ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan lonjakan nilai minyak dan gas bumi menjadi penyebab utama defisit neraca perdagangan Indonesia. Kenaikan nilai daya tersebut mendorong nilai impor migas meningkat dan akhirnya membalikkan posisi neraca jual beli RI ke area merah.
Meski demikian, Airlangga optimistis kondisi tersebut hanya berkarakter sementara. Ia berambisi nilai daya dunia kembali stabil seiring meredanya bentrok di Timur Tengah setelah muncul kesepakatan gencatan senjata (ceasefire).
"Jadi akibat dari perubahan mungkin nilai minyak, jadi ini ya langsung berdampak. Tentu kita berambisi rencana mereka untuk ceasefire perdamaian itu kita lihat lagi, sebulan dua bulan," kata Airlangga saat ditemui di kantornya, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Menurut Airlangga, esensial perdagangan Indonesia sebenarnya tetap cukup kuat. Hal itu tercermin dari neraca perdagangan nonmigas nan tetap mencatatkan surplus, ditopang oleh ekspor komoditas unggulan nasional.
"Kalau kita lihat neraca non-migas kan tetap positif, sekitar 2 jutaan ya. Kalau kita lihat nomor nan lain, ekspor misalnya kita punya CPO, batubara, dan ferro alloy relatif juga angkanya sama," ujarnya.
Untuk mengurangi tekanan dari kenaikan impor akibat mahalnya nilai minyak, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, salah satunya melalui pemberian insentif bagi industri petrokimia nan banyak menggunakan bahan baku impor turunan minyak.
"Impor bahan baku kan petrochemicals, petrochemicals itu turunan daripada minyak," ucap Airlangga.
Ia menjelaskan pemerintah tengah menyiapkan kebijakan pembebasan tarif masuk sementara untuk sejumlah produk petrokimia guna menekan biaya produksi sekaligus mengurangi dampaknya terhadap inflasi.
"Makanya kan pemerintah lagi siapin biar masuknya kita nol-kan dulu sejenak untuk 6 bulan dan itu kan juga sundulannya ke inflasi," ujar Airlangga.
Terkait implementasinya, Airlangga mengatakan pemerintah tetap menunggu publikasi Peraturan Menteri Keuangan (PMK) sebagai dasar norma kebijakan tersebut.
"Kita lagi menunggu proses PMK-nya. Jadi jika itu selesai, ya mudah-mudahan itu bakal mengurangi tekanan," imbuhnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar. Defisit ini menjadi nan pertama setelah Indonesia menikmati surplus perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
BPS mencatat nilai impor Indonesia pada Mei 2026 mencapai US$24,81 miliar, lebih tinggi dibandingkan nilai ekspor nan sebesar US$23,20 miliar.
(haa/haa)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·