Kualitas Udara Pekanbaru Berbahaya, Warga Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

1 jam yang lalu 2
Kualitas Udara Pekanbaru Berbahaya, Warga Diimbau Kurangi Aktivitas di Luar Rumah Kualitas udara di Pekanbaru masuk kategori Berbahaya akibat kabut asap karhutla. Dinkes imbau penduduk pakai masker dan laporkan 376 kasus ISPA.(MI/Denny)

KUALITAS udara di Kota Pekanbaru memperkuat pada level Berbahaya akibat kabut asap dari kebakaran rimba dan lahan (Karhutla) di Riau. Berdasarkan info diagram konsentrasi polusi udara PM2.5 di situs resmi BMKG sejak Senin (24/8) malam hingga Selasa (25/8) pukul 06.00 WIB, kualitas udara berada di kisaran nomor 508,8 µg/m³ hingga 328,9 µg/m³.

Pekatnya kabut asap ini dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. “Pekanbaru sangat mengerikan. Suasananya mencekam sekali penuh dengan kabut asap tebal dari Karhutla. Kita terasa tercekik susah bernafas lantaran semua (di dalam dan di luar) sudah aroma asap," kata Yola, penduduk Pekanbaru.

Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru melalui Dinas Kesehatan (Diskes) mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah guna mengantisipasi akibat jelek bagi kesehatan.

"Pertama, kami mengimbau penduduk agar mengurangi aktifitas di luar rumah," kata Sekretaris Diskes Kota Pekanbaru, Deddy Sambudi.

Deddy menambahkan, jika penduduk terpaksa beraktivitas di luar, mereka diwajibkan menggunakan masker serta memperbanyak konsumsi air putih untuk menjaga kebugaran tubuh. "Segera mencari pelayanan kesehatan Puskesmas jika ada keluhan kesehatan," ujarnya.

Pemko Pekanbaru telah menyiapkan 21 Puskesmas nan tersebar di 15 kecamatan untuk melayani penduduk nan mengalami gangguan kesehatan.

Kewaspadaan ini ditingkatkan mengingat akibat paparan asap mulai memicu lonjakan penyakit pernapasan. Diskes mencatat terdapat 376 kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Kota Pekanbaru dalam tiga minggu terakhir sejak awal Agustus 2026. Sebagian besar pasien mengalami indikasi batuk, pilek, hingga radang tenggorokan.

"Yang pneunomia hanya sembilan orang, selebihnya non pneunomia," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Diskes Kota Pekanbaru, Edi Satriawan, mengonfirmasi bahwa 367 kasus di antaranya merupakan Non Pneumonia.

Ancaman ISPA ini terbilang tinggi. Pada Juli 2026 lalu, penanganan kasus ISPA di pusat jasa medis apalagi sempat menyentuh nomor 5.325 kasus, nan mana 5.305 di antaranya merupakan kategori non pneumonia.

"Sedangkan nan mengalami ISPA kategori pneunomia pada Juli lampau hanya 20 kasus," pungkas Edi. (Z-2)

Selengkapnya