ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$ 1,61 Miliar pada bulan Mei 2026. Ini adalah defisit pertama Indonesia sejak 72 bulan lamanya.
Pembalikan ini didorong oleh kontraksi ekspor nan mencapai 8.30% secara bulanan (mtm) dan tahunan -5.73% (yoy).
PT Bank Central Asia Tbk., dalam catatan ekonomnya Jennifer Calysta Farrell dan Victor George, menilai penurunan ekspor sebagian didorong oleh CPO nan mengalami penurunan sebesar 26,85% secara bulanan (mtm).
"Hal ini disebabkan oleh beberapa aspek seperti akibat cuaca, kenaikan nilai pupuk (penggunaan berkurang sehingga mempengaruhi produktivitas) dan melambatnya permintaan dari negara-negara besar seperti India, Tiongkok, dan Amerika," tulis Jennifer dan Victor, dikutip Jumat (3/7/2026).
Ke depan, BCA memandang ekspor menghadapi sejumlah hambatan. Pertama, dengan kebijakan The Fed nan lebih hawkish, dan juga bank sentral lainnya, permintaan dunia bisa melambat. Kedua, program wajib biodiesel B50 dapat berakibat pada alokasi CPO untuk ekspor selain aspek cuaca nan sedang berlangsung.
Ketiga, kepastian kebijakan mengenai pembatasan produksi dan ekspor komoditas seperti batu bara dan nikel. Keempat, pengaruh keberadaan Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) nan mungkin bakal mempengaruhi neraca perdagangan pada Juni.
Di sisi lain, BCA menilai kenaikan impor dapat terus berlanjut, dengan tingginya shopping pemerintah nan bisa mengimbangi akibat depresiasi mata duit terhadap permintaan.
"Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan feedback loop nan mengarah pada pelemahan rupiah, nan kami perkirakan bakal diatasi dengan tambahan kenaikan suku kembang kebijakan BI sebesar 50 bps pada tahun ini," ujar Jennifer dan Victor.
Nilai tukar rupiah sukses mengawali perdagangan jelang akhir pekan dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Merujuk info Refinitiv, mata duit Garuda pada pembukaan perdagangan Jumat (3/7/2026) menguat 0,27% alias terapresiasi ke level Rp17.940/US$.
Penguatan ini membalikkan posisi rupiah pada penutupan perdagangan sebelumnya. Pada Kamis (2/7/2026), rupiah ditutup melemah 0,32% ke posisi Rp17.988/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), nan mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata duit utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,05% ke level 100,803.
RI Butuh Inflow Asing Besar
Sementara itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai pelemahan rupiah nan tetap terjadi saat ini perlu dilihat sebagai bagian dari proses penyesuaian pasar keuangan, bukan sebagai gambaran memburuknya esensial ekonomi Indonesia.
Menurutnya, Indonesia saat ini telah memasuki fase stabilisasi setelah beragam penyesuaian kebijakan moneter dan pengelolaan likuiditas nan dilakukan Bank Indonesia.
"Menurut saya, kita mulai memandang sinyal nan positif. Investor asing telah kembali masuk ke pasar obligasi pemerintah dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa pasar mulai mengapresiasi perubahan arah kebijakan nan dilakukan otoritas, terutama dalam pengelolaan likuiditas serta upaya mengembalikan sistem pembentukan nilai nan lebih sehat di pasar obligasi," ujar Fakhrul.
Ia menjelaskan bahwa proses stabilisasi nilai tukar tidak terjadi secara instan. Dalam kondisi saat ini, pasar obligasi menjadi aspek nan paling menentukan arah rupiah lantaran merupakan pintu masuk utama bagi aliran modal portofolio asing.
"Rupiah pada dasarnya sedang menunggu capital inflow nan lebih besar. Untuk menghasilkan arus masuk modal nan berkelanjutan, pasar obligasi Indonesia perlu menawarkan tingkat imbal hasil nan cukup menarik dibandingkan akibat dunia nan tetap tinggi. Investor asing memang mulai kembali membeli obligasi Indonesia, namun menurut saya proses tersebut tetap berada pada tahap awal."
Lebih lanjut, kata Fakhrul, koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menjadi sangat krusial pada fase ini. Kedua lembaga perlu memberikan ruang bagi terbentuknya tingkat imbal hasil obligasi nan mencerminkan kondisi pasar sehingga Indonesia kembali mempunyai daya saing dibandingkan negara-negara emerging markets lainnya.
"Konsistensi merupakan aspek nan sangat penting. Ketika Bank Indonesia telah memperketat likuiditas dan pasar mulai melakukan penyesuaian, maka proses tersebut perlu dijaga hingga selesai. Apabila terjadi inkonsistensi kebijakan nan kembali menahan kenaikan imbal hasil sebelum waktunya, maka proses masuknya penanammodal asing dapat kembali tertunda dan hasil stabilisasi rupiah menjadi tidak optimal."
Ia menambahkan bahwa Indonesia saat ini telah bergerak dari fase tekanan menuju fase stabilisasi. Namun stabilisasi tersebut tetap memerlukan satu tahapan penting, ialah meningkatnya aliran modal asing ke pasar obligasi pemerintah sehingga bisa memperkuat keseimbangan di pasar kurs asing.
"Yang dibutuhkan saat ini bukan intervensi tambahan, melainkan konsistensi kebijakan. Ketika pasar memandang bahwa proses normalisasi betul-betul dijalankan secara konsisten oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan, kepercayaan penanammodal bakal meningkat, capital inflow bakal semakin besar, dan rupiah bakal memperoleh fondasi nan jauh lebih kuat."
Menurut Fakhrul, selama proses tersebut berjalan volatilitas nilai tukar tetap bakal dipengaruhi oleh perkembangan global, terutama ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve. Namun dari sisi domestik, fondasi stabilisasi mulai terbentuk dan downside rupiah dinilai semakin terbatas dibandingkan beberapa bulan lalu.
"Menurut saya, tantangan berikutnya bukan lagi menghentikan tekanan terhadap rupiah, tetapi membangun kepercayaan penanammodal bahwa proses normalisasi pasar obligasi bakal dijalankan secara konsisten hingga Indonesia kembali menjadi salah satu tujuan utama investasi portofolio di kawasan," paparnya.
"Ketika capital inflow kembali menguat, rupiah bakal memperoleh support nan jauh lebih kokoh dan proses stabilisasi bakal semakin berkelanjutan," tutup Fakhrul.
(haa/haa)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·