Maling Makin Canggih, Waspada 3 Modus Penipuan Terbaru Kuras Rekening

1 jam yang lalu 5
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Teknologi kepintaran buatan (AI) membikin strategi penipuan semakin canggih dan susah terdeteksi. Tool AI dengan biaya murah bisa memberikan akses luas untuk merekayasa gambar dan suara, serta menciptakan situs nan betul-betul tampak resmi dan sah.

Penipuan dengan mengandalkan AI banyak nan menyamar sebagai video-video iklan 'resmi' di media sosial seperti TikTok. Salah satu pengakuan wartawan New York Times, dia memandang iklan sepatu Hoka dengan potongan nilai 80% di TikTok.

Saat mengklik iklan tersebut, dia diarahkan ke situs nan betul-betul seperti original dan resmi. Namun, ketika dia menambahkan sepatu nan diinginkan ke keranjang belanja, barulah muncul kecurigaan.

Ia lantas mengecek forum online Reddit dan menemukan korban nan sudah terjebak dalam situs tersebut. Bahkan, Hoka sudah mempublikasikan peringatan mengenai situs tiruan nan beredar dan mengatasnamakan merek tersebut.

Penyamaran situs original ini merupakan salah satu dari beberapa modus penipuan online nan kian canggih di era AI. FBI melaporkan pada bulan lalu, penjahat siber telah menipu penduduk AS nyaris US$21 miliar (Rp375 triliun) tahun lalu, dengan sekitar US$893 juta (Rp15 triliun) kerugian mengenai dengan AI.

Pada dasarnya, AI memudahkan penjahat online dalam mengembangkan situs nan tampak resmi. Untuk itu, masyarakat kudu berpikir ulang mengenai pendekatan tersebut, sehingga tidak mudah terjerat dan mengalami kerugian.

"Alih-alih mencari parameter tentang apa nan buruk, sekarang Anda perlu memverifikasi apakah itu baik," kata Mark Beare, manajer umum Malwarebytes, sebuah perusahaan keamanan internet, dikutip dari New York Times, Minggu (2/8/2026).

Iklan penipuan telah merajalela sehingga pengaduan norma terhadap raksasa media sosial Meta makin meningkat. Bulan lalu, Federasi Konsumen Amerika, sebuah golongan pembelaan nirlaba, mengusulkan pengaduan nan menuduh Meta menyesatkan pengguna tentang upayanya untuk memerangi penipuan.

Pengaduan tersebut mengutip contoh-contoh termasuk iklan penipuan untuk perlengkapan bayi dan telepon gratis. Santa Clara County di California mengusulkan gugatan serupa terhadap Meta bulan ini.

Sebagai respons, Meta mengatakan sepanjang tahun lampau pihaknya telah menghapus 159 juta iklan penipuan, serta memblokir nyaris 11 juta akun di FB dan Instagram, nan terafiliasi dengan oknum-oknum penipuan online. Meta juga sesumbar pihaknya menambah investasi untuk teknologi baru nan melenyapkan penipuan.

Seorang ahli bicara TikTok mengatakan bahwa perusahaan tersebut melarang praktik penipuan dan konten menyesatkan dalam iklan, dan bahwa upaya untuk menipu pengguna tidak diperbolehkan di platform tersebut.

TikTok menambahkan bahwa pada kuartal keempat tahun 2025, 97% konten spam nan melanggar patokan TikTok telah dihapus sebelum pengguna melaporkannya.

Selain toko online palsu, penipu memanfaatkan AI untuk menyamar sebagai orang lain dalam menjerat korban, misalnya menyamar sebagai personil keluarga.

Berikut beberapa modus nan penipuan nan paling sering terjadi di era AI

1. Penipuan Video Call

Sudah lama penipuan berbasis chat dan obrolan telepon beredar di mana-mana. Masyarakat makin pandai dalam mendeteksinya. Jika ada chat masuk dari orang nan sudah lama tak jumpa, keluarga, alias teman, dengan nada mencurigakan dan meminta uang, masyarakat sudah bisa langsung mendeteksi modus penipuan.

Namun, berkah AI, penipu sekarang sudah bisa memanfaatkan video call. Mereka memanfaatkan AI untuk mengubah wajah video sebagai orang dekat alias orang nan dikenali korban. Kemudian, mereka bisa mengobrol hingga akhirnya meminta transfer uang.

"Sangat mudah dan sangat murah untuk melakukan panggilan Zoom secara real-time dengan penggantian seluruh tubuh dan perubahan bunyi dengan langkah nan sepenuhnya realistis," kata Andrew Yoon, seorang peneliti di CivAI, sebuah organisasi nirlaba nan mengajarkan orang-orang tentang keahlian AI.

2. Selebritas Palsu

Sejak munculnya aplikasi kreator video instan seperti Sora dari OpenAI, media sosial telah dibanjiri dengan konten tiruan nan dibuat oleh AI. Video tiruan nan menampilkan selebriti Hollywood dan pelaksana upaya ternama tersebar luas lantaran begitu banyak gambar dan video mereka tersedia di web untuk membantu model AI menghasilkan imitasi nan nyaris sempurna.

Beberapa penipu telah mencoba mengeksploitasi selebriti dengan menggunakan status bintang mereka untuk memasarkan produk nan tidak ada.

Video deepfake jurumasak Gordon Ramsay, misalnya, beredar di media sosial dalam beberapa tahun terakhir untuk mempromosikan pemberian peralatan masak gratis. Korban nan mengira mereka bayar biaya pengiriman mini untuk wajan cuma-cuma rupanya memberikan nomor kartu angsuran mereka kepada penjahat.

3. Situs Toko Resmi Palsu

Iklan nan mengarahkan Anda ke situs penipuan nan dihasilkan oleh AI, seperti toko sepatu nan nyaris menipu wartawan New York Times, sangat marak di media sosial. Iklan tersebut mungkin relevan langsung dengan minat pribadi korban.

Itu lantaran para penipu bayar ruang iklan di TikTok dan IG untuk memanfaatkan perangkat nan sama nan digunakan pemasar sungguhan untuk menargetkan iklan kepada orang-orang dengan minat nan relevan, kata Beare dari Malwarebytes.

Para penjahat bisa menghabiskan duit tersebut untuk penargetan iklan. Pasalnya, tidak seperti merek sungguhan, mereka tidak mempunyai produk untuk dikirim.

Ada langkah untuk dengan sigap menentukan apakah toko online nan menyamar sebagai merek itu palsu. Metode sederhana adalah dengan melakukan pencarian Google untuk alamat web toko tersebut dan memandang obrolan di forum-forum online. Kemungkinan ada korban nan membagikan pengalaman mereka.

Cara paling mujarab untuk terbebas dari penipuan online sebenarnya sederhana. Jangan pernah percaya dengan iklan nan 'terlalu bagus untuk jadi kenyataan', alias video call nan tiba-tiba menanyakan berita lampau meminta uang. Tetap berhati-hati!

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya