Operasi Pesta Copet Bukan Sekadar Film Kriminal, tapi Potret Realitas Sosial Anak Muda

1 jam yang lalu 4
Operasi Pesta Copet Bukan Sekadar Film Kriminal, tapi Potret Realitas Sosial Anak Muda Produser Ernest Prakasa, berbareng aktris Kawai Labiba, dan Zulfa Maharani memaparkan latar film, pendalaman karakter, serta potret tekanan sosial nan menjadi dasar pengembangan movie Operasi Pesta Copet dalam Content Day di Kopikina Kemang, Jakarta, Kamis ((MI/Chatrine Simanjuntak)

MEMAHAMI argumen seseorang memilih menjadi pencopet menjadi titik tolak pengembangan cerita Operasi Pesta Copet. Melalui riset nan mencakup kriminalitas, kriminologi, hingga observasi langsung ke permukiman pinggir rel, cerita movie berkembang menjadi potret tekanan sosial nan dihadapi anak muda.

Sutradara Edy Khemod mengatakan tim imajinatif semula melakukan riset dari beragam sisi, mulai dari kriminalitas, kriminologi, hingga sosiologi. Namun, di tengah proses penulisan naskah, dia merasa pembahasan mengenai aspek norma bukan lagi menjadi konsentrasi utama film.

"Kita lebih tertarik soal sosiologinya. Apa nan bikin orang nyopet? Kenapa ini kejadian sosial nan banyak terjadi di anak muda sekarang? Itu menurut gue lebih menarik," katanya.

Perubahan tersebut semakin terasa ketika Edy melakukan survei ke area permukiman di pinggir rel nan menjadi latar cerita. 

Pengalaman memandang langsung kehidupan masyarakat di sana membuatnya mengubah pendekatan movie nan semula dibangun sebagai komedi ringan.

"Gue bikin story-nya mereka tinggal di pinggir rel. Gue jadi ke rumah-rumah nan ada di pinggir rel, gue ngeliat, 'aduh iba banget ya hidup mereka kayak apa.' Gue jadi ngeliat kayak ini memang a real social issue. Dari situ gue kayak merubah. Tadinya gue ngerasa bikin cerita copet ini agak lucu-lucuan, kayak karikatural. Oh tapi rupanya di sini ada rumor sosial," ujar Edy.

Menurut Edy, empati menjadi kunci dalam membangun nuansa komedi di tengah kisah nan sarat tekanan sosial. Ia mengaku pernah mengalami masa susah dan berbaur dengan orang-orang nan hidup di lingkungan keras sehingga lebih mudah memahami langkah pandang para karakter.

"Empati sih kuncinya. Gue pernah berada di situasi itu, pernah berkawan sama orang nan tukang malak. Jadi gue bisa mengerti, mereka sebenarnya punya kemampuan, tapi salah lingkungan dan salah pergaulan."

Untuk menghadirkan gambaran nan lebih autentik, tim produksi juga menggandeng organisasi pesulap guna mempelajari teknik pickpocketing agar segmen pencopetan dilakukan langsung oleh para pemain. 

Menurut Edy, langkah itu diambil lantaran produser Ernest Prakasa menginginkan proses pencopetan terlihat nyata tanpa mengandalkan hasil penyuntingan.

"Ernest menekankan dari awal dia enggak mau pencopetan dilakukan oleh editor. Jadi betul-betul nyopet dilakukan langsung. Akhirnya kami bekerja sama dengan teman-teman organisasi pesulap," ujarnya.

Sementara itu, produser Ernest Prakasa mengatakan movie ini berupaya memandang sisi lain para pelaku pencopetan, termasuk argumen nan mendorong mereka terjerumus ke bumi tersebut.

"Bagaimana mereka terpaksa melakukan copet itu alias mereka memang ikut abang-abangan mereka untuk melakukan tindakan itu," ujar Ernest.

Menurutnya, riset dilakukan agar movie dapat menggambarkan kejadian tersebut berasas realitas nan ditemukan di lapangan, bukan sekadar menampilkan tindakan kriminal.

Ernest juga menambahkan, sejak tahap pengembangan skenario, tim telah berulang kali mendiskusikan rumor kejahatan dan kesenjangan sosial agar pesan nan disampaikan tetap konsisten dan tidak disalahartikan.

Karakter Jadi Cermin Pergulatan Anak Muda

Pesan tersebut juga tercermin pada karakter-karakter dalam movie Kawai Labiba mengaku pengalaman berkesenian di bumi teater sejak mini membantunya membangun karakter Melodi, terutama melalui eksplorasi gestur tubuh dan langkah berbincang agar tokoh tersebut terasa hidup.

Menurut Kawai, Melodi bukan sekadar personil termuda dalam golongan pencopet amatir, tetapi juga mewakili anak muda nan tengah mencari arah hidup di tengah beragam tekanan.

"Melodi itu paling bontot, aktif, ekspresif, dan menurutku cukup mewakili anak muda nan baru lulus sekolah, lagi berapi-api, lagi mencari tahu banyak hal. Dia juga sangat suka musik."

Setelah mendalami karakter tersebut, Kawai mengaku semakin memahami pergulatan nan dialami banyak anak muda saat ini.

"Mereka sebenarnya capek sama kehidupan nan dijalani. Kadang bertanya, 'gue sebenarnya mau jadi apa?' Mereka bisa melakukan apa pun untuk memperkuat hidup, apalagi untuk mengeksplorasi diri."

Pandangan serupa juga disampaikan Zulfa Maharani nan memerankan Tia. Menurutnya, Tia merupakan wanita dengan hatikecil memperkuat hidup nan kuat, tetapi tidak mempunyai banyak pilihan sehingga berupaya mencari jalan keluar dari kondisi hidupnya.

Untuk menghidupkan karakter tersebut, Zulfa menjalani proses reading, workshop, obrolan berbareng sutradara dan konsultan, hingga melakukan observasi langsung ke lingkungan nan dinilai dekat dengan kehidupan Tia. 

Ia juga menilai waktu latihan nan panjang membantu para pemain membangun kedekatan sehingga hubungan antartokoh terasa seperti keluarga, bukan sekadar komplotan.

"Kami dikasih waktu nan panjang untuk reading dan workshop. Itu otomatis membangun chemistry di antara kami semua," pungkasnya.

Selengkapnya