Nasib Guru Swasta Jangan Dilupakan

3 jam yang lalu 4
Nasib Guru Swasta Jangan Dilupakan (MI/Seno)

GURU merupakan fondasi utama nan memastikan keberlangsungan nilai, ilmu, dan karakter bangsa. Dalam menyikapi perubahan era dan kompleksitas tantangan, pembimbing berkedudukan sentral sebagai pemasok pembelajaran dan penjaga peradaban. Begitulah pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti dalam pidato upacara Hari Guru Nasional 2025.

Pernyataan Mendikdasmen tersebut sangat tepat lantaran di kembali kemajuan pendidikan Indonesia, ada jutaan pembimbing nan setiap hari berdiri di depan kelas, mereka mendidik, membimbing, dan menanamkan angan kepada anak-anak bangsa. Namun, dalam kesempatan ini penulis menyoroti bahwa tidak semua pembimbing menjalani kehidupan dengan tingkat kesejahteraan nan sama. Di antara mereka terdapat para guru swasta nan selama bertahun-tahun menjadi bagian krusial dari sistem pendidikan nasional, tetapi nasib mereka sering kali belum mendapatkan perhatian nan sepadan.

Guru swasta bukan pembimbing kelas dua. Mereka bagian integral dalam sistem pendidikan Indonesia. Mereka sama-sama menjalankan amanah pendidikan, sama-sama menghadapi tuntutan profesional, dan sama-sama bertanggung jawab membentuk masa depan generasi bangsa. Perbedaan status kepegawaian tidak semestinya menjadi argumen untuk membedakan penghargaan terhadap pengabdian mereka.

PENOPANG PENDIDIKAN NASIONAL

Sekolah dan madrasah swasta, alias nan bukan negeri, mempunyai peran nan sangat besar dalam menyediakan akses pendidikan bagi masyarakat. Di banyak daerah, terutama wilayah terpencil, di wilayah nan jauh dari pusat kota, sekolah swasta dan madrasah justru menjadi pilihan utama masyarakat.

Di kembali lembaga-lembaga swasta tersebut terdapat guru-guru nan bekerja dengan penuh dedikasi. Mereka datang ke sekolah setiap pagi, mengajar, memeriksa tugas, membimbing siswa, mengikuti rapat, mengikuti pelatihan, dan apalagi sering mengeluarkan tenaga dan biaya sendiri untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Ironisnya, sebagian pembimbing swasta tetap kudu menerima penghasilan nan jauh dari layak. Ada nan dibayar berasas jumlah jam mengajar. Ada nan menerima honor ratusan ribu nan tidak sebanding dengan beban pekerjaan nan sangat berat. Ada pula pembimbing senior nan telah mengabdi puluhan tahun, tetapi tetap menghadapi ketidakpastian mengenai masa depan kesejahteraan mereka.

HARGAI PENGABDIAN

Kebijakan pendidikan di Indonesia sering kali berbincang tentang peningkatan mutu guru. Guru dituntut mempunyai kompetensi pedagogis, profesional, sosial, dan kepribadian. Mereka juga dituntut bisa beradaptasi dengan teknologi dan perubahan zaman.

Penulis setuju bahwa semua tuntutan itu memang penting. Namun, ada satu pertanyaan mendasar: gimana kita dapat menuntut pembimbing memberikan pendidikan terbaik, konsentrasi dan serius dalam mengajar andaikan kehidupan mereka sendiri belum memperoleh kepastian dan penghargaan nan layak dari negara.

Karena itu, kebijakan peningkatan kualitas pembimbing kudu melangkah beriringan dengan peningkatan kesejahteraan mereka. Guru swasta perlu mendapatkan perhatian nan lebih serius dalam kebijakan nasional. Pemerintah tidak cukup hanya memperhatikan pembimbing nan berstatus aparatur negara (ASN). Namun, negara juga kudu memandang guru-guru swasta dari perspektif pekerjaan dan pengabdian, bukan hanya memandang semata-mata sebagai status kepegawaian mereka.

