Mengapa Orang Baik Memilih Diam?

2 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

loading...

Taufiq Fredrik Pasiak, Ilmuwan Otak dan Perilaku, Dekan Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta. Foto/Dok.Pribadi

Taufiq Fredrik Pasiak
Ilmuwan Otak dan Perilaku, Dekan Fakultas Kedokteran UPN "Veteran" Jakarta

SETIAP hari kita menyaksikan pemandangan nan menarik. Banyak orang dengan ringan hati melakukan kebaikan: membantu tetangga, menyumbang korban bencana, menghibur kawan nan sedang berduka, alias sekadar tersenyum kepada orang nan tidak dikenal. Namun, ketika di hadapan mereka terjadi ketidakadilan, perundungan, korupsi, kebohongan, alias penyalahgunaan kekuasaan, jumlah orang nan bersedia bersuara tiba-tiba menyusut drastis.

Sebagian memilih diam. Sebagian lagi berpura-pura tidak melihat. Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya sangat kompleks: kenapa melakukan baik jauh lebih mudah daripada melawan kejahatan?

Neurosains (ilmu otak dan perilaku) memberikan penjelasan nan menarik. Otak manusia bukanlah organ nan pertama-tama dirancang untuk menjadi pejuang dan pahlawan moral.

Selama jutaan tahun evolusi, tugas utama otak adalah mempertahankan kehidupan. Karena itu, sistem saraf kita berkembang menjadi mesin pendeteksi ancaman nan sangat sensitif.

Sedikit saja muncul kemungkinan bahaya, katakanlah seperti ditolak kelompok, kehilangan status, dimusuhi orang lain, alias menghadapi konflik, maka secepat kilat otak segera mengaktifkan sistem kewaspadaan. Respons ini berjalan sangat cepat, apalagi sering kali lebih sigap daripada proses berpikir rasional.

Dalam bahasa neurosains, jalur ancaman langsung menuju ke area otak berjulukan amygdala nan emosional. Tidak melalui korteks otak nan rasional.

Itulah sebabnya kenapa keberanian bukanlah kondisi alami otak. Keberanian justru muncul ketika bagian otak nan bertanggung jawab atas kegunaan pelaksana bisa mengendalikan sinyal ancaman tersebut.

Seseorang nan tetap memihak kebenaran meskipun menghadapi akibat bukan berfaedah tidak mempunyai rasa takut. Ia justru bisa mengelola rasa takut itu sehingga tidak menguasai keputusannya. Dengan kata lain, melawan kejahatan merupakan pekerjaan nan jauh lebih berat dibandingkan sekadar melakukan kebaikan.

Psikologi sosial memperlihatkan realita nan sama melalui kejadian nan dikenal sebagai bystander effect. Semakin banyak orang menyaksikan suatu pelanggaran, semakin mini kemungkinan seseorang bertindak.

Setiap perseorangan berambisi orang lainlah nan bakal mengambil langkah pertama. Tanggung jawab menjadi tersebar.

Akibatnya, semua orang merasa tidak mempunyai tanggungjawab langsung. Ironisnya, kehadiran banyak saksi justru dapat menghasilkan keheningan bersama.

Fenomena ini menjelaskan kenapa begitu banyak corak ketidakadilan dapat berjalan lama di tengah masyarakat. Bukan lantaran tidak ada orang baik, melainkan lantaran orang baik sering kali memilih tetap menjadi penonton.

Mereka tidak setuju terhadap kejahatan, tetapi juga tidak cukup berani untuk menghentikannya. Dalam banyak kasus, tak bersuara akhirnya menjadi corak persetujuan nan tidak diucapkan.

Namun, bystander effect hanyalah salah satu bagian dari cerita. Psikologi sosial mengenal sebuah konsep lain nan disebut spiral of silence.

Teori ini menjelaskan bahwa seseorang condong enggan mengemukakan pendapatnya andaikan dia merasa berada di pihak nan minoritas alias berisiko ditolak oleh lingkungan sosialnya. Ketakutan terhadap isolasi sosial rupanya merupakan salah satu kekuatan paling besar nan memengaruhi perilaku manusia.

Fenomena spiral itu menjelaskan kenapa dalam banyak organisasi, institusi, apalagi negara, begitu banyak orang sebenarnya mengetahui adanya penyimpangan, tetapi memilih diam. Bukan lantaran mereka setuju, melainkan lantaran mereka memperkirakan bahwa biaya sosial untuk berbincang jauh lebih besar daripada faedah nan bakal diperoleh.

Selengkapnya