Komisi Organisasi Muktamar NU: Semakin Banyak Calon Ketua Umum, Semakin Baik

2 jam yang lalu 3

loading...

Anggota Komisi Organisasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Iddy Muzayyad. FOTO/IST

JAKARTA - Anggota Komisi Organisasi Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Iddy Muzayyad, menegaskan bahwa kontestasi pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) wajib melangkah secara adil, terbuka, dan inklusif. Menurutnya, kemunculan banyak figur kandidat justru bakal semakin memperkaya proses pendemokrasian serta diskursus pendapat di internal organisasi.

Pernyataan tersebut disampaikan Iddy mengenai dinamika penjaringan calon pemimpin tertinggi Nahdlatul Ulama menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU. Ia menekankan bahwa setiap kader potensial nan mengantongi support sah dari para muktamirin kudu diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memaparkan visi dan misi tanpa adanya pembatasan.

"Mengenai calon Ketua Umum PBNU, kita kudu bersikap adil. Kalau memang mau membuka ruang seluas-luasnya, maka berikan kesempatan kepada siapa pun. Selama para muktamirin menghendaki, silakan. Harus fair," ujar Iddy dalam Diskusi Publik berjudul Muktamar NU untuk Semua di Resto Trisnoku, Cikini, Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Iddy menjelaskan bahwa seluruh bakal calon nantinya bakal diundang dan diberi ruang untuk membuktikan iktikad baik dalam memajukan jam'iyah. Kendati demikian, sistem penentuan akhir tetap berada di tangan Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). Ia juga mengingatkan agar proses penilaian kepemimpinan tidak hanya berdasarkan kerasionalan lahiriah semata, melainkan turut mempertimbangkan dimensi spiritual alias "ilmu langit" nan menjadi karakter unik tradisi ustadz NU.

"Jangan hanya menilai calon Ketua Umum dari sisi lahiriah. Kita juga perlu memandang aspek batiniah alias pengetahuan langit. Kalau hanya terjebak pada penilaian lahiriah, belum tentu tepat. Berikan kesempatan kepada semuanya, sementara isyarat langitlah nan pada akhirnya bakal menentukan," tegasnya.

Menanggapi potensi intervensi terhadap sidang Ahwa, Mantan Ketua IPNU membujuk seluruh penduduk Nahdliyin untuk menepis segala corak prasangka negatif dan tetap meletakkan kepercayaan penuh terhadap integritas para ustadz sepuh nan duduk di dalamnya. Ia meyakini bahwa sistem Ahwa dirancang untuk menjaga marwah organisasi serta senantiasa membuka ruang musyawarah dengan para ustad sepuh di luar struktur resmi sebelum mengambil keputusan final.

(abd)

Selengkapnya