Mengenal Desa Adat Sade: Penjaga Tradisi Suku Sasak

2 jam yang lalu 4
 Penjaga Tradisi Suku Sasak Pemandu wisata berbincang dengan visitor asing di Desa wisata budaya Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Jumat (23/5/2025).(Antara)

DESA Adat Sade nan terletak di Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, bukan sekadar destinasi wisata. Bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat, Sade adalah simbol keteguhan dalam menjaga identitas budaya Suku Sasak. Di tengah arus modernisasi nan pesat, desa ini tetap mempertahankan arsitektur, budaya istiadat, dan pola hidup nan telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.

Peristiwa kebakaran nan dilaporkan terjadi pada 22 Agustus 2026 menjadi pengingat sungguh berharganya warisan budaya ini. Untuk memahami nilai dari setiap jengkal tanah di Sade, kita perlu menengok jauh ke belakang, memahami akar sejarah dan filosofi nan membentuk desa ini menjadi salah satu desa budaya paling ikonik di Indonesia.

Asal-usul dan Akar Sejarah Desa Sade

Secara etimologi, nama "Sade" berasal dari kata dalam bahasa Sasak nan berfaedah "kesadaran" alias "nyata". Nama ini mencerminkan filosofi hidup masyarakatnya nan senantiasa sadar bakal asal-usul dan jati diri mereka sebagai bagian dari alam dan pencipta. Desa ini diperkirakan sudah ada sejak era Kerajaan Pejanggik, salah satu kerajaan besar di Lombok pada masa lampau.

Masyarakat Sade merupakan bagian dari Suku Sasak asli. Mereka telah mendiami wilayah perbukitan di Lombok Tengah ini selama lebih dari 15 generasi. Keberadaan mereka di letak nan agak tinggi dan kering secara geografis membentuk karakter masyarakat nan handal dan mandiri. Sejarah mencatat bahwa Sade tetap memperkuat meskipun pusat-pusat kekuasaan di sekitarnya mengalami pasang surut, mulai dari pengaruh kerajaan lokal hingga masa kolonialisme.

Arsitektur Bale Tani: Filosofi di Balik Bangunan

Salah satu aspek sejarah nan paling menonjol dari Desa Sade adalah arsitektur bangunannya nan tidak berubah selama berabad-abad. Rumah tradisional di sini disebut Bale Tani. Struktur gedung ini mempunyai karakter unik unik nan sarat bakal makna filosofis:

  • Atap Alang-alang: Melambangkan kedekatan dengan alam dan memberikan kesejukan di dalam ruangan.
  • Dinding Bambu (Bedek): Mencerminkan kesederhanaan dan keterbukaan antar sesama warga.
  • Lantai Tanah dan Kotoran Kerbau: Salah satu tradisi paling unik di Sade adalah membersihkan lantai rumah dengan kotoran kerbau nan dicampur air. Secara historis, ini dilakukan untuk memperkuat lantai tanah agar tidak mudah retak, mengusir serangga, dan dipercaya mempunyai nilai magis untuk menolak bala.
  • Pintu Rendah: Setiap tamu nan masuk kudu menunduk, nan melambangkan rasa hormat kepada pemilik rumah dan Sang Pencipta.

Struktur Sosial dan Tradisi nan Bertahan

Sejarah Desa Sade juga tidak lepas dari sistem sosialnya nan tertutup namun harmonis. Masyarakat Sade mempraktikkan sistem perkawinan nan unik, ialah perkawinan antar sepupu alias dalam satu rumpun family besar. Hal ini dilakukan secara historis untuk menjaga kemurnian garis keturunan dan memastikan kekayaan warisan serta tanah budaya tetap berada di lingkungan family Sade.

Selain itu, tradisi menenun (nyesek) bagi kaum wanita adalah tanggungjawab sejarah. Seorang wanita di Sade belum dianggap dewasa dan belum boleh menikah jika belum mahir menenun kain songket unik Sasak. Tradisi ini memastikan bahwa keahlian ekonomi dan seni budaya terus mengalir dari ibu ke anak wanita tanpa terputus oleh zaman.

Tantangan Pelestarian di Masa Depan

Kejadian kebakaran pada 22 Agustus 2026 merupakan sirine bagi upaya konservasi desa adat. Mengingat material gedung nan didominasi oleh bahan mudah terbakar seperti jerami dan bambu, akibat musibah selalu membayangi. Namun, sejarah membuktikan bahwa kekuatan masyarakat Sade terletak pada semangat gotong royong (besiru). Setiap kali ada kerusakan, penduduk bakal bahu-membahu membangun kembali sesuai dengan pakem budaya nan asli, memastikan bahwa sejarah mereka tidak bakal lenyap ditelan api.

Pelestarian Desa Adat

  • Restorasi Otentik: Memastikan pembangunan kembali menggunakan material tradisional (bambu, alang-alang).
  • Sistem Mitigasi Kebakaran: Pengadaan perangkat pemadam api ringan (APAR) nan disamarkan agar tidak merusak estetika desa.
  • Dokumentasi Digital: Pemetaan struktur desa secara 3D untuk referensi pembangunan jika terjadi bencana.
  • Edukasi Generasi Muda: Penguatan narasi sejarah kepada pemuda desa agar tetap bangga pada identitas Sasak.
Selengkapnya