Musim Kemarau, Damkar Bandung Barat Terkendala Armada dan Sumber Air

1 jam yang lalu 3
Musim Kemarau, Damkar Bandung Barat Terkendala Armada dan Sumber Air Petugas pemadam kebakaran memadamkan api di lahan kosong.(Dok Istimewa)

Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bandung Barat menghadapi tantangan berat dalam penanganan kebakaran selama musim kemarau nan diperparah oleh kejadian El Nino. Selain meningkatnya potensi kebakaran, keterbatasan armada dan menyusutnya sumber air menjadi persoalan utama nan dihadapi petugas di lapangan.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bandung Barat, Siti Aminah, mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya hanya mempunyai 10 unit kendaraan operasional. Jumlah tersebut terdiri dari sembilan unit mobil pemadam kebakaran dan satu unit rescue.

Angka ini dinilai tetap jauh dari ideal untuk melayani 16 kecamatan di wilayah Kabupaten Bandung Barat nan cukup luas. Siti merinci bahwa kebanyakan unit nan tersedia sudah berumur tua.

"Kita hanya ada 9 unit pemadam dan 1 rescue, dan kondisi unit rata-rata di atas 10 tahun. nan paling baru itu tahun 2025 ada 1 unit dan 3 unit tahun 2021, nan lainnya mobil tua. Kalau idealnya per kecamatan itu 2 unit," ujar Siti, Minggu (23/8).

Kondisi armada nan terbatas dan berumur tua ini berakibat langsung pada response time alias waktu respons petugas ke letak kejadian. Risiko keterlambatan penanganan semakin tinggi terutama jika kebakaran terjadi di wilayah nan jauh dari pos pemadam.

Selain penambahan armada, Siti menekankan pentingnya keberadaan pos Damkar di setiap kecamatan untuk mempercepat pelayanan. Saat ini, Damkar Bandung Barat baru mempunyai tujuh pos nan tersebar di:

  • Mako Pemkab Bandung Barat
  • Lembang
  • Parongpong
  • Cikalongwetan
  • Cipatat
  • Cililin
  • Sindangkerta

"Idealnya Damkar ada di setiap kecamatan, sehingga lebih dekat dengan masyarakat nan membutuhkan," ungkapnya.

Tantangan petugas tidak berakhir pada masalah armada. Ketersediaan sumber air menjadi persoalan serius lainnya di tengah musim kemarau. Siti menyebut bahwa sebagian besar sumber air mulai menyusut, sehingga petugas sering kesulitan mendapatkan pasokan air untuk proses pemadaman.

Menurutnya, setiap desa idealnya mempunyai sumber air berdikari nan dapat dimanfaatkan untuk penanganan kebakaran sekaligus membantu masyarakat nan terdampak kekeringan. Dalam kondisi darurat, petugas apalagi terpaksa menggunakan sumber air seadanya.

"Sumber air seperti dari PDAM alias lainnya sangat terbatas. Kalau ada kejadian, akhirnya air selokan pun disedot jika memungkinkan," pungkas Siti.

Selengkapnya