Warga Kolombia.(Al Jazeera)
PEMERINTAH Kolombia pada Rabu (12/8) resmi menetapkan masa berkabung nasional selama tiga hari bagi para korban gempa bumi luar biasa nan melanda wilayah barat negara tersebut. Bencana ini dilaporkan menewaskan sedikitnya 216 orang dan menghancurkan puluhan bangunan.
Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo nan terjadi pada Senin (10/8) tercatat sebagai gempa terkuat nan menghantam Kolombia pada abad ini. Sebagai corak penghormatan, pemerintah menginstruksikan pengibaran bendera separuh tiang di gedung-gedung resmi serta kedutaan besar Kolombia di luar negeri.
Upaya Penyelamatan di Pereira dan Cali
Di kota Pereira dan Cali, tim darurat bekerja tanpa henti sepanjang malam menggunakan derek, anjing pelacak, dan perangkat berat untuk mencari korban nan selamat. Di beberapa titik, para sukarelawan membentuk rantai manusia untuk memindahkan puing-puing secara manual.
Momen haru terjadi ketika tim penyelamat sukses mengevakuasi Daniela Largo, 32, dalam keadaan hidup setelah terjebak selama 35 jam di bawah reruntuhan sebuah hotel di Pereira. Ibunya, Sandra Milena Perez, mengungkapkan rasa syukur nan mendalam atas keajaiban tersebut.
"Kami nyaris kehilangan harapan, lampau kami menerima telepon," ujar Perez kepada AFP. Ia menceritakan bahwa seorang penduduk lokal mendengar teriakan minta tolong dari bawah reruntuhan dan berbareng tetangga lain mulai menyingkirkan puing sebelum tim ahli tiba.
"Saya berterima kasih kepadanya dengan sepenuh hati. Seorang putra sekarang menunggunya di rumah."
Kondisi Darurat dan Dampak Kerusakan
Para mahir memperingatkan bahwa 48 jam pertama setelah gempa adalah masa krusial untuk menemukan penyintas. Harapan biasanya mulai memudar setelah melewati jendela waktu 72 jam.
Pantauan udara menunjukkan pemandangan memilukan di Cali. Lingkungan permukiman tampak rata dengan tanah.
Tumpukan puing abu-abu menggantikan blok-blok rumah dan apartemen. Di sekitarnya, kendaraan-kendaraan hancur tertimpa tembok beton nan runtuh.
Bencana ini juga melumpuhkan sebagian sistem kesehatan. Di Cali, sebagian gedung Hospital Universitario del Valle runtuh, memaksa master memindahkan pasien ke tempat parkir dan memberikan perawatan di ruang terbuka. Upaya pengamanan ini menjadi salah satu respons musibah terbesar di Kolombia dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi Pengungsi: Banyak penyintas terpaksa bermalam di luar ruangan lantaran rumah mereka hancur alias lantaran takut bakal gempa susulan. Taman di Pereira telah diubah menjadi tempat penampungan sementara dengan tenda dan kasur.
"Kami kehilangan segalanya, tetapi kami selamat," kata John Tabasco, 23, nan berkemah berbareng istri dan putranya nan berumur tujuh bulan.
Solidaritas Nasional dan Bantuan Internasional
Presiden Abelardo de la Espriella, nan baru saja dilantik pada Jumat lalu, menetapkan status darurat nasional. Saat mengunjungi Pereira pada Selasa, dia menjanjikan subsidi sewa bagi family nan terdampak.
Solidaritas penduduk Kolombia juga terlihat sangat kuat. Ribuan orang menyumbangkan air, makanan, dan pasokan logistik ke lingkungan nan terdampak, sementara antrean panjang terlihat di pusat-pusat donor darah. "Ini tentang kemauan untuk membantu komunitas, kota, dan negara Anda," ujar Ferney Cabrera, salah satu pendonor darah.
Dukungan internasional mulai mengalir, termasuk pengumuman support darurat sebesar US$15,5 juta (sekitar Rp245 miliar) dari Amerika Serikat, serta tawaran support dari beragam negara di seluruh dunia. (AFP/I-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·