ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menitipkan pesan kepada generasi muda, seperti generasi Z maupun generasi alpha, nan bakal memasuki bumi kerja dalam lima hingga 10 tahun ke depan. Menurut dia, persaingan tenaga kerja ke depan tak lagi hanya soal adu piagam alias bersaing dengan sesama pencari kerja, tetapi juga soal keahlian beradaptasi dengan perubahan teknologi dan tuntutan industri nan terus bergerak.
Karena itu, Yassierli menekankan pentingnya anak muda membekali diri dengan keahlian nan relevan dengan kebutuhan bumi usaha. Ia menilai perusahaan sekarang lebih mencari tenaga kerja nan mempunyai skill nan sesuai, bukan semata-mata latar belakang pendidikan formal.
"Ya ada sebuah istilah nan menarik sebenarnya, saya sering sampaikan 'Skill not School'. Jadi nan dicari itu oleh bumi industri adalah skill, dan banyak report juga mengatakan perusahaan itu kesulitan mencari orang nan secara skill itu memang sesuai dengan nan mereka harapkan," kata Yassierli dalam Economics Update CNBC Indonesia, Jumat (3/7/2026).
Menurut dia, kebutuhan bumi kerja saat ini tidak lagi bertumpu pada satu jenis keahlian saja. Perusahaan, kata dia, sekarang mencari kombinasi beragam keterampilan, mulai dari keahlian teknis hingga soft skill alias human skill, sesuai karakter dan kebutuhan upaya masing-masing.
"Bisa jadi mereka mengharapkan ada kombinasi dari beberapa skill. Skill itu ada technical, ada soft skill alias human skill dan seterusnya. Karena mereka memerlukan kompetensi karakter profile nan sesuai dengan upaya mereka," ujarnya
Yassierli mengatakan, tantangan bagi angkatan kerja muda adalah kebutuhan skill nan terus berubah seiring perkembangan industri dan teknologi. Karena itu, dia menilai kesiapan untuk terus belajar perihal baru menjadi syarat utama agar tetap relevan di pasar kerja.
"Jadi pesan saya nan pertama, Skill not School. Tapi skill nan dibutuhkan oleh perusahaan ini berkembang terus, sehingga nan dibutuhkan adalah kesiapan siapapun angkatan kerja kita itu, untuk belajar sesuatu nan baru," tutur dia.
Ia pun menekankan pentingnya mempunyai growth mindset. Menurut Yassierli, anak muda tidak boleh merasa cukup hanya dengan satu bagian skill alias terpaku pada bidang pendidikan nan pernah ditempuh, karena perubahan industri bisa membikin keahlian lama menjadi tidak lagi relevan.
"Maka mindset nan kudu dimiliki adalah growth mindset. ini nan sering juga saya sampaikan, jangan kemudian 'ya sudah saya kan lulusan SMK teknik nggak mungkin lah saya belajar tentang IT', nggak boleh itu gitu ya," pesannya.
Yassierli menilai pekerja masa depan kudu siap mengembangkan lebih dari satu kompetensi agar bisa memperkuat di tengah disrupsi. Dengan begitu, tenaga kerja tak hanya mempunyai satu keahlian, tetapi bisa menggabungkan dua hingga tiga kompetensi sekaligus sesuai kebutuhan industri.
"Walaupun sehebat-hebatnya dia, ada disrupsi tuntutan industri berubah, banyak nan kemudian menjadi tidak relevan lagi skill-nya, maka solusinya adalah mindset Anda kudu berubah, bahwa Anda juga bakal bisa ya mengembangkan diri Anda untuk mendapatkan kompetensi nan baru, sehingga istilahnya itu tidak cukup satu, bisa jadi dua, bisa jadi tiga kompetensi, nan itu terintegrasi hasil dari kesiapan dia untuk terus mau mengembangkan diri, untuk mendapatkan skill-skill nan baru," kata Yassierli.
Ia menegaskan, pemerintah terus berupaya menyiapkan tenaga kerja Indonesia agar lebih siap menghadapi perubahan kebutuhan bumi kerja, termasuk melalui beragam program training dan pengembangan keterampilan.
"Ya kita terus mencoba nan terbaik," pungkasnya.
(dce)
Addsource on Google

1 hari yang lalu
5








English (US) ·
Indonesian (ID) ·