Konflik Antaragama Pecah, Makan Korban Jiwa-Presiden Buka Suara

1 jam yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Sedikitnya tiga orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam kerusuhan antaragama di Nepal. Di tengah memburuknya situasi keamanan akibat bentrok tersebut, Presiden Nepal Ramchandra Paudel buka bunyi dan mengimbau masyarakat menjaga perdamaian serta tidak terprovokasi.

"Saya menyerukan kepada partai-partai politik, masyarakat sipil, serta seluruh kerabat dan saudari untuk menjaga persatuan sosial, keselarasan antarkomunitas, persahabatan, dan toleransi," katanya dikutip dari Anadolu Agency, Minggu (2/8/2026).

Bentrokan antara golongan Hindu dan Muslim di wilayah selatan negara itu memaksa pemerintah memberlakukan jam malam dan mengerahkan abdi negara keamanan dalam jumlah besar. Ketegangan bermulai dari perselisihan saat aktivitas keagamaan nan kemudian berkembang menjadi kerusuhan massal.

Situasi dengan sigap meluas ke sejumlah wilayah, diwarnai tindakan pembakaran akomodasi publik, penyerangan terhadap instansi pemerintah dan pos polisi, hingga bentrok dengan aparat.

Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, nan jarang muncul ke publik pun akhirnya muncul dengan mendesak penduduk untuk bertindak secara bertanggung jawab dan membantu menghilangkan kerusuhan.

"Saya, atas nama pemerintah, dengan tulus mengimbau warga, masyarakat sipil, organisasi keagamaan, seluruh tokoh terhormat, semua partai politik, dan media nan bertanggung jawab untuk bersabar, menahan diri, serta menjaga perdamaian, kerukunan, persaudaraan, dan persatuan nasional," ujar Shah.

Ia menjanjikan penyelidikan sepenuhnya setara dan transparan, seraya menambahkan bahwa pihak-pihak nan bertanggung jawab bakal diproses secara hukum.

Penyebab Kerusuhan

Menurut pejabat dari wilayah nan terdampak, tindakan kekerasan mulai pecah pada Minggu malam. Bentrokan pertama terjadi di Distrik Sunsari setelah perselisihan nan terjadi saat seremoni oleh dua organisasi kepercayaan berkembang menjadi tindakan kekerasan.

Ketegangan kemudian meningkat dengan sigap dan memicu serangan jawaban antara golongan nan bertikai. Massa nan marah dilaporkan menyerang satu sama lain, membakar kantor-kantor pemerintah, pusat perbelanjaan, serta pos-pos polisi. Sejumlah akomodasi publik juga dirusak.

Situasi nan makin tidak terkendali memaksa pemerintah memberlakukan jam malam di sebagian besar wilayah Nepal selatan. Untuk mengendalikan kerusuhan, pemerintah mengerahkan ratusan personel keamanan ke letak bentrokan. Pasukan nan diterjunkan tidak hanya berasal dari kepolisian, tetapi juga melibatkan militer Nepal.

Aparat keamanan berupaya membubarkan kerumunan dan mencegah meluasnya kekerasan ke wilayah lain. Namun dalam proses tersebut, polisi melepaskan tembakan ke arah massa.

Menurut laporan Anadolu, polisi menembaki para pengunjuk rasa untuk menghentikan bentrok nan terjadi. Tindakan tersebut menyebabkan seorang petani berjulukan Om Prakash Mehata tewas.

Selain itu, puluhan penduduk setempat mengalami luka-luka akibat tembakan aparat. Salah satu korban luka adalah Jaya Prakash Mehata, nan kemudian meninggal bumi saat menjalani perawatan di rumah sakit.

Kematian Mehata kemudian memicu gelombang kemarahan baru di kalangan golongan Hindu. Mereka kemudian menggelar demonstrasi di Distrik Sunsari dan sejumlah wilayah lainnya.

Korban jiwa ketiga dilaporkan berasal dari Distrik Siraha. Administrator distrik setempat, Chatraj Baral, mengonfirmasi laporan tersebut kepada Anadolu.

Adapun Nepal merupakan negara nan kebanyakan penduduknya berakidah Hindu. Namun sejak penghapusan sistem monarki pada 2008, Nepal secara resmi ditetapkan sebagai negara sekuler.

Sejak perubahan tersebut, negara itu relatif sukses menghindari bentrok besar nan berlatar belakang agama. Munculnya kekerasan terbaru ini memicu kekhawatiran luas di kalangan masyarakat, karena banyak pihak cemas bentrok dapat memperburuk situasi politik dan sosial nan tetap rapuh.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya