Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.(Dok. YouTube Sekretariat Presiden)
MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meluncurkan program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 Gigawatt peak (GWp) di Jembrana, Bali, Selasa (25/8). Proyek strategis ini diproyeksikan bisa menekan shopping subsidi energi nasional hingga Rp73,9 triliun setiap tahun.
Dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto, Bahlil mengungkapkan bahwa total investasi untuk megaproyek ini mencapai US$73 miliar alias setara lebih dari Rp1.140 triliun. Selain penghematan subsidi, program ini ditargetkan bisa menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja baru bagi masyarakat.
"Dari total ini, bisa kita melakukan efisiensi terhadap subsidi setiap tahun Rp73,9 triliun dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih sekitar 5,52 juta lapangan kerja," ujar Bahlil.
Pemerintah berencana mempercepat penyelenggaraan proyek ini dengan memasukkannya ke dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Pada tahap awal, pembangunan dimulai dengan kapabilitas campuran 5,3 GWp, di mana 1.000 megawatt (MW) di antaranya dibangun di Bali komplit dengan sistem penyimpanan daya baterai.
Dari sisi lingkungan, penerapan penuh PLTS 100 GWp diperkirakan dapat menurunkan emisi karbon sebesar 140 juta ton CO2 per tahun. Langkah ini juga mempunyai nilai ekonomi karbon nan signifikan, ialah mencapai Rp6,31 triliun.
Bahlil menjelaskan biaya produksi listrik dari proyek ini berkisar antara US$5-6 sen per kilowatt hour (kWh), belum termasuk biaya sistem baterai. Besaran biaya tambahan untuk baterai bakal sangat berjuntai pada lama penyimpanan daya nan dibutuhkan, baik untuk penggunaan 4 jam maupun 24 jam.
Selain memperkuat ketahanan energi, program ini diarahkan untuk memperluas elektrifikasi ke wilayah perdesaan. Sesuai pengarahan Presiden Prabowo, pemerintah menargetkan pembangunan PLTS berkapasitas 1 MW di setiap desa nan selama ini belum terjangkau aliran listrik, guna menunjang aktivitas ekonomi lokal seperti sektor perikanan.
Terakhir, proyek ini menjadi strategi utama pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) nan tetap menggunakan BBM. Dengan kapabilitas pembangkit BBM nasional nan saat ini mencapai 12,6 GW, konversi ke daya terbarukan diharapkan dapat menekan impor solar secara signifikan. (Z-10)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·