Mengenal Bakteriofag, Virus di Usus yang Menargetkan Bakteri 

58 menit yang lalu 3
Mengenal Bakteriofag, Virus di Usus nan Menargetkan Bakteri  Ilustrasi Bakteriofag(Dok.National institutes of Health)

ADA  virus nan mempunyai peran berbeda dan justru dapat membantu mengatur populasi mikroorganisme di dalam tubuh. Salah satunya adalah bakteriofag, virus nan menginfeksi bakteri dan ditemukan di dalam usus. Lalu, apa nan sebenarnya terjadi ketika virus di usus berinteraksi dengan bakteri? 

Menurut National Institutes of Health, usus manusia menjadi tempat hidup beragam mikroorganisme, termasuk bakteri, jamur, dan virus. Di dalamnya terdapat virus nan menginfeksi bakteri, ialah bakteriofag alias fag. 

Fag merupakan bagian dari virome manusia dan berkedudukan dalam mengatur populasi kuman serta ekosistem mikroba di dalam tubuh.

Fag mempunyai keahlian menargetkan kuman tertentu. Peneliti dari Human Virome Program NIH menggunakan metode viral tagging, ialah menandai fag dengan pewarna fluoresen untuk melacak interaksinya dengan bakteri. 

Pada penelitian terhadap Faecalibacterium prausnitzii, kuman nan banyak ditemukan di usus, peneliti menemukan lebih dari 300 pasangan baru antara kuman dan fag. Temuan ini dapat membantu peneliti memahami gimana fag berinteraksi dengan kuman dan kaitannya dengan kesehatan usus. 

Penemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memahami lebih jauh hubungan antara virus dan kuman di dalam usus. Namun, penelitian mengenai gimana setiap fag memengaruhi kuman inangnya dan dampaknya terhadap kesehatan manusia tetap terus dilakukan. 

Antimikroba

Kemampuan fag dalam menargetkan kuman juga mendapat perhatian dalam menghadapi resistensi antimikroba (AMR). Menurut WHO, bakteriofag merupakan virus nan secara selektif menargetkan dan membunuh bakteri, termasuk kuman nan resisten terhadap antibiotik. Fag tidak menginfeksi sel manusia dan mempunyai keahlian menargetkan kuman secara spesifik. 

Dalam terapi, fag dapat digunakan secara unik untuk jangkitan tertentu dan berpotensi dikombinasikan dengan antibiotik. WHO juga mencatat adanya laporan keberhasilan penggunaan terapi fag terhadap jangkitan kuman resisten, termasuk Staphylococcus aureus nan resisten terhadap metisilin dan Pseudomonas aeruginosa.

Meski demikian, fag belum dapat digunakan untuk mengatasi semua jangkitan bakteri. Bakteri dapat mengembangkan resistensi terhadap fag, sementara tidak semua jangkitan mempunyai fag nan sesuai. WHO menegaskan bahwa bukti dari studi klinis tetap diperlukan sebelum terapi fag dapat digunakan secara lebih luas pada manusia.

Karena itu, bakteriofag saat ini lebih tepat dipandang sebagai salah satu pendekatan nan sedang dikembangkan untuk menghadapi kuman resisten antibiotik, bukan sebagai pengganti antibiotik nan sudah terbukti secara universal.  (H-4)

Selengkapnya