ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas pemerintah Iran secara resmi menyatakan menolak untuk berjumpa langsung dengan para utusan unik Amerika Serikat (AS) nan baru saja diterbangkan ke Timur Tengah. Sikap keras Teheran ini seketika menyelimuti masa depan kesepakatan tenteram permanen kedua belah pihak dengan ketidakpastian nan mendalam pasca-pecahnya ketegangan militer sepanjang akhir pekan lalu.
Mengutip laporan Reuters, Selasa (30/06/2026), para pejabat tinggi Iran menegaskan bahwa kedua negara saat ini tetap kudu berfokus memetakan ulang draf dan ketentuan gencatan senjata nan telah mereka tanda tangani dua minggu lalu.
Pihak Iran menolak melangkah ke topik perundingan nan lebih berat-seperti pembatasan program nuklir miliknya, sebelum masalah teknis krusial tersebut dibereskan, nan membuktikan bahwa kedua pihak tetap berbeda mengerti mengenai pilar utama kerangka kerja awal kesepakatan 60 hari tersebut.
"Tidak ada pertemuan di tingkat mana pun dengan pihak Amerika nan dijadwalkan untuk beberapa hari mendatang," tegas ahli bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.
Kondisi ini bertolak belakang dengan rencana Gedung Putih, di mana menantu Donald Trump, Jared Kushner, berbareng utusan unik Steve Witkoff sebenarnya telah mendarat di Doha, Qatar, untuk agenda nan diklaim AS sebagai obrolan "tingkat tinggi".
Namun, pemerintah Iran serta Qatar selaku tuan rumah mengonfirmasi bahwa tim utusan AS tersebut hanya bakal ditempatkan untuk berjumpa dengan pihak mediator internasional, bukan berhadapan langsung dengan delegasi Iran.
Iran Berkeras Kuasai Selat Hormuz
Meskipun arus pelayaran kapal tanker komersial dunia dilaporkan mulai pulih sebagian setelah sempat lumpuh sejak perang pecah pada 28 Februari lalu, pihak Teheran secara sepihak berkeras untuk mempertahankan kewenangan penuh dalam mengontrol lampau lintas maritim di Selat Hormuz berbareng Oman.
Para pejabat Iran apalagi menakut-nakuti bakal memberlakukan quote tarif tol bagi kapal asing di jalur daya nan menguasai seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) bumi tersebut pada pertengahan Agustus kelak saat periode gencatan senjata berakhir.
"Kedaulatan Selat Hormuz berada di tangan Iran dan Oman, dan lampau lintas di Selat tersebut tunduk pada pengaturan nan ditentukan oleh Iran," tegas kepala negosiator Iran, Mohammed Baqer Qalibaf, dalam siaran televisi negara.
Meskipun diplomasi berada di ujung tanduk, nilai minyak mentah bumi dilaporkan tetap mengalami penurunan moderat setelah sempat bergolak akibat tindakan saling serang antara jet tempur AS ke akomodasi pesisir Teheran serta serangan rudal balistik Iran ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.
Kendati pasar daya mulai relaks, Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) memperingatkan bahwa negara-negara dengan ekonomi rentan tetap berada dalam bayang-bayang akibat lonjakan inflasi pangan dan bahan bakar nan dipicu oleh perang terbuka ini.
Sektor ekonomi nan babak belur ini menempatkan Donald Trump di bawah tekanan politik nan masif menjelang pemilihan paruh waktu (midterm) AS pada November mendatang nan menentukan kendali atas Kongres AS, di mana Trump berbareng Menteri Keuangan Scott Bessent sekarang gencar memaksa pengecer bensin menurunkan nilai jual.
Di sisi lain, draf kesepakatan awal AS-Iran ini sebenarnya diharapkan bisa menghentikan perang antara Israel dan milisi Hezbollah di Lebanon. Meski begitu, Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri selaku sekutu Hizbullah menyuarakan keraguan besar atas draf tenteram buatan AS tersebut lantaran dinilai berisiko menciptakan kebuntuan baru dengan mengaitkan penarikan mundur pasukan Israel terhadap pelucutan senjata Hizbullah di Lebanon selatan.
(tps/tps)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·