ilustrasi(Magnific)
PEMERINTAH Kota Berlin menjadi sasaran pemerasan siber setelah golongan peretas membobol sistem jaringan pemerintah dan menggasak info sebesar 5,79 terabita. Wali Kota Berlin, Kai Wegner, secara tegas menyatakan menolak bayar tebusan senilai 30 bitcoin (sekitar 2 juta euro) nan dituntut oleh para pelaku.
"Berlin tidak bakal bisa diperas," tegas Kai Wegner merespons ancaman peretas. Saat ini, kepolisian negara bagian, kejaksaan, dan otoritas keamanan federal Jerman dikerahkan untuk menginvestigasi peretasan nan telah mengganggu sejumlah jasa publik tersebut.
Kelompok hacker berjulukan Rhysida, nan diduga beraksi dari wilayah Rusia dan Eropa Timur, mengaku bertanggung jawab atas serangan ini. Melalui situs dark web mereka, Rhysida menakut-nakuti bakal melelang ribuan arsip sensitif, termasuk info personalia, kata sandi, perjanjian kerja sama, hingga perincian kontak pribadi pejabat kota, jika tebusan tidak dibayarkan dalam waktu satu minggu.
Layanan Publik Terganggu Menjelang Pemilu
Aksi peretasan ini pertama kali terdeteksi pada pertengahan Agustus, nan memaksa otoritas setempat mematikan jaringan di dua departemen utama. Dampaknya, pengajuan support perumahan dan sistem pembayaran publik sempat lumpuh selama beberapa hari. Investigasi forensik juga menemukan peretasan pada jaringan departemen transportasi serta lingkungan hidup.
Serangan siber ini melanda Berlin hanya satu bulan menjelang penyelenggaraan pemilihan umum lokal. Meski demikian, Senator Negara Bagian Berlin, Iris Spranger, memastikan bahwa prasarana teknologi info nan digunakan untuk pemilu tetap kondusif dan tidak terdampak oleh peretasan tersebut.
(BBC/P-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·