Negara di Ujung Tanduk, 500 Ribu Warga Bangkrut-Bank Terancam Krisis

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Rusia menghadapi ancaman krisis serius. Bahkan negara ini diyakini nyaris masuk lembah resesi.

Hal ini mengenai laporan intelijen baru berjudul "Catatan tentang kemungkinan krisis perbankan di Rusia pada tahun 2026", nan dilihat laman Reuters dan dipublikasikan Selasa (7/7/2026). Disebut gimana separuh juta penduduk Rusia, namalain 500.000, ambruk tahun lampau sementara bank-bank menghadapi akibat krisis.

Kebangkrutan tersebut dikatakan membikin memburuknya pinjaman upaya dan meningkatkan utang rumah tangga Rusia. Moskow, tulis catatan itu, mendekati potensi kehancuran keuangan.

"Dokumen tersebut disiapkan oleh negara Eropa nan tidak disebutkan namanya," tulis laman tersebut, dimuat juga beberapa media asing lain seperti Telegraph.

"Bank-bank Rusia berada di bawah tekanan nan semakin besar lantaran Kremlin mendorong mereka untuk tidak melakukan pemeriksaan angsuran normal dan mengeluarkan pinjaman bersubsidi kepada perusahaan pertahanan dan pembeli rumah untuk meningkatkan perekonomian dan mendanai perang," tambahnya.

"Artinya, mereka sekarang terbebani dengan utang macet ketika perekonomian sedang ambruk," muat catatan tersebut.

"Situasi ini menciptakan ilusi ekonomi bergerak yang, pada kenyataannya, menyembunyikan situasi eksplosif nan dapat dipicu oleh guncangan ekonomi, seperti paket hukuman ambisius terhadap bank."

Meski demikian, diakui pemerintah melakukan sejumlah perihal untuk "menutupi" realita tersebut. Ada sejumlah program seperti angsuran negara, restrukturisasi pinjaman, dan support pemerintah, meski ditegaskan bahwa kelanjutan jangka panjang kebijakan dipertanyakan.

"Porsi pinjaman korporasi nan mungkin tidak bakal pernah dilunasi, melonjak menjadi 10%... Ban besar telah memperingatkan bahwa sebanyak 15% pinjaman konsumen mereka bermasalah," katanya.

"Lebih dari 13 juta orang Rusia mengambil setidaknya tiga pinjaman simultan tahun lampau atas dorongan dari program negara," tambahnya.

Perlu diketahui, pada bulan Mei, Kementerian Ekonomi Rusia memangkas perkiraan resmi pertumbuhan PDB tahun ini dari 1,3% menjadi 0,4% dan dari 2,8% menjadi 1,4% pada tahun 2027. Banyak analis beranggapan bahwa situasinya jauh lebih jelek daripada info resmi dan negara ini mungkin sudah berada dalam resesi.

Sementara itu, laporan datang saat para pejabat Uni Eropa (UE) sedang berbincang menargetkan 90 bank Rusia baru untuk disanksi. Akan ada total 100 bank nan masuk daftar hitam.

Hal ini berfaedah berakibat pada lebih dari separuh bank-bank Rusia nan terhubung secara internasional. UE juga berencana untuk menargetkan jaringan mata duit kripto, penyulingan dan pedagang minyak, serta produsen drone.

Sebelumnya, Pusat Analisis Makroekonomi dan Peramalan Jangka Pendek (CMASF) Rusia, nan bekerja sama dengan Kremlin, menerbitkan sebuah laporan pada bulan Februari nan memperingatkan bahwa "krisis perbankan sekarang telah terkonfirmasi". Hal ini didasarkan pada arti teknis CMASF bahwa lebih dari sepersepuluh kitab pinjaman bank tidak mungkin dilunasi.

The Moscow Times melaporkan pada bulan Mei bahwa jumlah bank nan merugi di Rusia telah melonjak dari 34 pada bulan Januari menjadi 60 pada awal Maret, setara dengan satu dari lima.

Angka ini merupakan nan tertinggi sejak tahun 2022, ketika Rusia pertama kali terkena gelombang hukuman Barat setelah invasi besar-besaran Putin ke Ukraina.

Data Bank Sentral Rusia juga mengungkapkan bahwa masyarakat Rusia menarik 381,2 miliar rubel (sekitar Rp 78,1 triliun0 dari sistem perbankan pada bulan Mei, nan merupakan penarikan tunai terbesar pada bulan Mei sejak info dimulai pada tahun 1995, nan menunjukkan bahwa rumah tangga menjadi gelisah.

(tfa/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya