ARTICLE AD BOX
Gelombang panas ekstrem di Italia menakut-nakuti produksi Parmigiano Reggiano.
Gelombang panas ekstrem nan melanda wilayah Emilia-Romagna, Italia, mulai menakut-nakuti produksi keju Parmigiano Reggiano, salah satu produk pangan paling ikonik di negara itu. Suhu nan menembus 40 derajat Celcius memaksa para peternak mengubah langkah merawat sapi perah agar tetap produktif, sekaligus meningkatkan biaya produksi di seluruh rantai industri. (REUTERS/Matteo Minnella)
Presiden Konsorsium Parmigiano Reggiano, Nicola Bertinelli, mengatakan panas ekstrem menurunkan kualitas dan jumlah susu, bahan baku utama pembuatan keju tersebut. Menurutnya, sapi lebih sering berbaring, makan lebih sedikit, dan menghasilkan susu hingga 10% lebih rendah saat suhu sangat tinggi. (REUTERS/Matteo Minnella)
"Panas ekstrem berakibat pada kualitas dan jumlah susu," kata Bertinelli kepada Reuters. Ia menambahkan, kekurangan hujan juga menghalang pertumbuhan rumput dan produksi jerami nan menjadi pakan wajib bagi sapi penghasil susu Parmigiano Reggiano. (REUTERS/Matteo Minnella)
Untuk menjaga kondisi ternak, para peternak sekarang membiarkan jendela kandang terbuka sepanjang waktu serta memasang kipas angin dan sistem kabut air. Namun, langkah tersebut membikin konsumsi listrik meningkat tajam. (REUTERS/Matteo Minnella)
Dampak serupa juga dirasakan penyimpanan penyimpanan keju alias nan dikenal sebagai "Bank Parmigiano", tempat ratusan ribu roda keju menjalani proses pematangan selama sedikitnya satu tahun. (REUTERS/Matteo Minnella)
Direktur Magazzini Generali delle Tagliate (MGT), Giancarlo Ravanetti, mengatakan konsumsi daya harian selama puncak gelombang panas tahun ini meningkat sekitar 30 persen sehingga perusahaan kudu meningkatkan efisiensi pendingin, isolasi bangunan, dan penggunaan daya terbarukan. (REUTERS/Matteo Minnella)
Di kembali penyimpanan berpendingin itu, setiap roda Parmigiano Reggiano tetap menjalani pemeriksaan kualitas nan ketat, mulai dari pemindaian sinar-X hingga pengetesan manual dengan palu mini untuk mendeteksi abnormal selama proses pematangan. Ravanetti menegaskan teknologi membantu proses produksi, tetapi skill manusia tetap menjadi aspek utama dalam menjaga kualitas keju nan telah diproduksi selama lebih dari delapan abad tersebut. (REUTERS/Matteo Minnella)
Kenaikan biaya produksi menjadi tantangan besar bagi industri Parmigiano Reggiano nan menyumbang pendapatan sekitar 4,5 miliar euro alias setara Rp92,5 triliun per tahun dan menjadi salah satu penopang ekonomi wilayah Emilia-Romagna. Pada 2025, lebih dari separuh penjualan dunia keju tersebut berasal dari pasar ekspor, dengan Amerika Serikat menjadi tujuan utama. (REUTERS/Matteo Minnella)
Direktur Penjualan Internasional GranTerre, Paolo Ganzerli, memperingatkan bahwa gelombang panas nan semakin lama dan intens bakal meningkatkan biaya sekaligus menakut-nakuti kualitas susu. "Parmigiano Reggiano telah ada selama lebih dari 800 tahun. Kita tidak mau menjadi generasi terakhir nan memakannya," ujarnya kepada Reuters. (REUTERS/Matteo Minnella)
source on Google

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·