Ketahanan Energi RI Jauh Lebih Kuat dari Negara Tetangga, Ini Buktinya

2 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menilai ketahanan daya di Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan negara-negara tetangga di Asia. Indonesia dinilai bisa menjaga stabilitas pasokan di tengah krisis geopolitik dunia menjadi bukti ketangguhan sektor daya domestik.

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menjelaskan komparasi kondisi saat pecahnya bentrok di Timur Tengah beberapa waktu lalu. Berdasarkan pantauannya, banyak negara tetangga terpaksa membatasi penjualan bahan bakar minyak (BBM), sementara Indonesia tetap bisa melayani kebutuhan masyarakat.

"Saya merasa hari ini ketahanan daya kita jauh lebih kuat dibandingkan negara-negara tertangga. Kalau kita ingat ketika perang di Timur Tengah meletus, seminggu dua minggu kemudian negara-negara di area Asia paling tidak sudah membatasi penjualan BBM. Di Bangladesh, Pakistan, Filipina sudah membatasi," katanya dalam aktivitas Coffee Morning CNBC Indonesia, Kamis (23/7/2026).

Ketahanan di sektor kelistrikan Indonesia juga dinilai sangat stabil lantaran didukung oleh kesiapan batu bara nan melimpah sebagai bahan baku pembangkit. Dengan persediaan nan ada saat ini, sektor kelistrikan dinilai tidak mengalami gangguan berfaedah meski pasar daya bumi sedang mengalami gejolak suplai.

"Electricity sektor kita sesungguhnya tidak terganggu lantaran apa? Ya blessing in disguise kita tetap menggunakan batu bara lebih banyak. Batu bara di Indonesia besar sekali cadangannya luar biasa Ibu Bapak. Kita hari ini memproduksi batu bara 800 juta ton per tahun. Kita mau produksi itu 50 tahun tetap ada persediaan untuk 100 tahun nan bakal datang," paparnya.

Selain sektor listrik, Indonesia mempunyai resiliensi melalui pemanfaatan bahan bakar nabati (BBN) untuk menekan ketergantungan pada produk minyak luar negeri. Implementasi program mandatori biodiesel 40% (B40) nan sebelumnya berlaku, terbukti efektif mengurangi volume impor diesel secara signifikan di tengah kenaikan nilai minyak mentah.

"Kita kemudian juga mempunyai resiliensi lantaran kita memang mempunyai sumber daya untuk membantu pengurangan impor. Hari ini kita menggunakan B40 untuk mengurangi volume impor diesel kita. Jadi sesungguhnya kita agak lebih kuat," tambahnya.

Meski mempunyai resiliensi nan baik, pemerintah tetap mewaspadai lonjakan nilai minyak mentah bumi nan dapat memaksa penyesuaian nilai BBM nonsubsidi di dalam negeri. Transisi daya dipandang sebagai satu-satunya jalan keluar untuk memastikan ketahanan daya jangka panjang nan lebih berkelanjutan.

"Bagi saya transisi daya itu bukan opsi, bukan pilihan, itu adalah keniscayaan. Jadi it is inevitable that we have to transform our energy sector to become more sustainable," tandasnya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya