MBG Bikin Lebih Fokus, Orang Tua Siswa-siswi SD Sulawesi Tengah Tak Lagi Cemas

3 jam yang lalu 4
MBG Bikin Lebih Fokus, Orang Tua Siswa-siswi SD Sulawesi Tengah Tak Lagi Cemas Relawan menyiapkan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polda Sulteng.(Antara)

PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai mengubah keseharian anak-anak sekolah dasar di Kabupaten Tojo Una-Una. Bagi mereka, faedah program ini bukan hanya soal memperoleh makan di sekolah, tetapi juga merasa lebih berenergi, lebih siap mengikuti pelajaran, dan mulai memahami pentingnya kandungan gizi di dalam makanan.

Pengalaman itu disampaikan tiga siswa ialah Gayatri Kalyani Taha, siswi kelas 6 SDN 1 Ratolindo, Andi Arkan Raffi, siswa SD IT Al-Wahdah Tojo Una-Una, serta Muhammad Rizat Wikaldi dari SDN 1 Ampana Kota. Ketiganya merasakan perubahan nan berbeda sejak MBG datang di sekolah mereka.

Bagi Gayatri, perubahan nan paling terasa adalah berkurangnya kekhawatiran orang tua ketika dia berangkat sekolah tanpa bekal alias duit jajan. "Orang tua saya sudah tidak perlu cemas lagi jika kami kelaparan di sekolah lantaran sudah ada program Makan Bergizi Gratis nan diberikan kepada kami," ujarnya.

Manfaat serupa dirasakan Raffi. Sejak mendapatkan MBG, dia mengaku semakin jarang membawa duit jajan dan orang tuanya tidak perlu selalu menyiapkan sarapan alias bekal. Program tersebut juga mengubah langkah pandangnya terhadap makanan. Ia sekarang memahami bahwa nasi menjadi sumber karbohidrat, daging mengandung protein, sayur mengandung vitamin, dan buah menjadi sumber serat.

"Dulu saya berpikir makan hanya untuk menghilangkan rasa lapar. Sekarang saya sudah mengerti bahwa makanan itu banyak faedah gizinya. Saya mulai terbiasa menyantap sayur dan buah nan sebelumnya kurang suka," kata Raffi. 

Sementara itu, Rizat memandang pengaruh MBG pada kesiapan siswa mengikuti pembelajaran. Sebelum program berjalan, dia kerap memandang teman-temannya kurang konsentrasi lantaran belum sarapan. Sebagian orang tua kudu berangkat bekerja lebih pagi sehingga tidak sempat menyiapkan makanan, sementara sebagian anak mempunyai argumen lain untuk melewatkan sarapan. "Setelah kami mendapatkan program ini, saya memandang teman-teman menjadi lebih berenergi dan lebih fokus," tutur Rizat. 

Meski demikian, dia menilai kecukupan gizi tidak otomatis membikin seorang anak lebih pandai alias berprestasi. Menurutnya, hasil belajar tetap memerlukan kemauan belajar dan support orang tua.

Pandangan itu juga tergambar dari pengalaman Gayatri dan Raffi. Gayatri merasa lebih konsentrasi dan antusias mengikuti pelajaran setelah makan, sedangkan Raffi menilai tubuh nan sehat membantu siswa berkonsentrasi dengan lebih baik. Suara ketiganya menunjukkan bahwa MBG berkedudukan sebagai penopang kesiapan belajar, bukan pengganti proses belajar itu sendiri.

LEBIH BERVARIASI
Di kembali faedah nan dirasakan, anak-anak juga menyampaikan pertimbangan secara terbuka. Mereka menilai menu MBG secara umum sudah baik dan enak, tetapi selera setiap siswa berbeda. Ada anak nan lebih menyukai ayam daripada ikan, tempe daripada tahu, alias belum terbiasa mengonsumsi sayur dan telur.

Raffi mengatakan dia tetap berupaya menghabiskan makanan agar kebutuhan gizinya terpenuhi dan makanan tidak terbuang. Gayatri juga memilih berterima kasih atas makanan nan diterima, meskipun mengakui ada beberapa menu nan belum sesuai seleranya. Keduanya berambisi rasa dan ragam menu terus diperbaiki agar anak-anak tidak bosan.

Rizat mengingatkan bahwa MBG tidak dirancang sekadar mengikuti makanan kesukaan anak, melainkan memastikan tubuh mereka memperoleh asupan bergizi. Namun, dia tetap mengusulkan ragam pengolahan bahan makanan, misalnya telur, ayam, alias nasi nan disajikan dalam corak berbeda dari hari ke hari.

Ia juga menyoroti ketepatan waktu distribusi. Makanan nan tiba tepat waktu bakal tetap hangat dan segar saat disantap. Selain itu, siswa perlu mendapatkan edukasi sederhana mengenai kandungan makanan di dalam piring mereka, sementara pemerintah dan sekolah perlu membuka ruang masukan bagi guru, orang tua, dan anak-anak penerima manfaat.

SISA MAKANAN
Persoalan sisa makanan menjadi perhatian ketiga siswa. Gayatri mengaku sedih ketika makanan dibuang lantaran ada tenaga para petugas dapur di kembali setiap porsi. Raffi juga tetap memandang teman-temannya tidak menghabiskan makanan lantaran persoalan selera. Menurut mereka, ragam menu perlu melangkah beriringan dengan pembiasaan agar siswa menghargai makanan dan tidak menyia-nyiakannya.

Bagi sebagian keluarga, MBG apalagi mempunyai makna nan lebih besar. Rizat menceritakan adanya siswa nan menyisakan sebagian makanan untuk dibawa pulang dan disantap kembali di rumah. Kisah ini memperlihatkan bahwa satu porsi makanan sekolah dapat memberi faedah melampaui jam belajar, terutama bagi anak dari family nan membutuhkan. Karena itu, ketiganya menilai MBG layak dilanjutkan dengan perbaikan berkelanjutan. 

Pemerintah berkedudukan memastikan anggaran, kualitas makanan, dan pengawasan. Di sisi lain sekolah dan pembimbing mengawal penyelenggaraan serta memberi edukasi. Sementara itu orang tua memberikan dukungan, sedangkan siswa bertanggung jawab menghargai dan menghabiskan makanan nan diterima.

Rizat turut menitipkan satu angan penting. Ia berambisi pembangunan dapur pelayanan MBG perlu diperluas hingga wilayah terpencil agar faedah program tidak hanya dirasakan anak-anak di pusat kota. Gayatri berambisi kualitas rasa dan gizi terus diperhatikan, sedangkan Raffi berambisi program ini dapat terus membantu pemenuhan gizi anak-anak Indonesia.

"Saya mau MBG ini berkembang lebih baik setiap harinya, menunya lebih bervariasi, dan pemerintah mau menerima masukan. Bangun juga dapur-dapur di wilayah terpencil agar anak-anak di sana dapat merasakan faedah Makan Bergizi Gratis," tutup Rizat. (E-2)

Selengkapnya