Teleskop Luar Angkasa Roman divisualisasikan.(Studio Visualisasi Ilmiah Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA)
BADAN Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) bersiap meluncurkan observatorium antariksa utamanya nan terbaru, Teleskop Antariksa Nancy Grace Roman. Observatorium canggih ini dijadwalkan lepas landas menggunakan roket Falcon Heavy milik SpaceX dari Kennedy Space Center, Florida, menuju titik orbit nan berjarak sekitar 1,5 juta kilometer dari Bumi.
Berbeda dengan Teleskop Antariksa James Webb nan berfokus pada pengamatan area sempit secara mendalam, Teleskop Roman dirancang untuk pemetaan berskala besar. Observatorium ini mempunyai bagian pandang 100 kali lebih luas dibandingkan Teleskop Antariksa Hubble.
Dalam misi utamanya nan direncanakan berjalan selama lima tahun, Teleskop Roman diperkirakan bisa menangkap area langit 50 kali lebih banyak dibandingkan hasil tangkapan Hubble selama 30 tahun pertamanya. Dengan jangkauan tersebut, NASA memproyeksikan teleskop ini dapat memetakan sekitar 20 miliar bintang, mengukur sinar dari satu miliar galaksi, serta mendeteksi hingga 200.000 planet luar surya (eksoplanet) baru.
Secara visual, instrumen-instrumen pendukung Teleskop Roman terintegrasi dalam struktur wahana nan sekilas menyerupai helikopter. Bagian depan wahana berfaedah sebagai badan utama teleskop nan mengumpulkan sinar bintang menggunakan cermin utama berdiameter 2,4 meter, ukuran nan sama dengan cermin Hubble, serta cermin sekunder berdiameter 0,5 meter. Kedua cermin dipelihara pada suhu dingin sekitar -7 derajat Celsius untuk mencegah interferensi panas internal. Di bagian paling depan, terdapat Deployable Aperture Cover (DAC) nan berfaedah melindungi instrumen optik dari paparan sinar liar saat berada di orbit.
Kinerja utama observatorium ini ditopang oleh instrumen Wide Field Instrument (WFI). Kamera inframerah raksasa ini dilengkapi mosaik 18 detektor dengan total resolusi melampaui 16 juta piksel per detektor. WFI memungkinkan pengambilan gambar area langit nan lebih luas dari cakupan bulan purnama dalam satu kali paparan. Data dari WFI diharapkan dapat membantu para intelektual memahami struktur materi alam semesta sekaligus menguak misteri daya gelap.
Selain WFI, Teleskop Roman dilengkapi instrumen Coronagraph nan dijuluki "Starglasses". Instrumen ini berfaedah meredam silau sinar bintang induk sehingga keberadaan planet di sekitarnya dapat terdeteksi. Coronagraph menggunakan dua cermin elastis nan dikendalikan oleh ribuan aktuator mini secara real-time untuk mengoreksi bias cahaya.
Mengenai sistem kerja instrumen tersebut, Senior Project Scientist Misi Roman, Julie McEnery, memberikan penjelasannya.
"Saya menganggap ini seperti melakukan keajaiban dengan fisika. Kami memanfaatkan sifat gelombang sinar untuk membatalkan sinar dari bintang, sehingga kami dapat memotret planet di sebelahnya," ujar Julie McEnery.
Melalui teknologi ini, Teleskop Roman diharapkan bisa mengambil gambar langsung planet-planet berukuran sebesar Yupiter nan mengorbit bintang mirip Matahari, sekaligus menjadi pangkalan uji coba bagi teknologi observatorium masa depan.
Seluruh info hasil pengamatan instrumen tersebut selanjutnya dikirimkan ke Bumi melalui High-Gain Antenna (HGA) berdiameter 1,8 meter. Dilengkapi sistem gimbal bermotor, antena ini dapat terus mengarah ke stasion penerima di Bumi dengan kecepatan transmisi info hingga 500 megabit per detik. Integrasi seluruh komponen tersebut diproyeksikan menjadikan Teleskop Roman sebagai sarana krusial dalam memetakan galaksi, berburu planet baru, dan membedah rahasia kosmologi modern. (Space/Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·