Kelurahan Sukamiskin di Kota Bandung Bangun Ekosistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat

16 jam yang lalu 4
Kelurahan Sukamiskin di Kota Bandung Bangun Ekosistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat Ilustrasi(Dok Diskominfo Kota Bandung )

KELURAHAN Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan membangun ekosistem pengolahan dari tingkat rumah tangga hingga kelurahan. Berbagai metode telah berjalan, mulai dari pemilahan sampah di rumah, pengolahan sampah organik menggunakan maggot dan komposter, hingga pengolahan sampah non-organik menjadi bahan bakar pengganti berupa briket.

Lurah Sukamiskin, Sofian Ismail kemarin menyatakan pengelolaan sampah di wilayahnya dilakukan secara berjenjang dengan melibatkan masyarakat, RT, RW, serta beragam unsur lembaga kemasyarakatan. Salah satu pengolahan nan sudah melangkah adalah budi daya maggot untuk mengurai sampah organik. Saat ini, pengolahan tersebut mempunyai kapabilitas sekitar 400 hingga 500 kilogram sampah per hari, meski ke depan ditargetkan dapat mencapai 1 ton per hari.

"Maggot kapasitasnya sekitar 400 sampai 500 kilogram sehari. Targetnya satu ton, tetapi lantaran maggot merupakan makhluk hidup, tentu dipengaruhi suhu dan aspek lainnya," terangnya.

Menurut Sofian, selain pengolahan di tingkat kelurahan, Sukamiskin juga mendorong perubahan perilaku masyarakat melalui program pemilahan sampah dari sumbernya. Tercatat sekitar 500 rumah tangga telah mendapatkan sosialisasi dan edukasi mengenai pemilahan sampah menjadi organik, non-organik, dan residu. Dari jumlah tersebut, sekitar separuhnya alias kurang lebih 250 rumah tangga mulai melakukan pemilahan dan pengolahan secara mandiri. Upaya tersebut diperkuat dengan penyediaan sarana pengolahan di setiap RW. Dari total 17 RW, masing-masing minimal mempunyai dua unit tempat pengolahan berbasis komposter, sementara sejumlah RW mempunyai hingga lima unit.

"Fasilitas tersebut memungkinkan masyarakat mengolah sampah organik secara langsung tanpa kudu dibawa ke tempat pembuangan sementara (TPS).
Target kita 100 persen melakukan pemilahan dari sumber. Minimal 50 persen rumah tangga sudah memilah dan mengolah sampah sendiri di rumah," paparnya.

Selain itu lanjut Sofian, Kelurahan Sukamiskin mengembangkan pengolahan sampah lainnya melalui peyeumisasi sampah. Fasilitas tersebut saat ini didukung enam unit mesin nan digunakan untuk mengolah sampah non-organik menjadi briket. Prosesnya dimulai dengan memasukkan sampah non-organik ke dalam wadah pengolahan. Sampah kemudian ditumpuk secara berjenjang dengan ketebalan sekitar 20 sentimeter dan diberikan bioaktivator. Proses tersebut dilakukan berulang hingga tumpukan mencapai sekitar 1,2 meter.

"Setelah dikeringkan selama sedikitnya tujuh hari, sampah kemudian digiling menggunakan mesin. Terdapat tahapan penggilingan kasar, penggilingan halus, hingga pencampuran bahan perekat berupa kanji sebelum dicetak menjadi briket. Apabila seluruh akomodasi melangkah optimal, kapabilitas pengolahan sampah nonorganik tersebut diproyeksikan mencapai 6 ton per hari," tandasnya.

Sofian menyebut, Kelurahan Sukamiskin juga disiapkan sebagai laboratorium pengelolaan sampah, tempat komunitas, RT, RW, lembaga swadaya masyarakat, maupun wilayah lain nan mau melakukan studi tiru dapat memandang langsung proses pengelolaan sampah.

Pengembangan pengolahan briket juga direncanakan diperluas hingga tingkat RW. RW 13, telah menyatakan kesiapan untuk menjadi letak produksi. Lahan sekitar 200 meter persegi telah disiapkan, dengan pembagian untuk mesin produksi, penjemuran, dan penyimpanan.

"Rencananya, briket hasil produksi bakal dikumpulkan dan diangkut untuk kemudian dimanfaatkan oleh beragam sektor industri, seperti pabrik semen, pabrik genteng di Majalengka, maupun industri tekstil," tambahnya.

Selain pengolahan di tingkat kelurahan, lanjut Sofian, Sukamiskin juga mengembangkan kerja sama dengan Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) melalui teknologi plasma dingin untuk mengolah sampah non-organik. Fasilitas tersebut sebelumnya bisa mengolah sekitar 1,5 ton sampah non-organik per hari dalam tahap awal pengoperasiannya. Namun, saat ini mesin sedang mengalami hambatan dan tetap menunggu komponen pengganti nan kudu didatangkan dari luar negeri.

"Kami  berharap, akomodasi tersebut dapat kembali beraksi dalam waktu dekat sehingga kapabilitas pengolahan sampah Sukamiskin semakin besar. Dan jika seluruh akomodasi pengolahan berjalan, Sukamiskin apalagi berpotensi menerima sampah dari wilayah lain lantaran kapabilitas pengolahannya diproyeksikan melampaui timbulan sampah nan dihasilkan masyarakat setempat," imbuhnya.

Saat ini, timbulan sampah di Kelurahan Sukamiskin diperkirakan mencapai 4 hingga 6 ton per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persen tetap kudu dibawa ke TPS, sedangkan sisanya secara berjenjang diarahkan untuk diolah melalui beragam akomodasi nan tersedia. Pengelolaan sampah dari sumber juga diperkuat melalui program Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah). Di Sukamiskin terdapat sekitar 17 petugas nan bekerja membantu pengelolaan sampah di masing-masing RW.

Petugas tersebut tidak hanya mengambil sampah dari rumah warga, tetapi juga mendorong proses pemilahan sebelum sampah dibawa ke titik pengolahan. Mereka memilah organik. Target dari DLH sekitar 25 kilogram sehari, dan itu sudah terlampaui. Ada nan 60 kilogram apalagi lebih dari 100 kilogram. Di tingkat RT, pengambilan sampah dari rumah penduduk juga tetap berjalan. Sampah nan telah dikumpulkan kemudian dibawa ke titik Gaslah untuk dipilah. Sampah organik diarahkan ke akomodasi pengolahan seperti komposter maupun maggot, sedangkan sampah nonorganik masuk ke tahap pengolahan berikutnya. (AN/E-4)

Selengkapnya