Membangun Angkatan Laut Modern: Era Globalization 2.0 dan Economic Warfare

3 jam yang lalu 4

loading...

Laksma TNI Salim, Kapusjianmar Seskoal. Foto/istimewa

Laksma TNI Salim
Kapusjianmar Seskoal

SEJARAH peradaban maritim bumi sekarang berada di periode titik kembali radikal. Selama lebih dari satu abad, ajaran kekuatan laut dunia didikte oleh paradigma tradisional Alfred Thayer Mahan nan mengagungkan Sea Control, konsentrasi armada capital ships seperti kapal induk, serta bentrok terbuka fleet-on-fleet demi menguasai jalur logistik dunia. Namun, dinamika geopolitik mutakhir terutama tercermin dari konstelasi strategis pertempuran asimetris antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel telah meruntuhkan mitos kekuasaan absolut tersebut.

Konflik ini membuktikan secara empiris bahwa hegemoni kekuatan konvensional dapat dipatahkan oleh efektivitas doktrin maritim modern: strategi Sea Denial, kerangka Anti-Access/Area Denial (A2/AD) ala Iran dan China, serta pendekatan taktis Hybrid & Distributed Lethality. Di tengah era Globalization 2.0 nan diwarnai oleh fragmentasi ekonomi, perang dagang, dan kerentanan rantai pasok global, ukuran besar sebuah angkatan laut tidak lagi ditentukan oleh tonase besi baja semata, melainkan oleh ketepatan kalkulasi cost-asymmetry dan daya gentar strategis (strategic deterrence).

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, pergeseran paradigma dunia ini bukan sekadar kajian akademis, melainkan panggilan sejarah nan mendesak. Sebagai negara kepulauan terbesar di bumi nan membentang di antara dua samudera, kedaulatan Nusantara tidak boleh lagi hanya berjuntai pada mimpi usang penguasaan laut penuh (Sea Control) nan menelan biaya finansial raksasa dan rentan terhadap modern precision-strike.

Indonesia kudu berani melakukan transformasi doktrinal dengan mengangkat dan mengombinasikan pilar-pilar strategis modern: mengoptimalkan strategi Sea Denial untuk mengamankan perairan teritorial, memaksimalkan potensi teori Anti-Access di celah-celah chokepoints strategis Indonesia, serta merevitalisasi semangat Jeune École modern melalui pemanfaatan teknologi nirawak, armada sigap berkekuatan hancur tinggi (distributed lethality), dan sistem pertahanan pesisir nan terintegrasi.

Transformasi ini adalah nilai meninggal untuk melindungi kekayaan ekonomi nasional dari cengkeraman economic warfare global. Bangsa Indonesia kudu sadar bahwa kekuatan pertahanan maritim masa depan lahir dari kepintaran taktis, kemandirian industri pertahanan lokal, dan keberanian merangkul peperangan asimetris nan efisien. Dengan membangun postur angkatan laut nan adaptif, berbasis teknologi adaptif, dan berakar pada doktrin pertahanan rakyat semesta, Indonesia tidak hanya bakal disegani secara militer, tetapi juga bisa menjaga kedaulatan ekonomi serta martabat bangsa di kancah peradaban maritim dunia abad ke-21.

Memasuki fajar Globalization 2.0, lanskap geopolitik dan ekonomi bumi tidak lagi dicirikan oleh integrasi pasar nan mulus, melainkan oleh fragmentasi blok ekonomi, kebijakan de-risking, serta proteksionisme jalur pasokan nan kian pekat. Di saat nan sama, hadirnya era Economic Warfare di mana sanksi, embargo, dan gangguan jalur logistik dijadikan senjata utama menuntut perubahan mendasar dalam langkah sebuah bangsa memandang kekuatan maritimnya.

Selengkapnya