Kisah Penyintas Terorisme yang Bangkit usai Berdamai dengan Masa Lalu

2 jam yang lalu 3

loading...

Talkshow Dari Luka Menjadi Kekuatan: Negara Hadir, Penyintas Bangkit di The Tribrata, Jakarta. Foto/istimewa

JAKARTA - Puluhan tahun setelah tragedi peledak meneror ruang publik, luka para penyintas terorisme tidak serta-merta berakhir. Bagi Tony Soemarno, penyintas Bom Hotel J.W. Marriott 2003, proses memulihkan diri justru menjadi perjalanan panjang untuk berbaikan dengan masa lampau dan menemukan kembali makna kehidupan.

Hal itu diungkap Tony di aktivitas Talkshow “Dari Luka Menjadi Kekuatan: Negara Hadir, Penyintas Bangkit” di The Tribrata, Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.

Trauma nan ditinggalkan tindakan terorisme tidak hanya berangkaian dengan luka fisik. Dampaknya juga menyentuh kondisi psikologis dan jiwa sehingga memerlukan waktu, pendampingan, serta support untuk dapat kembali menjalani kehidupan secara utuh.

Tony menyadari perjalanan tersebut tidak kudu dilalui seorang diri. Pendampingan negara, pemenuhan hak, dan support terhadap penyintas menjadi bagian krusial dalam proses pemulihan setelah tragedi terorisme.

Baca juga: Pemerintah Perkuat Perlindungan Penyintas, 34 Korban Terorisme Terima Bantuan

“Awalnya sangat susah untuk bangkit. Namun, saya sampai pada satu titik di mana saya berpikir bahwa pelaku teror pun manusia nan bisa melakukan salah. Saya memilih untuk saling mengampuni dan tidak mau menyimpan dendam, lantaran hati nan tenteram adalah apa nan Tuhan kehendaki,” katanya, dikutip Minggu (23/8/2026).

Selengkapnya