Mendagri: Pemulihan Bencana Sumatra tak Cukup Setahun

1 jam yang lalu 3
 Pemulihan Bencana Sumatra tak Cukup Setahun Mendagri Tito Karnavian.(dok.MI)

MENTERI Dalam Negeri Tito Karnavian menegaskan pemulihan akibat musibah besar nan melanda tiga provinsi di Sumatra tidak mungkin dapat dituntaskan hanya dalam waktu satu tahun. Luasnya wilayah terdampak dan besarnya kerusakan membikin proses rehabilitasi memerlukan waktu lebih panjang.

"Jujur saja ini, luasnya akibat ini memerlukan waktu. Tidak bisa diselesaikan dalam waktu setahun saja. Saya jamin tidak bakal bisa. Ini bukan satu hamparan," kata Tito di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (5/8).

Menurut Tito, pemerintah tidak mau menyederhanakan persoalan lantaran skala musibah kali ini sangat besar. Bencana tersebut melanda tiga provinsi dengan total 53 kabupaten/kota dan 4.593 desa terdampak.

"Jarang-jarang ada musibah tiga provinsi. Jumlah kabupaten kota terdampak 53. Nah, enggak main-main. Pernahkah 53 kabupaten kota terdampak dalam satu bencana? Kayaknya di era modern enggak ada," ujarnya.

Data pemerintah hingga 4 Agustus menunjukkan kerusakan terjadi di beragam sektor. Sebanyak 4.922 akomodasi pendidikan mengalami kerusakan ringan hingga berat, disusul 954 akomodasi kesehatan dan 1.593 tempat ibadah.

Di sektor infrastruktur, sebanyak 1.193 jembatan terdampak akibat ambrol, jebol, alias putus. Kerusakan juga terjadi pada 2.495 ruas jalan pusat maupun daerah, serta 1.300 akomodasi umum.

Korban jiwa terus bertambah seiring pembaruan data. Hingga 4 Agustus, jumlah korban meninggal mencapai 1.207 orang, sementara 138 orang tetap dinyatakan hilang.

Kerusakan rumah juga sangat besar. Tercatat sebanyak 184.149 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas sekitar 95 ribu rumah rusak ringan, lebih dari 43 ribu rumah rusak sedang, serta 45.222 rumah rusak berat alias lenyap akibat longsor maupun hancur.

Tito mengatakan, sepanjang kariernya sebagai personil Polri hingga menjadi Menteri Dalam Negeri, dia belum pernah menyaksikan musibah dengan cakupan seluas ini.

"Bagi saya sendiri pribadi, sebagai mantan polisi, nan pernah menjadi Kapolres, Kapolda, Kapolri hingga menjadi Menteri Dalam Negeri, saya belum pernah mengalami peristiwa musibah nan seluas ini. Pernah saya mengalami gempa bumi, longsor, tsunami di Palu, pernah di Lombok, tapi tidak seluas ini," katanya.

Ia menjelaskan, penanganan terus dilakukan di seluruh wilayah terdampak. Di Sumatra Barat, sebagian besar wilayah sudah kembali normal, namun Kabupaten Agam dan Padang Pariaman tetap menjadi perhatian khusus.

Di Sumatra Utara, pemerintah tetap memfokuskan penanganan di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Utara. Sementara di Aceh, tujuh kabupaten tetap memerlukan perhatian unik sehingga pemerintah mengerahkan sekitar 3.000 mahasiswa IPDN untuk membantu percepatan pemulihan.

Menurut Tito, tantangan terbesar berada di wilayah dataran tinggi nan mengalami longsor, perubahan aliran sungai, serta kerusakan jalan dan jembatan. Karena itu, pemerintah bakal melanjutkan rehabilitasi secara berjenjang hingga seluruh wilayah dapat kembali pulih. (Mir/P-3)

Selengkapnya