Mengapa Reservasi Restoran Mewah AS Kini semakin Sulit Didapat?

1 jam yang lalu 4
Mengapa Reservasi Restoran Mewah AS Kini semakin Sulit Didapat? Ilustrasi.(Magnific)

PERNAHKAH Anda mencoba memesan meja di restoran favorit tetapi selalu gagal? Meskipun sudah masuk ke aplikasi tepat pada tengah malam beberapa minggu sebelumnya, slot nan tersedia hanya pukul 17.00 alias 22.30 atau apalagi semua slot sudah ludes terjual. Fenomena ini tidak lagi hanya terjadi di New York alias Los Angeles, tetapi mulai merambah ke beragam kota besar lain.

Kesulitan mendapatkan reservasi di restoran kelas atas ini dipicu oleh persaingan sengit antara aplikasi reservasi, perusahaan kartu kredit, dan industri perantara. Mereka semua memperebutkan akses ke pengguna kelas atas nan menyumbang sekitar seperempat dari total pengeluaran makan di luar penduduk Amerika nan mencapai US$1,5 triliun (sekitar Rp23.800 triliun).

Perang Eksklusivitas Aplikasi dan Kartu Kredit

Aplikasi reservasi sekarang berlomba-lomba mengontrak restoran untuk mengunci meja secara eksklusif bagi pengguna utama mereka. Perusahaan kartu angsuran seperti American Express (yang membeli Resy pada 2019), Visa, dan Chase juga turut campur. Mereka bayar restoran untuk mendapatkan blok bangku lebih awal agar bisa menawarkan reservasi eksklusif sebagai akomodasi bagi pemegang kartu premium mereka.

Debby Soo, CEO OpenTable, mengakui ada insentif tunai untuk memenangkan kembali restoran-restoran ternama ke platform mereka. "Kami masuk ke permainan ini lantaran memang perlu dilakukan," ujarnya. Di sisi lain, DoorDash juga memperkuat posisinya dengan mengakuisisi SevenRooms senilai US$1,2 miliar tahun lalu.

Data Industri: Menurut National Restaurant Association, biaya tenaga kerja dan operasional nan melonjak membikin margin untung restoran sangat tipis, dengan median pendapatan sebelum pajak hanya 2,8% dari penjualan tahun lalu.

Munculnya Pasar Sekunder dan Bot

Kelangkaan ini melahirkan pasar sekunder nan kontroversial. Muncul aplikasi dan bot nan menjanjikan akses melewati antrean reservasi resmi. Platform seperti TableOne mengenakan biaya langganan tahunan sekitar US$129 (Rp2 juta) untuk memantau pembukaan slot reservasi secara instan.

Bahkan, ada situs seperti Apartment Trader nan melelang reservasi hasil tangkapan bot AI dengan nilai mencapai ratusan hingga ribuan dolar. Praktik pembajakan reservasi ini memicu tindakan tegas dari pemerintah di beberapa negara bagian seperti Illinois dan New York.

Strategi Bertahan Restoran

Bagi pemilik restoran, teknologi itu merupakan pedang bermata dua. John Winterman, pemilik restoran Francie di Brooklyn nan mempunyai bintang Michelin, mengaku kudu menggunakan beragam platform sekaligus seperti Resy, OpenTable, dan SevenRooms untuk menjangkau pengguna di mana pun mereka berada.

Namun, ketergantungan pada teknologi juga membikin hubungan antara restoran dan pengguna terasa semakin jauh. Beberapa restoran sekarang mulai menawarkan akun rumah atau keanggotaan pribadi agar pengguna setia tetap bisa mendapatkan meja tanpa kudu berebut di aplikasi.

Tips Mendapatkan Meja: Kembali ke Cara Lama

Di tengah kerumitan teknologi ini, Mike Anthony, jurumasak pelaksana di Gramercy Tavern, menyarankan strategi lama nan sering dilupakan: menelepon langsung.

"Banyak orang tidak menyadari bahwa ada tingkat pembatalan dan no-show sebesar 10 hingga 15 persen di setiap restoran. Restoran sangat mau mengisi meja-meja kosong tersebut," pungkasnya. Jadi, sebelum menyerah pada aplikasi, mencoba menghubungi restoran secara langsung mungkin bisa menjadi solusi ajaib Anda. (The Wall Street Journal/I-2)

Selengkapnya