Pov Bumi dari pesawat luar angkasa Link.(NASA)
UPAYA menyelamatkan teleskop antariksa Neil Gehrels Swift Observatory milik NASA mengalami halangan setelah wahana penyelamat berjulukan Link mengalami gangguan teknis ketika nyaris mencapai targetnya.
Insiden tersebut terjadi pada Sabtu (25/7), saat Link berada hanya beberapa mil dari Swift Observatory. Pesawat antariksa buatan Katalyst Space Technologies itu tiba-tiba berputar tidak terkendali sehingga menakut-nakuti jalannya misi nan bermaksud mengangkat kembali orbit teleskop agar tidak jatuh ke atmosfer Bumi.
Chief Executive Officer Katalyst Space Technologies, Ghonhee Lee, mengakui kondisi tersebut merupakan situasi nan sangat serius.
"Ini adalah situasi nan sangat serius," ujar Lee dikutip dari The New York Times.
Meski demikian, dia menegaskan tim insinyur tetap optimistis misi tersebut dapat dilanjutkan.
Saat mengalami gangguan, Link diketahui berputar satu kali setiap sekitar 40 detik. Tim teknis sekarang berupaya memperlambat putaran tersebut agar sistem kendali pesawat dapat kembali berfaedah dengan normal.
Dibangun dalam Waktu Singkat untuk Menyelamatkan Swift
Swift Observatory diluncurkan NASA pada 2004 untuk mengawasi ledakan sinar gamma (gamma-ray bursts), ialah kilatan sinar berenergi sangat tinggi nan muncul dari beberapa ledakan paling luar biasa di alam semesta.
Teleskop tersebut telah beraksi jauh melampaui usia desainnya. Karena itu, para perancangnya tidak pernah membayangkan Swift suatu hari memerlukan misi unik untuk meningkatkan kembali orbitnya.
Masalah muncul setelah aktivitas Matahari pada puncak siklus bintang surya 11 tahunan di akhir 2024 rupanya lebih kuat dari perkiraan. Peningkatan aktivitas Matahari memanaskan lapisan atas atmosfer Bumi sehingga atmosfer mengembang dan menciptakan halangan nan lebih besar bagi satelit di orbit rendah.
Akibatnya, orbit Swift terus menurun. NASA pun bergerak sigap mencari solusi dengan meminta perusahaan swasta mengembangkan misi pengamanan nan murah dan dapat diselesaikan dalam waktu singkat.
Katalyst Space Technologies kemudian memenangkan perjanjian tersebut dan sukses membangun Link hanya dalam sembilan bulan.
Sejak awal, NASA telah menyadari misi ini mempunyai akibat tinggi. Berbeda dengan misi antariksa pada umumnya nan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk pengujian, Link dikembangkan dalam waktu nan sangat terbatas sehingga sejumlah akibat teknis memang sudah diperhitungkan.
Direktur Divisi Astrofisika NASA, Shawn Domagal-Goldman, mengatakan tetap terdapat kesempatan agar misi pengamanan tetap berhasil.
"Masih ada beberapa jalan untuk melaksanakan peningkatan orbit, dan kami bekerja sangat erat dengan Katalyst untuk mempertimbangkan pendekatan nan telah direvisi. Sejak awal kami tahu misi ini bakal sangat menantang lantaran kudu diselesaikan dalam waktu nan belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, kami juga percaya upaya ini layak untuk dicoba," katanya.
Komunikasi Terputus Sehari Penuh
Gangguan mulai diketahui ketika pusat operasi Katalyst di Broomfield, Colorado, kehilangan komunikasi dengan Link.
Putusnya komunikasi sebenarnya bukan perihal nan luar biasa mengingat misi senilai sekitar US$30 juta alias setara sekitar Rp540 miliar tersebut tidak mempunyai sistem komunikasi nan aktif selama 24 jam penuh
Biasanya komunikasi hanya terputus selama 30 hingga 60 menit, alias paling lama tiga hingga empat jam. Namun, kali ini kontak dengan Link lenyap nyaris selama satu hari.
Ketika sebagian info akhirnya sukses diterima, tim menemukan bahwa pesawat antariksa tersebut sedang berputar tidak terkendali.
Menurut Lee, selama periode tanpa komunikasi itu Link sempat melakukan restart pada sistem kelistrikannya. Ia menduga proses tersebut menjadi penyebab utama munculnya sejumlah gangguan pada sistem wahana.
"Menghentikan reaction wheel tanpa kendali sama saja seperti mencabut stekernya begitu saja. Itulah bukan langkah komponen tersebut dirancang untuk bekerja," jelas Lee.
Hasil pemeriksaan juga menunjukkan dua dari tiga reaction wheel, ialah roda nan digunakan untuk mengatur arah pesawat antariksa, tidak lagi berfungsi. Selain itu, sistem pendorong gas (reaction control thrusters) juga bekerja secara tidak konsisten.
Meski begitu, Lee mengatakan timnya tetap berupaya mengaktifkan kembali kedua reaction wheel tersebut beserta sistem pendorong gas. Apabila upaya tersebut tidak berhasil, Link tetap mempunyai sistem propulsi listrik nan dapat digunakan sebagai pengganti untuk membantu mengendalikan pesawat.
"Itulah argumen kami tetap percaya bahwa semuanya belum berhujung dan kami tidak bakal menyerah," ujar Lee.
Waktu Penyelamatan Masih Tersisa
Akibat gangguan tersebut, agenda pertemuan Link dengan Swift Observatory diperkirakan mundur sekitar dua pekan menjadi akhir Agustus.
Sebelum melakukan manuver penangkapan, Link terlebih dulu bakal mengawasi kondisi Swift secara menyeluruh.
Saat ini Swift tetap mengorbit pada ketinggian sedikit di atas 320 kilometer dari permukaan Bumi dan kehilangan ketinggian sekitar 2,4 kilometer setiap pekan. Penurunan itu diperkirakan bakal semakin sigap ketika teleskop memasuki lapisan atmosfer nan lebih padat. (The New York Times/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·