Membaca Arah Baru Fleksibilitas Fiskal Indonesia

3 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

loading...

Perdana Wahyu Santosa, Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, dan Direktur Riset GREAT Institute. Foto: Istimewa

Perdana Wahyu Santosa
Profesor Ekonomi, Dekan FEB Universitas YARSI, dan Direktur Riset GREAT Institute

KEBIJAKAN fiskal kerap diibaratkan sebagai kemudi utama dalam lambung kapal besar berjulukan ekonomi nasional. Ketika angin besar ketidakpastian dunia berembus kencang dan gejolak geopolitik bumi tak kunjung mereda, seorang nahkoda nan bijak tentu tahu kapan kudu memperketat kendali dan kapan kudu memberikan ruang mobilitas agar kapal bisa melaju lebih lincah menembus ombak.

Maka langkah Pemerintah Indonesia nan memilih arah kebijakan fiskal ekspansif dengan memberikan elastisitas tambahan pada struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara kudu dibaca dalam kerangka kepemimpinan ekonomi nan adaptif, berani, dan visioner ini. Di tengah derasnya diskursus publik mengenai pemisah disiplin anggaran, kelonggaran fiskal nan terukur bukanlah pertanda kelemahan manajemen, melainkan sebuah respons taktis nan sangat logis untuk melindungi momentum pertumbuhan domestik serta memastikan program-program strategis prioritas nasional dapat melangkah berkesinambungan tanpa halangan birokrasi nan berbelit-belit.

Akar dari pilihan kebijakan fiskal ekspansif ini berhulu pada peran krusial APBN nan tidak sekadar berfaedah sebagai perangkat pencatat penerimaan dan pengeluaran negara, melainkan sebagai perisai utama penahan guncangan sekaligus mesin penggerak transformasi struktural. Kita tidak boleh menutup mata terhadap kebenaran bahwa daya beli masyarakat kudu terus dirawat dengan insentif nan tepat dan kapabilitas operasional bumi upaya perlu diakselerasi secara konsisten pasca-pandemi.

Melalui ruang fiskal nan lebih bergerak dan elastis, pemerintah mempunyai amunisi nan memadai untuk melakukan intervensi ekonomi nan tepat sasaran, inklusif, dan berkeadilan. Skema pelonggaran ini memberikan agunan bahwa agenda besar menuju Indonesia Emas tidak bakal tersandera oleh rigiditas patokan anggaran nan terlalu kaku, asalkan instrumen penopangnya dikelola secara ahli dan transparan.

Selengkapnya