Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.(MI/Palce Amalo)
JUMLAH korban tewas akibat gempa bumi nan mengguncang sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali bertambah menjadi 91 orang alias bertambah 4 orang dari hari sebelumnya.
BNPB mencatat, 49% korban meninggal akibat dampak tidak langsung dari gempa, dengan banyak di antaranya mempunyai penyakit bawaan, sedangkan 51% korban meninggal akibat dampak langsung gempa, seperti tertimpa reruntuhan bangunan.
"Informasi nan kami dapat dari Kementerian Kesehatan bahwa banyak dari nan meninggal akibat tidak langsung ini lantaran ada penyakit bawaan sebelumnya, seperti jantung, hipertensi, maupun diabetik," ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Minggu (23/8).
Menurutnya, para korban meninggal tersebar di tujuh kabupaten. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, ialah 32 orang, disusul Manggarai Timur 31 orang dan Nagekeo 14 orang.
Selanjutnya, enam korban meninggal tercatat di Kabupaten Sikka, lima orang di Ngada, dua orang di Ende, dan satu orang di Manggarai Barat.
Sedangkan, dari 91 korban meninggal, sebanyak 40 orang berjenis kelamin laki-laki dan 48 perempuan. Sementara tiga korban lainnya tetap dalam tahap identifikasi. Berdasarkan golongan umur, tercatat 12 korban anak dan remaja serta 35 orang dewasa. Selain korban meninggal, BNPB mencatat 1.286 orang mengalami luka-luka akibat gempa.
Pengungsi 161.084 Orang
Sementara itu, jumlah penduduk nan mengungsi juga mencapai 161.084 jiwa. Tiga kabupaten dengan jumlah pengungsi terbanyak ialah Manggarai sebanyak 46.519 jiwa, Nagekeo 34.256 jiwa, dan Manggarai Timur 31.372 jiwa.
Sementara itu, aktivitas gempa susulan tetap berjalan hingga Minggu (23/8/2026). BNPB mencatat sebanyak 5.688 kali gempa susulan sejak gempa utama terjadi. Gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2, sedangkan nan terkecil bermagnitudo 1,1. Sebanyak 130 gempa susulan tetap dirasakan penduduk pada hari nan sama.
Berton mengatakan rangkaian gempa susulan menunjukkan pola temporal nan belum sederhana dan diperkirakan tetap berjalan sekitar tiga hingga empat minggu sejak gempa utama.
Dia juga mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi gempa susulan. Warga nan rumahnya tidak mengalami kerusakan akibat rangkaian gempa sebelumnya juga diimbau dapat kembali ke rumah masing-masing.
"Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh info alias rumor nan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," kata Berton. (PO/E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·