Jakarta, CNBC Indonesia - Kawasan Uni Eropa (UE) sekarang tengah dihadapkan pada ancaman krisis pangan nan mengerikan. Para produsen pertanian di seluruh penjuru benua telah memperingatkan adanya penurunan tajam dalam hasil panen nan diyakini oleh para ahli ekonomi bakal memicu lonjakan nilai kebutuhan pokok konsumen dalam beberapa bulan mendatang.
Mengutip Russia Today, Selasa (18/8/2026), krisis mengerikan ini terjadi sebagai buntut dari rentetan gelombang panas ekstrem nan tiada henti menghantam Eropa pada musim panas tahun ini.
Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa mencatat bahwa bulan Juni dan Juli lampau merupakan rekor bulan terpanas dalam sejarah Eropa Barat. Pihaknya memperingatkan bahwa akibat berkepanjangan dari gelombang panas ini tetap bakal terus membayangi sebagian besar wilayah Eropa sepanjang bulan Agustus hingga September.
Dampak kehancuran ini sangat terasa di Prancis nan merupakan salah satu negara produsen biji-bijian terbesar di UE. Menurut survei pengetahuan bumi nasional, persediaan air tanah di sebagian besar wilayah negara tersebut telah terkuras parah pada awal Agustus.
Prince de Bretagne, sebuah koperasi petani utama di Brittany, memperingatkan terjadinya krisis sayuran nan bersejarah. Mereka memproyeksikan penurunan hasil panen musim panas ini mencapai 40% untuk kacang polong, 60% untuk brokoli, dan antara 50% hingga 100% untuk tanaman artichoke.
Presiden Unilet nan merupakan asosiasi produsen sayuran kaleng dan kaku terkemuka di Prancis, Eric Legras, menyebut bahwa panas nan sangat ekstrem ini juga telah menghantam wilayah utara dan barat daya Prancis.
"Krisis ini sangat luar biasa," tegasnya.
Di sektor lain, para peternak juga memperingatkan adanya defisit produksi pakan hijauan nan kian membengkak menjelang musim dingin. Komite Nasional Promosi Telur Prancis apalagi memperkirakan bahwa gelombang panas telah memangkas hasil produksi harian hingga sekitar satu juta butir telur, sementara peternakan unggas melaporkan tingkat kematian nan sangat tinggi.
Bencana serupa juga melanda wilayah utara Italia nan selama ini menjadi rumah bagi salah satu area penanaman padi utama di Eropa. Asosiasi petani terbesar di negara itu, Coldiretti, membeberkan bahwa krisis kekurangan air telah membikin beberapa sawah hancur total.
"Padi betul-betul mati, terbakar, dengan kondisi beras nan mengering," ungkapnya.
Lebih lanjut, para petani di Spanyol juga melaporkan penurunan nan cukup besar dalam hasil panen sereal mereka, serta mengalami defisit pakan ternak. Sementara itu, Asosiasi Petani Jerman pada hari Selasa memberikan peringatan bahwa produksi biji-bijian di negaranya bakal turun sebesar 7% alias lebih rendah 3,3 juta ton dibandingkan tahun lalu. Wilayah selatan Jerman nan terdampak paling parah apalagi berpotensi mengalami kandas panen secara total.
Di negara tetangganya, Polandia, media upaya Puls Biznesu pada bulan lampau telah memprediksi bahwa kekeringan nan berkepanjangan ini dapat memaksa negaranya menjadi jauh lebih berjuntai pada impor bahan pangan dari luar.
Secara keseluruhan, para analis di Zurich Insurance Group beserta sejumlah bank di Eropa telah mengestimasi bahwa rentetan gelombang panas mematikan ini dapat menguras kantong Uni Eropa antara 50 miliar euro alias sekitar Rp1.037,35 triliun hingga 180 miliar euro alias sekitar Rp3.734,46 triliun.
(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

8 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·