Kematian Massal Melanda Jerman, 5 Ribu Tewas

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Jerman melalui lembaga kesehatan publik Robert Koch Institute (RKI) melaporkan perkiraan mengejutkan sebanyak 5.120 kematian tragis akibat gelombang panas ekstrem sepanjang tahun ini. Lonjakan kematian massal tersebut sebagian besar terjadi pada akhir Juni ketika suhu rata-rata mingguan melonjak drastis hingga jauh melampaui 20 derajat Celsius.

Mengutip laporan Reuters, Jumat (10/07/2026), kebanyakan korban jiwa ialah sekitar 4.270 kematian mendominasi golongan lansia berumur 75 tahun ke atas dengan nomor kematian wanita lebih tinggi akibat kekuasaan populasi usia senja. Kondisi di Jerman ini memperparah potret kelam di seluruh benua setelah Copernicus Climate Change Service Uni Eropa (UE) mengonfirmasi bahwa Eropa Barat baru saja melewati bulan Juni terpanas sepanjang sejarah dengan suhu rata-rata mencapai 20,74 derajat Celsius.

Otoritas nasional di negara tetangga seperti Prancis, Belgia, Spanyol, dan Belanda juga melaporkan lebih dari 4.700 kematian berlebih selama puncak gelombang panas nan berjalan pada 20-28 Juni lalu. Berdasarkan info historis RKI, rekor nomor kematian akibat cuaca panas tertinggi di Jerman dalam dasawarsa terakhir sebelumnya pernah tercipta pada tahun 2018 dengan 8.400 kematian dan tahun 2019 dengan 6.900 kematian.

"Situasi panas saat ini tetap kompleks dan jelas bahwa kondisi akomodasi publik telah memicu kekhawatiran," ungkap RKI dalam laporan mingguan resminya nan menyoroti lonjakan nomor kematian lansia tersebut.

Ketatnya situasi ini memicu perdebatan sengit di parlemen Jerman setelah terungkap bahwa 120 orang tewas hanya dalam satu akhir pekan di kota Cologne pada 27-28 Juni, nan melonjak empat kali lipat dari nomor kematian normal. Pemimpin partai Greens, Katharina Droege, langsung melayangkan kritik tajam dan menuduh Kanselir Friedrich Merz sama sekali belum memberikan pernyataan publik mengenai musibah kemanusiaan ini.

Droege menuduh pemerintah sengaja memperlemah undang-undang perlindungan suasana demi menambal defisit anggaran negara dengan memangkas biaya lingkungan hidup senilai miliaran euro dari Dana Iklim dan Transformasi (KTF). Langkah pemotongan anggaran tersebut dinilai sangat ironis mengingat Jerman awalnya telah mengalokasikan biaya 8 miliar euro untuk mengejar sasaran pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 65% pada tahun 2030, nan saat ini pencapaiannya baru menyentuh nomor 48%.

"Sangat disayangkan, lantaran jika para mahir strategi pemerintah berakhir dan berpikir sejenak, mereka mungkin tidak bakal membikin keputusan tidak bertanggung jawab nan mengorbankan biaya perlindungan iklim," kecam Droege dalam debat parlemen nan menyoroti pemotongan anggaran KTF tersebut.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya