Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beri Kuliah Umum di Universitas Jambi

1 jam yang lalu 2
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beri Kuliah Umum di Universitas Jambi Gubernur Jambi Al Haris dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Kampus Unja Telanaipura, Kota Jambi, Jumat (31/7).(Dok.Kominfo Provinsi Jambi)

JAMBI punya potensi besar. Keberadaan Candi Muaro Jambi, tradisi Melayu, dan keragaman etnis, ini adalah laboratorium hidup. Mahasiswa kudu turun langsung, meneliti, mendokumentasikan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai luhur itu!

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan perihal itu saat memberikan kuliah umum berjudul "Pemajuan Kebudayaan dalam Perspektif Ekonomi Budaya" kepada para civitas akademika Universitas Jambi di Auditorium Graha Singadekane, Telanaipura, Kota Jambi, Jumat (31/7).

Dalam kuliah umum nan dihadiri Gubernur Jambi Al Haris, Fadli Zon menekankan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan, melainkan fondasi pembangunan karakter bangsa nan tidak bisa dipisahkan dari kemajuan pendidikan.

“Kebudayaan adalah akar dari jati diri kita. Tanpa penguatan budaya, pendidikan bakal kehilangan arah, dan pembangunan karakter bangsa tidak bakal utuh,” ujar Fadli Zon.

Sebab itu, Fadli Zon mendorong agar perguruan tinggi aktif menjadi pusat kajian kebudayaan wilayah dan bekerja-sama dengan pemerintah wilayah dalam program pemajuan kebudayaan.

Saat memberikan kuliah umum, Menteri Fadli Zon memperkenalkan istilah baru untuk menggambarkan posisi Indonesia. Menurutnya, Indonesia tidak tepat disebut nation state, melainkan civilizational state alias negara peradaban.

“Menurut saya Indonesia ini bukan nation state, tapi civilizational state. Bukan negara, konsep negara nation state, tapi civilizational state, negara peradaban,” katanya.  

Fadli Zon juga menyoroti tiga tantangan besar pelindungan warisan budaya nan semakin kompleks. Yakni perubahan langkah produksi dan penyebaran pengetahuan akibat teknologi, tuntutan perguruan tinggi untuk melahirkan riset, inovasi. Serta talenta nan menjawab persoalan masyarakat.

“Di tengah kejuaraan pengetahuan dan teknologi digital global, gimana perguruan tinggi dan generasi muda Indonesia dapat datang sebagai produsen pendapat dan pembentuk narasi. Bukan follower, tapi pembentuk narasi dan penggerak masa depan kebudayaan dunia,” bebernya.(E-2)

Selengkapnya