal Juli. Selain itu, lebih dari 50 kapal ballast nan dioperasikan QatarEnergy dan ADNOC tersebar di area Teluk, India, hingga Selat Malaka, dengan sebagian di antaranya mematikan sinyal AIS selama lebih dari 10 hari.
Hingga buletin ini ditulis, Nippon Yusen menolak memberikan komentar mengenai pelayaran kapal Tenjun, sementara Pertamina belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi mengenai operasi Pertamina Pride di tengah meningkatnya eskalasi keamanan di Selat Hormuz.
(tfa/luc)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·