Manufaktur RI Kena Hajar Luar Dalam, Kemenperin Lihat Ada Sinyal Baik

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Purchasing Manager's manufaktur RI bulan Juni 2026 dilaporkan turun ke level 46,9 dari posisi 50,0 di bulan Mei 2026. Sebagai catatan, posisi di bawah level 50,0 menunjukkan kondisi kontraksi.

Disebutkan, penurunan ini dipicu permintaan baru, baik dari pasar domestik maupun ekspor, nan berakibat pada penurunan aktivitas produksi, pembelian bahan baku, dan penyerapan tenaga kerja.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur RI nan dirilis S&P Global ini menunjukkan, penurunan solid pada kondisi operasional pabrik, merupakan salah satu nan paling besar dalam setahun.

Menurut Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti, menutup semester pertama 2026, kesehatan manufaktur Indonesia menurun 2 kali dalam tiga bulan terakhir.

Merespons kondisi ini, Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, data-data ini menunjukkan tantangan nan kudu dijawab sektor manufaktur Indonesia.

Apalagi, sambung dia, industri juga menghadapi lonjakan biaya produksi akibat kenaikan nilai bahan baku dan pelemahan nilai tukar, sehingga inflasi nilai input tercatat sebagai nan tertinggi kedua sejak survei PMI dimulai pada 2011.

"Kondisi ini perlu kita pandang sebagai tantangan nan kudu dijawab melalui penguatan kebijakan peningkatan daya saing industri nasional," kata Febri dalam keterangannya, Rabu (1/7/2026).

"Tekanan terhadap PMI pada bulan Juni lebih banyak dipengaruhi oleh pelemahan permintaan dan meningkatnya biaya produksi. Karena itu, konsentrasi pemerintah saat ini adalah memastikan beragam kebijakan strategis melangkah efektif agar beban industri dapat ditekan dan aktivitas manufaktur kembali meningkat," sambungnya.

Di sisi lain, dia menjabarkan, keahlian manufaktur nasional tetap menunjukkan resiliensi nan kuat di tengah meningkatnya tantangan dunia dan domestik. Meski menghadapi tantangan dari sisi produksi maupun permintaan selama Juni 2026, aktivitas industri tetap berada pada fase ekspansi nan tercermin dari capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebesar 52,90.

Dia mengakui, nomor ini memang melambat 0,66 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Tapi, imbuh dia, info tersebut menunjukkan optimisme pelaku industri tetap terjaga di tengah beragam dinamika ekonomi.

"Industri manufaktur nasional pada Juni menghadapi tantangan nan lebih kuat dibandingkan bulan sebelumnya. Tantangan tidak hanya berasal dari sisi produksi, tetapi juga mulai muncul dari sisi permintaan," ucapnya.

Selain itu, imbuh dia, pada Juni 2026, sebagian industri dan area industri juga menghadapi gangguan berupa pemadaman listrik nan menghalang proses produksi, terutama bagi industri nan operasional sepenuhnya berjuntai pada pasokan listrik.

"Pemadaman listrik nan terjadi di sejumlah industri dan area industri menyebabkan sebagian perusahaan kudu menghentikan proses produksinya selama gangguan berlangsung. Kondisi tersebut tentu memengaruhi efisiensi operasional industri," kata Febri.

"Meski demikian, sektor industri tetap menunjukkan resiliensi nan kuat sehingga aktivitas manufaktur nasional tetap tetap berada pada fase ekspansi pada bulan Juni 2026," ucapnya.

Karena itu, ujar Febri, langkah pemerintah menurunkan nilai gas industri dan menjaga penerapan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) merupakan kebijakan nan dapat berakibat nyata bahi efisiensi industri di Tanah Air. Kebijakan itu bakal menekan biaya daya bagi sektor-sektor industri nan menggunakan gas bumi sebagai bahan baku maupun sumber daya utama.

Seperti diketahui, pemerintah memutuskan menurunkan nilai liquefied natural gas (LNG) untuk sektor industri menjadi US$13 per MMBTU dari semula sekitar US$20-23 per MMBTU. Kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, langkah ini untuk menjaga daya saing industri nasional, sekaligus mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Kebijakan ini (HGBT) sudah dirasakan oleh pelaku industri dan terbukti bisa meningkatkan efisiensi produksi dan menjaga daya saing produk manufaktur Indonesia. Karena itu, penerapan HGBT perlu terus diperkuat agar manfaatnya semakin terserap secara optimal oleh seluruh industri penerima," kata Febri.

"Penurunan nilai gas industri hasil regasifikasi LNG tersebut menjadi angin segar bagi industri, dan merupakan salah satu solusi untuk mengembalikan PMI Manufaktur pada jalur ekspansi dalam beberapa bulan ke depan," tambahnya.

Ke depan, lanjutnya, tantangan dunia semakin kompleks, sehingga kebutuhan melindungi industri dalam negeri semakin krusial.

Perlindungan industri dalam negeri ini, ucapnya, bukan hanya untuk menjaga kelangsungan usaha. Tapi juga instrumen vital untuk memayungi dan melindungi bumi ketenagakerjaan di Indonesia agar penyerapan tenaga kerja tetap terjaga dan akibat PHK dapat ditekan.

"Di tengah situasi di mana negara-negara pesaing tetap bergerak secara ekspansif, Pemerintah tidak bakal tinggal diam. Melalui keterlibatan dan kerjasama lintas Kementerian/Lembaga (K/L), Pemerintah bakal terus menerus berupaya menciptakan suasana upaya nan kondusif," tegasnya.

"Kementerian Perindustrian terus mengakselerasi beragam program strategis lainnya. Antara lain, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, fasilitasi investasi manufaktur, pengamanan pasar domestik dari praktik perdagangan tidak sehat, hingga ekspansi akses ekspor ke pasar nontradisional. Berbagai kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga utilisasi industri sekaligus meningkatkan daya saing manufaktur nasional di tengah dinamika ekonomi global," bebernya.

Febri menambahkan, di kembali penurunan PMI pada Juni, survei S&P Global menunjukkan tingkat optimisme pelaku industri terhadap prospek upaya dalam 12 bulan mendatang justru mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya.

"Optimisme tersebut ditopang oleh ekspektasi meredanya tekanan nilai serta membaiknya permintaan pasar," kata Febri.

Tegas! Ini Cara Menperin Perkuat Manufaktur RI & Saingi Negara KompetitorTegas! Ini Cara Menperin Perkuat Manufaktur RI & Saingi Negara Kompetitor Foto: CNBC INDONESIA

(dce/dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya