Kondisi Kian Sulit, Raksasa Otomotif Ini Mau PHK Ribuan Karyawan

9 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa otomotif, BMW, mengumumkan bakal memangkas ribuan pekerja di Jerman hingga akhir 2027 melalui program pengunduran diri sukarela. Langkah ini menjadikan BMW sebagai produsen mobil terbaru nan melakukan efisiensi tenaga kerja di tengah tekanan laba, melemahnya permintaan pasar, serta perubahan besar nan sedang melanda industri otomotif global.

Mengutip Reuters, Rabu (29/7/2026), program pesangon sukarela tersebut telah disepakati antara manajemen BMW dan majelis pekerja perusahaan. Program ini bakal menyasar tenaga kerja di bagian manajemen dan pengembangan, sementara operasional produksi tidak termasuk dalam rencana pengurangan tenaga kerja tersebut.

Juru bicara BMW mengatakan program tersebut difokuskan pada area non-produksi. Sementara itu, seorang sumber nan mengetahui rencana tersebut menyebut jumlah tenaga kerja nan bakal berkurang diperkirakan mencapai sekitar 8.000 orang.

BMW nan berbasis di Munich saat ini mempekerjakan sekitar 150.000 tenaga kerja di seluruh dunia.

Adapun langkah BMW terjadi ketika industri otomotif Jerman menghadapi tekanan berat dari beragam arah, mulai dari mahalnya transisi menuju kendaraan listrik, persaingan ketat dari produsen China hingga tarif impor Amerika Serikat.

Sebelumnya, Volkswagen dan Mercedes-Benz telah lebih dulu mencapai kesepakatan untuk memangkas puluhan ribu pekerja.

Awal pekan ini, produsen mobil sport Porsche, nan merupakan bagian dari Grup Volkswagen, juga memperluas program restrukturisasinya dengan sasaran memangkas sekitar 20% tenaga kerja hingga 2035.

Di saat nan sama, ribuan pekerja melakukan tindakan protes di pabrik Audi di Neckarsulm pada Rabu. Audi, nan juga berada di bawah Grup Volkswagen, menghadapi ancaman penutupan akomodasi sebagai bagian dari rencana restrukturisasi perusahaan induknya.

Selama ini BMW kerap dipandang sebagai salah satu produsen mobil Jerman nan relatif lebih stabil dibanding para pesaingnya. Namun kondisi pasar nan memburuk, terutama di China, mulai memberikan tekanan besar terhadap keahlian perusahaan.

Pada Juni lalu, BMW memangkas proyeksi labanya untuk tahun melangkah setelah bisnisnya di China menunjukkan hasil nan lebih lemah dari perkiraan.

Penjualan kendaraan di pasar otomotif terbesar bumi tersebut mengalami penurunan tajam dalam beberapa bulan terakhir, menambah tekanan terhadap produsen mobil dunia nan selama bertahun-tahun mengandalkan pertumbuhan dari China.

Setelah memangkas sasaran laba, Chief Executive BMW Milan Nedeljkovic mengatakan perusahaan bakal mempercepat dan memperkuat upaya efisiensi biaya nan telah berjalan.

Dalam pertemuan dengan para pekerja pada Rabu, Nedeljkovic menegaskan bahwa industri otomotif sedang mengalami perubahan mendasar nan memengaruhi model upaya BMW.

Menurut seorang peserta rapat pekerja di Munich nan mengetahui isi pertemuan tersebut, Nedeljkovic mengatakan patokan nan selama ini menjadi dasar industri otomotif telah berubah secara signifikan.

CEO BMW itu juga memperingatkan bahwa perusahaan bakal menghadapi masa nan penuh tantangan ke depan.

Meski demikian, dia menegaskan langkah-langkah efisiensi tersebut diperlukan agar BMW dapat meningkatkan profitabilitasnya di masa depan.

Menurut sumber nan datang dalam pertemuan itu, Nedeljkovic menyampaikan bahwa langkah restrukturisasi krusial dilakukan untuk memastikan BMW menjadi perusahaan nan lebih menguntungkan.

Pengumuman pemangkasan tenaga kerja ini muncul sehari sebelum BMW dijadwalkan merilis laporan finansial kuartal kedua pada Kamis, nan bakal menjadi parameter krusial untuk memandang seberapa besar tekanan nan saat ini dihadapi produsen mobil premium asal Jerman tersebut.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya