Kelompok Bersenjata Culik Menteri RI, Dicurigai Intel Asing

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX
Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik nan menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lampau lewat relevansinya di masa kini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejarah Indonesia menyimpan kisah tragis nan menimpa salah satu menteri pada masa awal kemerdekaan. Tokoh tersebut adalah Otto Iskandar Dinata alias Otista, nan diculik golongan bersenjata setelah dituduh sebagai intel asing. Hingga kini, akhir nasibnya tetap menjadi misteri.

Nama Otto Iskandar Dinata dikenal luas sebagai pahlawan nasional. Wajahnya diabadikan pada duit pecahan Rp20 ribu, sementara namanya digunakan sebagai nama jalan utama di beragam daerah. Namun, di kembali pengabdiannya bagi bangsa, perjalanan hidupnya berhujung dengan kisah nan penuh tanda tanya.

Peristiwa penculikan itu terjadi di tengah situasi Indonesia nan tetap bergolak usai Proklamasi Kemerdekaan. Berbagai golongan bersenjata bermunculan dengan kepentingannya masing-masing. Dalam kondisi tersebut, Otto justru menjadi sasaran tuduhan sebagai mata-mata asing hingga akhirnya diculik.

Otto merupakan tokoh krusial dalam pergerakan nasional. Dalam kitab Si Jalak Harupat, Biografi Otto Iskandardinata (2003), disebutkan, pada dasawarsa 1920-an dia aktif di organisasi Boedi Oetomo. Menjelang kemerdekaan, Otto juga terlibat dalam proses politik sebagai personil Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno menunjuk Otto sebagai Menteri Negara. Saat itu, kondisi keamanan Indonesia tetap kacau dan pemerintah belum mempunyai angkatan bersenjata nan terorganisasi dengan baik.

Otto mendapat tugas membantu membentuk kekuatan militer nasional. Tantangannya besar lantaran banyak golongan bersenjata berasal dari latar belakang berbeda. Mulai dari eks personil PETA dan Heiho buatan Jepang hingga jejak prajurit KNIL peninggalan Belanda.

Perbedaan latar belakang tersebut memicu ego sektoral. Banyak golongan menolak dilebur ke dalam satu komando dan memilih bergerak sendiri. Sebagian apalagi menentang pemerintah pusat dengan cara-cara keras demi memperjuangkan kemerdekaan. Situasi inilah nan kemudian menjadi awal petaka bagi Otto.

Pada 19 Desember 1945, Otto Iskandar Dinata diculik golongan bersenjata berjulukan Laskar Hitam di Tangerang. Dia kemudian dibawa menuju area pesisir Pantai Mauk. Sejak saat itu, Otto menghilang tanpa jejak.

Menurut Iip D. Yahya dalam kitab Oto Iskandar di Nata: The Untold Stories (2017), penculikan tersebut dipicu desas-desus nan disebarkan agen-agen Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Otto dituduh sebagai mata-mata Belanda. Isu itu diduga sengaja dihembuskan untuk menyingkirkan tokoh-tokoh nan dianggap menghalang persatuan Indonesia.

Di kalangan Laskar Hitam juga beredar berita bahwa Otto menguasai duit sebesar satu juta gulden Belanda. Tuduhan tersebut dipakai untuk memperkuat narasi Otto berpihak kepada Belanda. Padahal, menurut Iip, duit itu berasal dari rampasan perang Jepang nan memang berbentuk gulden Belanda.

Sejak penculikan tersebut, keberadaan Otto tak pernah diketahui. Dia diduga telah dibunuh dan jasadnya dibuang ke laut. Karena tidak pernah ada kepastian mengenai nasibnya, pemerintah akhirnya menetapkan 20 Desember 1945 sebagai tanggal wafat Otto Iskandar Dinata.

Tujuh tahun kemudian, pemerintah menggelar pemakaman simbolis di Bandung. Peti jenazah nan dimakamkan tidak berisi jasad Otto, melainkan hanya pasir dan air laut. Makam simbolis itu berada di Monumen Pasir Pahlawan.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya