Misteri Mojtaba Khamenei: Intelijen Memburu Keberadaannya dengan Tiga Teori

2 jam yang lalu 3
 Intelijen Memburu Keberadaannya dengan Tiga Teori Ali Khamenei dan Mojtaba Khamenei.(Al Jazeera)

SUDAH lebih dari lima bulan berlalu sejak Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara AS-Israel di Teheran pada 28 Februari. Namun, suksesi kepemimpinan di Republik Islam tersebut sekarang diselimuti misteri besar.

Fokus bumi tertuju pada putra sulungnya, Mojtaba Khamenei, nan secara teoritis telah mengambil alih kekuasaan sejak 9 Maret. Namun hingga kini, Mojtaba belum pernah menampakkan diri di depan publik.

Absensi nan Mencurigakan

Mojtaba, nan sekarang berumur 56 tahun, dilaporkan menderita luka wajah nan parah dan cedera signifikan pada kakinya dalam serangan nan menewaskan ayahnya. Sejak penunjukannya, dia tidak pernah muncul dalam video alias audio rekaman sekalipun. Pidato-pidatonya hanya dibacakan oleh penyiar televisi negara dengan menampilkan foto tetap di layar.

Ketidakhadirannya nan paling mencolok terjadi pada pemakaman ayahnya pada 4 Juli dan seremoni Nowruz pada 20 Maret. Padahal, dalam tradisi Syiah dan budaya Iran, menghadiri pemakaman ayah adalah tugas suci. Kegagalan ini memicu spekulasi kuat bahwa Mojtaba mungkin sedang dalam kondisi tidak berkekuatan (inkapasitasi) alias apalagi sudah tidak bernyawa.

Tiga Teori Keberadaan Mojtaba

Para pengamat intelijen dan master keamanan Barat memetakan tiga teori utama mengenai nasib sang Pemimpin Kardus, julukan nan diberikan oleh para aktivis lantaran absennya kehadiran bentuk Mojtaba:

  • Teori Pertama: Ia tetap hidup di Iran tetapi bersembunyi di bunker bawah tanah (mungkin di bawah Teheran alias dekat kota suci Qom) lantaran luka-lukanya terlalu parah untuk diperlihatkan ke publik.
  • Teori Kedua: Ia telah melarikan diri ke Rusia untuk mendapatkan perlindungan, mengikuti jejak beberapa pemimpin regional lain. Namun, teori ini dianggap mini kemungkinannya mengingat karakter para mullah nan jarang melarikan diri.
  • Teori Tercanggih: Mojtaba berada dalam kondisi koma alias tidak bisa menjalankan tugas dasar. Dalam skenario ini, perintah nan mengatasnamakan dirinya sebenarnya disusun oleh Ahmad Vahidi, Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), dan para jenderalnya.

Pergeseran Kekuasaan ke Tangan IRGC

Terlepas dari apakah Mojtaba tetap hidup alias tidak, pusat gravitasi kekuasaan di Teheran diyakini bergeser secara drastis. Iran sekarang dipandang sebagai negara praetorian di bawah kendali junta militer IRGC dengan kedok ulama.

IRGC bukan lagi sekadar unit militer. Mereka adalah imperium politik dan ekonomi nan menguasai sektor perbankan, energi, hingga telekomunikasi. Para ustadz di Qom dan Teheran secara sistematis mulai didorong ke pinggiran, sementara IRGC menggunakan nama Mojtaba hanya untuk menjaga kebinasaan kontinuitas rezim.

Indiferensi Rakyat Iran

Di tengah perburuan intelijen Barat nan mencoba melacak keberadaan Mojtaba melalui kurir kertas manual--metode nan mirip dengan Osama bin Laden--rakyat Iran justru menunjukkan sikap acuh tak acuh. Rumor mengenai orientasi seksual Mojtaba nan diklaim gay oleh beberapa sumber intelijen AS pun hanya ditanggapi dengan bahu terangkat oleh penduduk Teheran.

Bagi masyarakat setempat, identitas pemimpin tidak lagi relevan selama rezim tetap melakukan penindasan nan sama. "Apakah dia gay alias tidak, hidup alias mati, rezim bakal terus menghukum kami setiap hari," ujar seorang penduduk Teheran. Saat ini, Iran dipimpin oleh bayangan, sementara kekuatan nyata berada di tangan para jenderal nan mengendalikan negara dari kembali layar. (Daily Mail/I-2)

Selengkapnya