Karhutla di Sulsel.(Dok. MI)
KEBAKARAN rimba dan lahan (Karhutla) di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) terus meluas ke sejumlah wilayah seiring dengan musim tandus nan berkepanjangan. Hingga saat ini, tercatat sudah ada empat kabupaten nan melaporkan kejadian karhutla, ialah Luwu Timur, Pinrang, Tana Toraja, dan nan terbaru di Sidenreng Rappang (Sidrap).
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan, Amson Pasolo, menyatakan pihaknya telah melakukan langkah antisipasi dengan memberikan peringatan awal kepada pemerintah kabupaten dan kota. Hal ini dilakukan menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mengenai karakter musim tandus tahun ini nan dinilai tidak normal.
Puncak kekeringan diprediksi bakal berjalan pada Agustus hingga September 2026. Kondisi ini diperparah dengan potensi hari tanpa hujan nan lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Sehingga semua pihak kudu selalu waspada. Semua stakeholder sudah berkoordinasi untuk melakukan upaya mitigasi sejak dini," ujar Amson.
Data Kerusakan Lahan
Berdasarkan laporan BPBD Sidrap pada Rabu (12/8), titik api terpantau sekitar pukul 12.15 WITA di dua lokasi, ialah Desa Mojong, Kecamatan Watang Sidenreng, dan Kelurahan Lawawoi, Kecamatan Watang Pulu. Di wilayah tersebut, lahan seluas tujuh hektare dilaporkan gosong terbakar, sementara penyebab pasti kebakaran tetap dalam penyelidikan pihak berwenang.
Dengan tambahan kejadian di Sidrap, total luas lahan nan terbakar di Sulawesi Selatan sekarang mencapai 33 hektare. Rinciannya meliputi:
- Tana Toraja: 15 hektare
- Pinrang: 8 hektare
- Sidrap: 7 hektare
- Luwu Timur: 3 hektare
Imbauan BNPB
Menyikapi potensi musibah hidrometeorologi kering ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan proaktif dalam melakukan pencegahan.
Plh. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Dodi Yuleova, menekankan bahwa akibat karhutla sangat luas, mulai dari kerusakan lingkungan hingga gangguan kesehatan masyarakat akibat penurunan kualitas udara.
"Karhutla tidak hanya dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga berakibat terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, serta kehidupan sosial di wilayah terdampak," jelas Dodi.
Pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran rimba dan lahan, terutama untuk tujuan pembukaan lahan baru. Selain itu, penduduk diminta segera melaporkan kepada pihak berkuasa jika menemukan titik api alias indikasi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin sebelum api meluas. (H-3)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·