Kisah Anak Pengemudi Ojek di Semarang: Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX
 Gagal Masuk Sekolah Negeri, Akhirnya Bisa SMA Gratis Lewat Sekolah Kemitraan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau hari pertama Program Sekolah Kemitraan Pemprov Jateng. Sebanyak 3.663 siswa dari family prasejahtera mendapat akses pendidikan gratis.(Pemprov jateng)

GUBERNUR Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau langsung penyelenggaraan hari pertama pembelajaran Program Sekolah Kemitraan Pemprov Jateng di SMA Laboratorium UPGRIS, Kota Semarang, Senin, 13 Juli 2026. 

Program sekokah cuma-cuma Pemprov Jateng  ini terbukti menjadi solusi nyata bagi anak-anak dari family prasejahtera nan sebelumnya kandas lolos dalam seleksi sekolah negeri, agar tetap bisa melanjutkan masa depan mereka. 

Salah satu siswa SMA Laboratorium UPGRIS Semarang, Rafa Fidianto mengaku senang pada hari pertamanya mengenakan seragam SMA. Meski sebelumnya kandas diterima di sekolah negeri, putra seorang pengemudi ojek itu akhirnya tetap bisa melanjutkan pendidikan melalui program tersebut. 

“Sebelumnya saya sempat ikut mendaftar ke sekolah negeri, tetapi nilai saya tidak cukup. Saya senang bisa sekolah di sini lantaran bisa mendapat banyak teman,” kata Rafa saat berbincang dengan 
Ahmad Luthfi.

Melalui pendidikan nan dijalani, dia berambisi bisa mewujudkan cita-citanya, sehingga dia bisa membanggakan orang tuanya. Ia bercita-cita mau menjadi tentara. 

Cerita lain datang dari Kamdani, pekerja tani ini merasa lega bisa menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut secara gratis. Dengan penghasilan tidak menentu, sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per hari, dia mengaku kesulitan andaikan kudu menanggung seluruh kebutuhan pendidikan anak ketiganya.

“Alhamdulillah, anak saya bisa sekolah dan tetap mau sekolah. Harapan saya, anak saya bisa hidup lebih ringan dan tidak seperti ibunya,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Ahmad Luthfi berulang kali menyemangati mereka agar tidak merasa rendah diri lantaran kondisi ekonomi maupun latar belakang keluarga.

“Boleh kita punya sekolah nan berbeda, boleh kita punya latar belakang nan berbeda, tetapi masa depan kalian nan menentukan. Ora usah berkecil hati, ora usah minder. Semangat,” pesan Luthfi.

Ia menegaskan, kondisi ekonomi tidak boleh membikin seorang anak kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.

“Mereka kudu tetap sekolah, tidak boleh putus sekolah. Sekolah tidak boleh berakhir hanya lantaran kondisi family kurang mampu,” katanya.

Menurut Luthfi, kehadiran Program Sekolah Kemitraan merupakan corak tanggung jawab pemerintah dalam memberikan agunan pendidikan kepada anak-anak dari family kurang mampu.

Ia menuturkan, siswa nan ditemuinya mempunyai latar belakang beragam. Ada nan merupakan anak pedagang angkringan, pengemudi ojek, buruh, hingga anak nan sudah kehilangan orang tua alias diasuh kerabat.

“Namun, mereka tetap semangat untuk sekolah. Ini merupakan corak tanggung jawab negara untuk selalu memberikan agunan dan kepastian pendidikan bagi mereka,” ujarnya.

Pada tahun aliran 2026/2027, Pemprov Jawa Tengah bekerja sama dengan 139 sekolah swasta, nan terdiri atas 56 SMA dan 83 SMK. Sebanyak 3.663 anak diterima melalui program tersebut, terdiri atas 1.063 siswa SMA dan 2.600 siswa SMK. Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun aliran sebelumnya nan mencapai 2.390 siswa.

Khusus di Kota Semarang, sebanyak 51 siswa diterima melalui Program Sekolah Kemitraan. Mereka tersebar di SMA Laboratorium UPGRIS sebanyak 24 siswa, SMK Bina Nusantara 21 siswa, dan SMK Ibu Kartini enam siswa.

Dalam aktivitas tersebut, sebanyak 55 siswa juga menerima perlengkapan sekolah dan sepatu. Sementara orang tua siswa memperoleh support paket sembako dari Baznas Jawa Tengah.

Luthfi juga meminta kepala sekolah dan pembimbing memastikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah berjalan secara aman, humanis, dan menyenangkan.

“Tidak ada lagi perpeloncoan, tidak ada lagi perundungan, apalagi sampai menimbulkan rasa minder. Sekolah tidak menakutkan, tetapi kudu menjadi tempat nan menyenangkan sehingga anak-anak merasa nyaman,” tegasnya.

Kepada para siswa, dia berpesan agar kesempatan pendidikan nan diperoleh dimanfaatkan untuk meraih cita-cita sekaligus memperbaiki kehidupan keluarga.

“Kalian kudu menjadi anak-anak nan berkhidmat kepada orang tua, mempunyai cita-cita nan luhur, serta bisa mengubah diri sendiri maupun family menjadi lebih baik,” pungkasnya. (*)

Selengkapnya