Kisah Pilu Yuliana, Patah Kaki akibat Gempa saat Jenguk Cucu di Manggarai Barat

1 hari yang lalu 4
Kisah Pilu Yuliana, Patah Kaki akibat Gempa saat Jenguk Cucu di Manggarai Barat Yuliana Soli Ledi, penduduk Kabupaten Sumba Tengah dengan kondisi kaki patah berada di tenda pengungsian di Di Kampung Ntalung, Desa Coal, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.(Dok Humas Polda NTT)

DI Kampung Ntalung, Desa Coal, Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, kesibukan tetap terlihat di sekitar tenda-tenda pengungsian. Warga keluar-masuk tenda, petugas membagikan bantuan, sementara sejumlah orang memastikan kebutuhan para korban gempa terpenuhi.

Di salah satu perspektif tenda, seorang wanita paruh baya terbaring di atas dasar seadanya. Ia menahan sakit pada kaki kanannya nan patah. Perempuan itu berjulukan Yuliana Soli Ledi, penduduk Kabupaten Sumba Tengah.

Yuliana datang ke Kampung Ntalung untuk menjenguk putrinya, Yublina Wairu Gore, nan baru saja melahirkan anak pertama. Ia datang membawa kebahagiaan untuk berjumpa anak dan cucunya. Namun, gempa mengubah segalanya dalam sekejap.

Saat guncangan terjadi, Yuliana panik dan berupaya berlari keluar rumah. Ketika berada di periode pintu, material tembok roboh dan menghantam kaki kanannya hingga patah.

Setelah dievakuasi dari reruntuhan, Yuliana berbareng anak dan cucunya dibawa ke tenda pengungsian nan didirikan penduduk berbareng petugas. Kapolsek Kuwus Iptu Arsilinus berbareng tim medis kemudian memberikan penanganan awal di lokasi.

Yuliana sempat disarankan menjalani perawatan intensif di RSUD Komodo, Labuan Bajo, untuk mendapatkan penanganan bedah tulang. Namun, setelah berbincang dengan keluarga, dia memilih menempuh pengobatan tradisional di kampung halamannya di Sumba Tengah.

Yuliana akhirnya diterbangkan ke Sumba Tengah pada Kamis (20/8). "Kami sudah berupaya maksimal membujuk dan memberikan pemahaman medis agar Mama Yuliana bersedia dirujuk ke RSUD Komodo di Labuan Bajo guna mendapat perawatan bedah tulang nan memadai," terang Iptu Arsilinus, Senin (24/8).

Meski family memilih pengobatan tradisional, pihak kepolisian tetap berkomitmen memantau kondisi Yuliana melalui personel Bhabinkamtibmas hingga dia dipastikan tiba di rumah dan mendapatkan perawatan nan layak.

"Keputusan family tentu kami hormati. Namun, pemantauan kondisi Mama Yuliana bakal terus kami lakukan melalui personel Bhabinkamtibmas setempat hingga dipastikan beliau tiba di rumah," tambahnya.

Menjaga Rumah nan Ditinggalkan

Kisah Yuliana menggambarkan gimana gempa tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga mengubah perjalanan hidup warga. Namun, setelah penduduk menyelamatkan diri ke tenda pengungsian, persoalan lain muncul: keamanan rumah nan ditinggalkan.

Saat malam tiba, tenda menjadi tempat penduduk beristirahat, sementara rumah-rumah nan ditinggalkan menjadi sunyi. Di dalamnya tetap tersimpan pakaian, dokumen, perabot, dan kekayaan barang nan tak mungkin seluruhnya dibawa ke pengungsian.

Untuk mencegah terjadinya tindak kejahatan, Polsek Kuwus meningkatkan patroli dialogis dan patroli preventif pada malam hari di area permukiman nan kosong.

"Ketika penduduk berada di tenda pengungsian, rumah-rumah mereka menjadi kosong dan rawan. Karena itu, patroli preventif (crime prevention) ditingkatkan pada malam hari untuk memberikan agunan rasa kondusif bagi penduduk bahwa kekayaan barang mereka tetap terjaga," kata Iptu Arsilinus.

Selain menjaga keamanan, abdi negara juga mendata kondisi rumah penduduk dan golongan rentan nan memerlukan perhatian khusus. Para Bhabinkamtibmas ditugaskan melakukan pemetaan kerusakan sekaligus mendata bayi, balita, ibu menyusui, dan lansia.

Polsek Kuwus juga berkoordinasi dengan Puskesmas Kuwus dan Pemerintah Desa Coal untuk memastikan kesiapan obat-obatan, pelayanan kesehatan berkala, serta kebutuhan gizi balita di posko pengungsian tetap terpenuhi.

Malam pun turun di Kampung Ntalung. Di dalam tenda, penduduk berupaya beristirahat setelah hari-hari nan melelahkan, sementara di luar, personel kepolisian terus berkeliling menjaga permukiman nan ditinggalkan penghuninya. (i-2)

Selengkapnya