NEGARA HADIR UNTUK GURU

Penulis memahami bahwa pemerintah tentu mempunyai keterbatasan anggaran dan kudu membikin beragam prioritas. Namun, sektor pendidikan merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan suatu bangsa. Karena itu, kesejahteraan pembimbing semestinya kudu mendapat perhatian utama dan ditempatkan sebagai bagian integral dari pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Yang diperlukan bukan sekadar support sesaat, melainkan kebijakan nan memberikan kepastian dan penghargaan terhadap pekerjaan pembimbing swasta.

Pertama, perlu ada sistem nan lebih setara untuk meningkatkan pendapatan pembimbing swasta, terutama mereka nan telah lama mengabdi dan mempunyai kompetensi nan memadai.

Kedua, akses pembimbing swasta terhadap pengembangan profesional, sertifikasi, pelatihan, dan peningkatan kompetensi kudu terus diperluas tanpa diskriminasi.

Ketiga, perlu ada perhatian unik terhadap pembimbing swasta nan mengajar di sekolah-sekolah kecil, wilayah terpencil, dan lembaga pendidikan nan secara ekonomi sangat berjuntai pada keahlian masyarakat.

Keempat, pemerintah perlu membangun sistem pekerjaan nan lebih jelas sehingga pembimbing swasta mempunyai masa depan ahli nan dapat direncanakan.

Yang tidak kalah penting, sekolah alias yayasan penyelenggara pendidikan juga kudu menjalankan tanggung jawab mereka. Kesejahteraan pembimbing tidak boleh seluruhnya dibebankan kepada pemerintah. Pengelolaan lembaga pendidikan nan bisa kudu dilakukan secara sehat, transparan, dan berorientasi pada penghargaan terhadap tenaga pendidik.

DEDIKASI JANGAN JADI PENGORBANAN

Kita sering memuji pembimbing sebagai 'pahlawan tanpa tanda jasa'. Ungkapan itu memang indah, tetapi jangan sampai menjadi argumen untuk membiarkan pembimbing terus-menerus berkorban tanpa memperoleh penghargaan nan layak. Profesi pembimbing memang mengabdi. Namun, pembimbing juga manusia nan mempunyai keluarga, kebutuhan hidup, dan masa depan.

Guru nan sejahtera bukan berfaedah pembimbing nan materialistis. Guru nan sejahtera adalah pembimbing nan dapat menjalankan profesinya dengan tenang, bermartabat, dan berkonsentrasi pada tugas utamanya: mendidik anak bangsa untuk memajukan peradaban.

JANGAN ADA GURU YANG MERASA DITINGGALKAN

Momentum pembenahan pendidikan nasional kudu menjadi kesempatan untuk menegaskan kembali bahwa tidak boleh ada pembimbing nan merasa ditinggalkan. Guru ASN kudu mendapatkan perhatian. Guru honorer kudu mendapatkan perhatian. Guru swasta juga kudu mendapatkan perhatian.

Kita patut mengapresiasi beragam langkah pemerintah selama ini meningkatkan kesejahteraan pembimbing non-ASN. Namun, pekerjaan rumah mereka belum selesai. Masih diperlukan kebijakan nan lebih menyeluruh agar pembimbing swasta memperoleh kepastian, kesempatan berkembang, dan penghargaan nan layak.

Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan gedung sekolah nan megah, kurikulum nan baik, alias akomodasi teknologi pendidikan nan canggih. Masa depan Indonesia juga sangat ditentukan para pembimbing nan setiap hari berhadapan langsung dengan anak-anak bangsa di ruang kelas.

Guru swasta bukan pelengkap pendidikan nasional. Mereka bagian integral dan bagian krusial dari kekuatan pendidikan Indonesia. Karena itu, nasib pembimbing swasta jangan dilupakan.

Selengkapnya