ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membikin gebrakan. Di tengah saling serang dengan Iran di Timur Tengah, dia mengatakan bahwa AS bakal mengambil alih Selat Hormuz.
Tak hanya itu, dia mengatakan bakal ada biaya nan dikenakan sebesar 20% dari semua kargo nan dikirim. Selat Hormuz sendiri berada di antara Iran dan Oman, tepatnya menghubungkan Teluk Persia (Persian Gulf) dan Teluk Oman (Gulf of Oman) untuk selanjutnya ke Laut Arab serta Samudra Hindia.
Jalur ini merupakan salah satu chokepoint maritim paling krusial di bumi lantaran menjadi pintu keluar utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk. Sekitar 20% perdagangan minyak bumi dan sebagian besar ekspor LNG dari negara-negara Teluk melewati jalur ini dalam kondisi normal.
Perlu diketahui semenjak perang dengan AS, Iran meminta kewenangan untuk memungut biaya di Selat Hormuz dan ditolak AS. Namun AS sempat menolak, dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio mengatakan pungutan semacam itu bertentangan dengan norma internasional, berbareng negara-negara Barat.
Lalu kenapa sekarang Trump "menjilat ludahnya sendiri"?
Mengutip Politico, Selasa (14/7/2026), Trump mengatakan perihal ini untuk "mengawasi salah satu jalur minyak paling krusial di bumi nan telah menjadi pusat perang AS nan semakin meningkat dengan Iran". Dikatakannya, "AS bakal menjadi penjaga selat tersebut".
"AS, mulai saat ini, bakal dikenal sebagai 'PENJAGA SELAT HORMUZ,'" klaimnya.
"Tetapi dengan demikian, dan demi KEADILAN, bakal mendapat penggantian, sebesar 20% dari semua kargo nan dikirim, untuk setiap dan semua biaya nan diperlukan untuk melakukan pekerjaan memberikan keselamatan dan keamanan di bagian bumi nan sangat bergolak ini," tambahnya menyebut "biaya perlindungan".
"Proses dan pembentukannya bakal segera dimulai."
Lalu gimana Respons Iran?
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan dalam postingan X bahwa Iran dan bukan AS nan berkuasa mengendalikan Selat Hormuz. Karena itu, Iran berkuasa mendapat kompensasi atas perihal tersebut.
"20% tentu saja terlalu banyak. Kami bakal bersikap adil," tulis Araghchi.
Bagaimana Respons Dunia?
Dunia juga merespons Trump. Presiden Goldwyn Global Strategies David Goldwyn, mengatakan tarif sebesar 20% pada kapal adalah "tingkat nan terlalu tinggi" terutama lantaran "tidak jelas apakah AS dapat memberikan perjalanan nan aman".
"Jika AS bisa mengawal kapal dengan kondusif dan menjamin tidak ada ancaman dari Iran, kita bakal memandang perihal itu terjadi dalam beberapa minggu terakhir," kata Goldwyn kepada CNBC dalam wawancara telepon.
"Jadi menurut saya ini hanya sekadar gertakan," tegasnya.
Organisasi Maritim Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), International Maritime Organization/IMO, nan mengatur transportasi maritim, dengan tegas menentang pengenaan biaya untuk melewati selat nan digunakan untuk navigasi internasional.
"Tidak ada dasar norma untuk memberlakukan tarif wajib hanya untuk transit melalui selat," kata organisasi tersebut dalam sebuah pernyataan kepada CNBC International.
Sementara itu, pelaku industri pelayaran mempertanyakan legalitas maupun penerapan kebijakan tersebut. Mereka menilai tidak ada dasar norma internasional dan gimana mekanismenya.
(sef/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·